Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 45


__ADS_3

MASIH CERITA DI MASA SMA


***


Jubaedah : Nold, jemput ....


"Calvin klein...," gumam Haris sambil bangkit dari duduknya di sofa.


Karena Haris sudah tidak sekolah di sekolah formal seperti Jasmin, cowok itu kini memiliki banyak waktu luang, selain sebagai ojek Mamanya dan Airin, Haris juga getol banget jadi ojeknya Jasmin kalau anak itu pulang bimbel.


Haris tidak dapat menolak permintaan sahabatnya, sebab bagi Haris ini adalah caranya untuk meminta maaf pada Jasmin secara diam-diam.


Haris merasa bahwa dirinya terlalu ikut campur urusan kehidupan pribadi Jasmin selama ini, dan Haris sudah berjanji jika kemarin adalah kali terakhir baginya untuk melindungi Jasmin dari orang-orang jahat.


Haris kangen bangku sekolah, Haris kangen kantin dan Haris kangen suasana ramenya gerbang saat sekolah bubar. Cowok itu duduk di atas motornya sambil menunggu Jasmin yang minta dijemput untuk muncul dari kerumunan, tetapi setelah sepuluh menit menunggu Jasmin tak kunjung muncul.


"Buset, si Jubedah ke mana sih?!" Haris menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sejak tadi dia menjadi pusat perhatian cewek-cewek di sekolah Jasmin.


Ya gimana tidak ribut sih, Haris nya ganteng banget gini loh. Haris tahu betul kalau secara tampang dia itu adalah tipe ideal semua hamba Allah khususnya kaum hawa.


Cluk kucluk kucluk, Jasmin muncul dengan lari kecil, tas ransel mungil di belakang punggungnya sedikit naik turun saat berlari. Gadis itu nyengir menampilkan senyumnya dengan pipi tembem terangkat menggemaskan.


Haris menyebikan bibirnya. “Buruan naik, mau ujan bentar lagi."


"Galak banget sih.“


Jasmin naik dengan berpegangan pada sebelah bahu Jasmin dan langsung duduk saat kakinya berhasil menjangkau step motor.


"Enak banget sih, lu mah home schooling. Nggak kayak gue, sekolah umum terus, nggak ada istimewa-istimewanya!" keluh Jasmin saat Haris baru saja menjalankan motornya untuk keluar dari komplek sekolah.


"Ada plus minusnya juga sih... ya akibatnya gue bete di rumah terus. Lu kan enak bisa jajan, sama wara-wiri dulu.“


"Hehe.. iya sih... lu kapan Un?"


"Dua bulan lagi...."


"Loh, terus un nya gimana?"

__ADS_1


"Ya ngerjain soal."


"Dih. Teknisnya?" tanya Jasmin sambil mencondongkan kepalanya ke depan, hampir saja pipinya menabrak pipi Haris.


"Ntar gue nebeng ke sekolah lain atau mungkin gue Un ke dinas pendidikan langsung, sama pengawas di sana.“


"Oooh... eh Ris, anterin dulu dong ke toko buku.“


"Tumben...."


"Hehe... iya dong, mau beli sesuatu."


"Apaan?"


"Hmmm ada deh...."


"Jangan lama-lama atau gue tinggalin!"


"IH Haris kan pake motor CBR, nggak boleh galak!"


"Apa hubungannya make motor CBR jadinya nggak boleh galak, wahai Jubaedah?!"


"Dua tiga irfan bachdim, astagfirullahaladzim...."


***


Toko buku sepulang sekolah di musim ujian sangatlah sepi, hanya segelintir anak berseragam sekolah yang memilah buku-buku pelajaran, sisanya mereka malah asik nongkrong dibagian rak buku komik dan fantasi. Seperti halnya Haris yang kini membaca sebuah komik jadul yang masih terpajang di toko buku tersebut.


Haris melirik ke sana kemari saat satu komik habis dibacanya. Namun, ada yang aneh di sana, Haris tidak mendengar ocehan Jasmin sejak dirinya tiba di toko.


"Masa si Jasmin kehalangan rak buku sih, nasib punya temen pendek ya Allah," keluh Haris sembari memanjangkan seinchi lehernya sambil berjinjit untuk mencari posisi Jasmin.


Jasmin yang melihat Haris tampak kebingungan tersenyum kecil, dan menghampiri cowok itu dengan genit, yang Jasmin pikir tingkahnya itu tidak akan membuat Haris kesemsem padanya.


"Ke mana aja sih lu?" tanya Haris saat anak perempuan berzodiak Capricorn dan penyuka warna hitam itu muncul di hadapannya.


Jasmin nyengir, "Ih, galak. Emang nggak liat gitu perubahan dari diri gue?" tanya Jasmin sambil memainkan helaian rambut panjangnya

__ADS_1


Haris menilik penampilan kawannya dengan seksama. "Berubah jadi power ranger pink?”


Jasmin menyebikan bibirnya dan menendang kecil kaki panjang Haris sampai cowok itu meringis. "Ck.... gue udah lucu kayak tokoh utama tokyo mew mew gini, masa dikata berubah jadi ranger pink. Nih, gue ganti baju pake dress... hehe, gimana lucu nggak?"


Haris menyembunyikan senyumnya, Haris yakin kok Jasmin pasti mau ngedate sama Kai, makannya dandan totalitas banget kek mahasiswa mau demo ke Senayan. Percuma Haris memuji atau memberikan Jasmin komentar layaknya seorang cowok pada cewek yang ditaksirnya.


Memang sih, benar kata orang-orang kalau Jasmin itu lucunya pakai kuadrat, alias lucu banget. Tapi...


"Iya deh lucu-lucu, kek bayi umur empat bulan. Mau ke mana kita?" tanya Haris setelah mengembalikan semua kesadarannya.


"Hmmm, enaknya ke mana, ya?” Jasmin mengetuk-ngetuk dagu dengan jari kecilnya, dan senyum kecil kembali tercipta.


"Kita ngedate yuk?“


"Eh... h-hah? ngedet?" Haris bingung sekaligus kaget.


Jasmin mengangguk kecil. "Hmmm...."


"Sama lu?"


"Iya, sama siapa lagi!" bentak Jasmin marah.


"Gue? Ngedate sama lu?" ujar Haris dengan tampang super nyebelin.


"Iya, ada promo di cafe baru yang di Cihampelas itu, gue pengen ke sana."


"Ck, sendiri aja sih. Napa ngajak-ngajak gue. Enggak ah!" tolak Haris dengan menepis pelan tangan Jasmin yang hampir menggapainya.


"Ih Arnold mah... harus sama pasangan biar bisa dapet promonya."


“Ajak si Kai aja sih, kenapa harus gue."


Jasmin cemberut. "Dianya nggak bisa...," jawab Jasmin lemah.


Haris melirik pada Jasmin yang sepertinya sudah susah payah mengganti pakaian dengan dress pink, karena kasihan dan gemas juga pada sahabatnya akhirnya Haris mengalah, daripada Jasmin ngadu ke maminya lebih baik Haris berkorban saja kali ini.


"Yaudah ayo ayo...."

__ADS_1


"Beneran?!" Jasmin terlihat senang dan menatap sahabatnya itu dengan efek anime blink-blink di kedua pelupuk mata sipitnya.


Haris mengangguk. “Iya, sebelum gue berubah pikiran."


__ADS_2