
MASIH CERITA DI MASA SMA
***
Lima anak laki-laki berseragam putih abu tampak berkumpul di sebuah tempat rental game yang letaknya tidak jauh dari sekolah sambil menikmati minuman dan tentu saja beberapa di antaranya ada yang sibuk dengan gadgetnya.
Hujan deras yang mengguyur diluar sama sekali tidak membuat ke lima pemuda itu terganggu, malah obrolan semakin asik menjelang sore.
"Eh, nyokap gue nyuruh balik nih... suruh beli kecap juga lagi!" Salah satu di antaranya membuka percakapan lain, membuat ke-empat pemuda lain tampak kecewa.
"Elaah. Ini anak mami satu. Ntar dulu, si Kai belum balik... bilang aja ke nyokap lu, di sini ujannya deres," beritahu kawannya yang bertubuh jangkung dengan tampang agak playboy.
"Iya, diem dulu kek. Lumayan kan, kalo si Kai nggak jadi putusin ceweknya, kita masing-masing menang taruhan itu."
"Eh katanya, pacar taruhan si Kai itu temennya si Haris, ya?"
"Ah masa sih? Hahaha... kalo beneran itu cewe temennya Haris, makin aja dia nggak berani putusin."
"Pacarnya Haris kali. Haris kemarin jemput soalnya."
"Mana ada Kai mau berbagi. Di antara kita cuma dia doang yang paling over ke ceweknya, dia nge treat ceweknya kek bidadari cuy, giliran kalo udah bosen, udah pasti di hempas macem syahrini, hempas manjaa...."
Tawa lepas muncul di tempat rental game itu tercipta, tentu karena topik mengenai taruhan Kai dengan kawan-kawannya, tentang Jasmin yang hanya menjadi bahan taruhan iseng teman satu geng Kai.
Kai datang dengan gontai, pakaiannya basah kuyup, tas ransel yang tersampir di pundaknya pun tampak meneteskan air hujan ke atas lantai. Kai disambut dengan tepuk tangan kawannya yang sudah tak sabar mendapatkan uang taruhan. Jumlahnya tak sedikit untuk ukuran anak SMA, cukup untuk membeli ponsel canggih keluaran terbaru saat itu.
__ADS_1
"Wuidih... tampaknya ada wajah wajah kekalahan nih." Rian, ya cowok jangkung semangat itu adalah Rian, ketua geng yang narsis abis dan tak jauh beda sifatnya seperti Kai. Rian tampak tak sabar untuk menerima kekalahan Kai dan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan dari hasil taruhan.
"Ke mana aja lu? Emak gue udah nyuruh balik aja nih, buruan, lu jadi gak mutusin cewe itu?!"
"Iya nih diem aja. Duduk-duduk... nih bersiin dulu muka lu pake tisu."
Kai duduk di kursi yang telah disediakan, lalu mengeluarkan HP dan memutar video dengan rekaman tak jelas.
Video itu hanya menampilkan sebagian wajah Jasmin yang sedih saat Kai memutuskan hubungan mereka. Ekspresi kecewa muncul di wajah ke-lima teman-teman Kai karena kalah taruhan.
"Eh... diputusin juga... emang bener-bener lu," puji Rian sambil mengacungkan jempol. Cowok itu kemudian mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan, begitupun teman teman Kai yang lain, sehingga uang terkumpul cukup banyak. Namun, tak ada sepatah katapun muncul dari bibir Kai, cowok itu tertunduk seperti sangat menyesali sesuatu.
"Nih Bro... duitnya. 3 juta kan?"
Kai mengangguk. "Thanks...."
"Rian...," panggil Kai lemah.
"Kenapa?"
Kai mengembalikan uang itu pada Rian, membuat cowok itu menaikan sebelah alisnya bingung.
"Gue... nggak butuh duit ini... Gue juga...."
Rian tersenyum kecut. "Jangan bilang lu beneran suka sama cewek itu?!"
__ADS_1
Kai menunduk.
"Get a life Bro, cewek banyak. Lu masih 18 tahun buat jatuh cinta!"
Kai menggigit bibir bawahnya, bingung melanda otaknya sehingga dia ikut terbawa oleh kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Lu pake duit itu, kita ikhlas kalah, demi lu!" tambah Rian sambil menepuk bahu Kai.
"Gue keluar dari geng ini."
"Hah?"
"Gue keluar dari geng ini, dan gue mau fokus sama orang yang gue suka."
"Lu gila? karena taruhan biasa dan karena cewek yang baru lu kenal itu... lu keluar dari circle kita?"
"Udah cukup Rian, sorry...." Kai pergi begitu saja, Rian memperhatikan dengan tatapan tak percaya pada sahabat kentalnya itu. Tampak ke-empat kawan lainnya membuat ekspresi wajah yang sama.
Saat Kai sampai di parkiran rental game, sebuah motor menepi tepat di hadapan kedua kaki Kai, nyaris motor itu menabrak jika saja si pengendara tidak menghentikannya dengan tepat.
Kai mendongak, melihat seseorang yang nyaris membunuhnya itu adalah Haris yang menatapnya dingin nan menyeramkan.
"Anjing, lu!" ujar Haris dengan suara pelan, tetapi cukup untuk membuat Kai terkejut. Haris turun dari motor dan melepas helmnya, dengan satu ayunan keras helm itu berhasil mendarat di pipi sebelah kiri Kai sampai Kai tersungkur ke tanah yang basah.
Keributan langsung terjadi tanpa dapat terhindar, Kai yang tidak terima dipukul balas menarik kerah kaus yang dikenakan Haris dan meninju Haris dengan sekuat tenaga. Pertengkaran antar remaja memang cukup mengerikan sehingga orang-orang hanya dapat menonton dengan ngeri. Beruntung Rian dan teman-temannya segera memisahkan dua orang yang berkelahi itu, terlebih Haris yang tidak dapat mengontrol amarahnya sama sekali.
__ADS_1
Karena lemahnya perlawanan diawal, Kai akhirnya pingsan di tempat parkir tersebut setelah Haris berhenti menyerangnya. Rian membawa Kai ke rumah sakit, sementara Haris diamankan polisi.