Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
PART 72 : Reuni


__ADS_3

Balik ke tempat kerja Haris yang seperti biasanya, di toko banyak orang yang lihat-lihat. Ya lihat-lihat barang lah masa lihat-lihat yang punya.


Haris duduk di meja kerjanya sambil menggambar pola sebuah kursi kayu, ya seperti biasa kerjaan Haris ini ya bikin ukiran dulu di komputer pakai drawing app dan ukur material yang akan dipakai sebagai bahan baku kursi. Sebenernya kerjaan Haris ini bisa di rumah, tetapi kalau di rumah tidak bisa konsentrasi, ditambah lagi Haris ini sedang kejar target untuk bisa beli mobil sebelum lebaran. Ditambah lagi Haris juga udah jadi suami, dia merasa bertanggung jawab untuk menafkahi dirinya dan keluarganya. Ya pokoknya Haris ini udah mantep banget lah kek anak STM mau tawuran, sudah banyak akomodasi.


"Selamat datang di Ri's Furniture, di mana kualitas kayunya sekeras ketampanan pemiliknya!" suara sambutan pelayan toko membuat pekerjaan Haris terhenti sementara, ada tamu ke lima belas hari ini ke toko. Lumayan juga, batin Haris sambil tersenyum.


"Bos, ada tamu." Chen si resepsionis ganteng mengabari Haris setelah mengetuk pintu ruang kerja Haris. Jadi Chen ini cowok blasteran China Jawa.


"Tak suruh masuk sini," jawab Haris sambil menutup PCnya.


Tamu masuk sambil tersenyum girang, ternyata Ravi yang sudah janjian dengan Haris untuk acara reuni yang akan digelar kurang lebih dua bulan mendatang.


"Wah jadi ini singgasana Pak Haris Airlangga." Ravi berdecak kagum melihat ruang kerja Haris yang sekarang jauh lebih cantik, karena terpajang foto pernikahan Haris dan Jasmin di dinding, ukurannya segede baliho dan dibingkai oleh kayu cendana dengan ukiran sangat bagus dan antik.


"Sudah hentikan pujianmu!" balas Haris sambil menghampiri Ravi dan mereka berdua duduk di kursi.


"Gimana nih Ris, angkatan kita cowoknya cuma lu doang yang belom files buat reuni." Setelah lama ngobrol tentang kerjaan masing-masing, sampailah pada inti kedatangan Ravi menghampiri Haris.


Haris mengendikkan bahunya cuek. "Gue kan bukan alumni SMA itu, lu tahu kan pas mau UN banget gue dikeluarin, haha."


Ravi jadi sedih denger cerita Haris. "Bini lu pasti mau sih dateng," bujuk Ravi saat mengingat Jasmin adalah istri Haris.


"Ah mana mau dia. Mantannya kan ada di sono."


Ravi tersenyum jahil. “Ah, itu palingan elu yang gamau dateng ajak Jasmin... wkwkwk, takut kalah saing kan lu." Ravi menyenggol lengan Haris membuat Haris tersenyum miring.


"Kalah saing? Hahaha... sorry ya, Jasmin juga tahu kali kalau gue awet dan tahan lama."


"Eh btw Mina itu siapa sih?" tanya Ravi tiba-tiba.


Haris langsung diam tawanya punah. "Heh... Mina?"


"Yoi... dia DM gue kemarin di IG. Nanyain elu...."


"Mantan gue... hehe." Haris tersenyum dipaksakan.


"Serius?! Lu punya mantan?" Ekspresi Ravi lebay banget sampai melotot.


"Iya mantan gue. Cuma bentar, sebulanan doang gitu."


"Woalah, fakboi euy temen gue," ejek Ravi masih dengan senyum jahilnya.


"Fakboi apaan."


"Ya fakboi lah pacaran sebulanan doang. Netflix aja minimal 6 bulan. Ini sebulan wkwkw kek trial time."

__ADS_1


"Lu yang mutusin?" tanya Ong lagi.


Haris menggelengkan kepalanya. “Bukan... dia yang mutusin gue, hehe."


"Dia dm lu apaan?"


"Nanyain gue temen lu apa bukan. Kata gue iya, temen SMA sama kuliah. Dia gak bales lagi,“ jawab Ravi kemudian yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Haris.


***


Jasmin bergelayut manja di pinggang Hani, sejak kedatangannya ke rumah orang tuanya itu Jasmin tidak pernah membiarkan Hani seorang diri, bahkan ketika Maminya kini masak pun Jasmin temani sampai ke dapur dan memeluk pinggang Maminya dari belakang tidak mau lepas.


"Mih... Kak Airin masa mau foto maternity sama Kak Surya, anaknya pasti cakep banget ya Mih."


Hani cekikikan, “Iya kemarin Airin cerita kalo Surya udah booking studio buat maternity tambah photoshoot. Mami belum sempet ke rumah Airin lagi."


Jasmin cemberut, selalu aja kak Airin dan kak Surya yang dibahas, Mami aja ini masak buat Kak Airin. Apa karena Airin hamil jadinya kasih sayang Hani tumpahnya ke Airin sama Surya doang?


"Lusa mami sama papa mau ikut babymoon Airin ke Bali. Mau ikut gak?" tanya Hani sambil memasukkan hasil masakannya ke dalam wadah cantik tahan panas.


Jasmin mengendikan bahunya malas. “Enggak ah...."


"Kenapa? Seru loh. Mertuamu yang bayarin, punya mertua pengusaha travel manfaatin, Min."


"Ngapain ikut babymoon. Mending di Bandung, dingin. Bali mah panas."


Jasmin tuh kepengen ikut, tetapi males banget kalo ntar di sana Mami lebih perhatian ke Airin.


***


Pukul 8 malam Haris yang sudah menutup toko dan selesai dengan pekerjaannya menjemput Jasmin di rumah Hani, dengan menggunakan motor perjalanan dari rumah Hani ke rumah baru Haris dan Jasmin jauh lebih cepat, sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka.


"Laper nih... maem yuk,“ ajak Haris pada istrinya yang sejak tiba di rumah masih asik duduk termangu depan TV.


"Nggak mood."


Haris menghela napas. "Napa lagi sih Jubaedah?"


Jasmin ikut menghela napas dan menatap suaminya yang duduk tepat di hadapannya.


"Kesel sama mami Nold, katanya lusa sekeluarga mau ke Bali buat anterin babymoon kak Airin."


Haris membalas, “Keselnya kenapa? Lu gak diajak?"


"Diajak sih, tapi gue nolak."

__ADS_1


"Lah kenapa nolak? Lusa kan weekend. Mau ikut ayok aja yuk," ujar Haris.


"Gue mau diajaknya sambil dipaksa,“ jawab Jasmin polos yang mengundang tawa kecil Haris.


"Hahaha... gue aja yang paksa kalo gitu," balas Haris tak kalah gemas pada Jasmin.


Jasmin masih cemberut.


"Yuk ah, laper gue... makan nih keburu pingsan ntar."


Jasmin berdiri dan hendak menyiapkan makanan untuk Haris, tenang gaes Haris gak makan telur lagi malam ini, hehe.


Haris tersenyum lega, menu makan malam hari ini adalah 'mie tektek bang baek' yang kedainya berada tepat di depan rumah mereka. Mienya masih mengepul panas dan Jasmin menyajikannya ke atas piring, dua porsi dalam satu piring, dimakan berdua.


"Kebiasaan makan sepiring berdua," komentar Haris saat istrinya duduk di sampingnya berdempetan.


Jasmin nyengir. "Biarin... kan romantis, hehe."


Haris menyebikan bibirnya, "Bukan romantis sih ini, lu mah males nyuci piring. Gelas aja satu berdua."


"Hehe Arnold tahu banget sih tentang Jasmin, jadi terharu, aaaa...." Jasmin menyuapkan satu sendok penuh mie dan kornet ke mulut Haris, Haris menerimanya dengan baik dan lahap karena lapar banget.


"Nggak kerasa, besok udah ganti bulan ya," kata Haris sambil menyuapkan satu sendok mie ke mulut Jasmin.


Jasmin mengangguk, tetapi setelahnya gadis itu kaget bukan main.


"Hah?" kata Jasmin kaget dan langsung menelan Mie yang belum sempat ia kunyah.


"Heem."


Kepala Jasmin rasanya berdenyut-denyut antara kaget dan khawatir jadi ngaruh juga sama kepala.


"Ris...."


"Napa?"


"Habis makan ke apotek ya."


"Lu sakit?" Haris menyentuh kening Jasmin dan merasakan suhu tubuh istrinya, Jasmin langsung menepis tangan Haris dan menggigit bibir bawahnya dramatis.


"Keknya, gue ketularan kak Airin deh."


"Hah? ngomong yang bener Min, Airin kenapa?"


"Keknya lu hamilin gue Ris... gue udah telat 11 hari."

__ADS_1


"Astagfirullah... gue gak nyangka bisa hamilin temen sendiri," ucap Haris dengan nada kaget campur lemes.


__ADS_2