Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
PART 73 : Dua garis


__ADS_3

Rumah megah pemberian Sainal atas hadiah pernikahan untuk Haris dan Jasmin sekarang dibiarkan kosong. Hal itu dikarenakan Haris yang sudah tidak sreg lagi untuk tinggal di sana. Alasannya bukan hanya satu, melainkan banyak... pertama, rumah itu terlalu besar untuk menjadi tempat tinggal Jasmin dan Haris yang hanya berdua, terus rumah itu juga pernah kerampokan dan Jasmin hampir menjadi korban, ketiga... Haris dan Jasmin sudah sepakat untuk tidak dekat-dekat dengan Airin maupun Surya, sehingga kini rumah itu kosong dan sepasang suami istri itu lebih memilih tinggal di rumah baru yang jauh lebih kecil.


Sekarang Haris sedang berada di sebuah apotek yang berada di seberang rumah barunya, lelaki itu tampak menunggu pesanannya yang sedang diambilkan oleh penjaga apotek. Setelah dua menit menunggu, si penjaga kembali dengan senyum kecil dibibirnya. "Ini ada dua jenis tespeknya... dua-duanya yang paling akurat A," jelas si penjaga pada Haris yang menilik-nilik bungkus tespek dengan bingung.


"Ini ada petunjuk penggunaannya?" tanya Haris dengan dahi mengernyit.


Si penjaga yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki itu pun ikutan bingung. "Ehmm... mungkin istrinya tahu."


Haris berdecak, "Ouh iya ya... Jasmin kan cewek, hehe... yaudah, saya ambil dua-duanya."


"Oke...." pelayan membungkus pesanan dan memberikannya pada Haris, lalu Haris membayar dan segera meninggalkan apotek untuk menyerahkan tespek pada Jasmin.


Di rumah, Jasmin tidak bisa diam, dia terus berdiri di depan kalender yang menampilkan tanggal 31 Maret yang akan segera berganti pada 1 April. Ini sih gila, sudah sebelas hari sejak tanggal menstruasi Jasmin tiba justru dia belum ada tanda-tanda akan datang bulan lagi. Jasmin memejamkan matanya dengan bingung, masalahnya kalo hamil gimana? Pernikahannya dengan Haris itu baru aja akur, kalau ada bayi gimana? Kalau Jasmin hamil gimana?


Jasmin kan belum siap untuk jadi Mama. Ah, Jasmin bahkan tidak pernah ngebayangin kalau dia bakal jadi gendut, buncit dan manja-manja sama Haris yang sama sekali tidak dewasa.


"Min!" Haris menepuk bahu Jasmin yang membuat Jasmin nyaris saja loncat karena terkejut.


"IH... salam kek!" bentak Jasmin dengan jengkel sambil mengusap dadanya.


Haris nyengir, "Nih tespeknya," kata Haris enteng.


Jasmin menghela napasnya gusar, lalu menerima tespek pemberian Haris dan menggenggamnya erat. "Kalau dua garis gimana?" tanya Jasmin dengan bingung sembari mendongak.


Haris tersenyum. "Ya enggak apa-apa."


"Ish... kok ga apa-apa? emang lu siap jadi bapak?"


Haris agak berpikir. “Ya mau gimana lagi sih kalau lu hamil. Kan kita udah begitu Min, ya pasti resikonya enak, sama hamil."


Jasmin mencubit pinggang Haris yang membuat Haris justru tertawa kecil.


"Ris... gue belum siap... gimana dong?"


Haris kemudian menangkup kedua pipi Jasmin dan mengusapkan ibu jarinya dengan lembut. "Ini pasti yang terbaik kok... apa pun hasilnya, gue dukung! Hehe, cuma dukung aja tapi...."


PLAR PLAK


"Rese Lu!"


Brak!


Jasmin memasuki kamar mandi setelah menepis dan menampar lengan Haris, gadis itu segera menggunakan tespek sesuai anjuran dari artikel yang ia baca setelah makan malam tadi.


Sementara Jasmin di dalam, Haris menunggu hasilnya di luar pintu kamar mandi. Jujur saja, Haris pun merasakan rasa cemas seperti Jasmin, ada rasa tidak siap ketika membayangkan kalau nanti Jasmin hamil dan mereka akan jadi sosok orang tua. Terlebih lagi Haris yang harus menjadi Papa padahal sikap Haris pun amat sangat kekanakan selama ini.


"Jasmin... gimana Min hasilnya?" Haris mengetuk pintu dengan pelan, takut kena sembur Jasmin lagi.

__ADS_1


Sejak tadi tidak ada suara apa pun selain suara aliran air yang pelan dari dalam, Haris menempelkan telinganya pada pintu dan menajamkan pendengarannya.


"Sayang?" panggil Haris sedikit manis.


Di dalam sana Jasmin memejamkan matanya, tespek ditangan sudah dibiarkan 2 menit sejak Jasmin melakukan tes. Jasmin mengabaikan panggilan Haris, dan tetap teguh pada pendiriannya untuk duduk di atas dudukan toilet.


"Sayang...," panggil Haris lagi.


"Jangan bikin panik dong."


"Minn...."


Jasmin membuka mata perlahan, dengan tangan gemetaran gadis itu mengangkat tespek persis ke hadapan wajahnya, dan....


Cklek!


Jasmin membuka pintu, mendapati Haris sedang nyengir, tetapi wajah pria itu tampaknya sedikit panik juga karena hampir setengah jam Jasmin mengurung diri di kamar mandi.


"Gimana?" tanya Haris pelan.


Jasmin berhambur pada pelukan Haris yang membuat Haris langsung bengong ditengah rasa penasarannya.


Tespek ditangan Jasmin pun Haris ambil sebab Haris amat penasaran dengan hasilnya. Haris tersenyum lembut saat melihat hasilnya, dua garis merah sangat jelas tergambar di sana.


"Gue hamil... hiks... gue hamil anak lu!" ucap Jasmin sambil sesenggukan dalam pelukan Haris.


"Ye, selamat... gimana rasanya hamil anak gue Min?" ujar Haris nyebelin.


Haris buru-buru mengusap air mata Jasmin dengan jemarinya, masih di depan kamar mandi sepasang suami istri muda itu berbalas senyum jengkel, terutama Jasmin sih, kalau Haris lebih kalem dan sepertinya Haris pun tidak keberatan sama sekali dengan kehamilan Jasmin.


"Udah jangan nangis... terharu ya?"


Jasmin mengangguk. "Heem...."


"Gimana ya reaksi mami sama papa, kalau tahu lu hamil, hehe," kekeh Haris sambil mengusap-usap belakang kepala Jasmin dengan lembut.


Jasmin mendongak untuk menatap wajah Haris, lalu mengerucutkan bibirnya, "Pasti rusuh!" ucap Jasmin masih dengan sedikit isakan.


***


Jasmin masih belum memejamkan kedua matanya saat waktu menunjukkan pukul 11 malam, ia masih senang bergelut dengan pikirannya sendiri tentang kehamilan yang akan ia hadapi. Usia 24 tahun dan kini Jasmin mengandung, dan suaminya si Haris yang sekarang sedang asik main mobile game. Haris menguap, dia mematikan Hpnya dan beralih pada Jasmin.


"Heh, lu belum tidur dari tadi?!" tanya Haris kaget ketika mendapati Jasmin masih membuka kedua matanya.


Jasmin menoleh dan masih anteng dengan wajah cemberutnya.


"Lu berisik!" omel Jasmin sambil mendelik.

__ADS_1


Haris mengerutkan dahi. "Gamenya gak pake suara Sayang... berisik darimananya?"


"Berisik... pikiran lu kedengeran!"


Haris tertawa kecil, “Widih, semenjak hamil 4 jam lalu, istriku ini jadi bisa baca pikiran. Hehe... sorry, kesel ya?"


"Pake nanya lagi Ris... udah ah kesel!" Jasmin terus marah-marah dan ngomel. Ibu hamil emang begini kali ya?


Haris dengan sabar langsung merebahkan dirinya di sisi Jasmin dan meraih tangan istrinya itu dengan lembut. “Sensi banget ya hamil anak gue?" tanya Haris dengan perhatian.


Jasmin terdiam, lalu mengangguk dipaksakan.


"Gue takut manja," curhat Jasmin.


Haris tertawa. "Lah kok takut manja?"


"Kak Airin bilang, kalo lagi hamil itu bawaannya pengen manja terus sama suami, gamau ditinggal, gamau dicuekin, maunya disayang-sayang, makan mau disuapin, ke mana-mana maunya ditemenin."


"Gue pikir, hamil kok ngeri sih Ris... ntar lu ngejekin gue gendut gimana?"


"Hahahaha...." pecah tawa Haris di atas kasur.


Jasmin memperhatikan tawa suaminya itu dengan raut wajah kesal.


"Min... Min... gue juga gak bakal cuek kali sama lu, gue bakal berusaha jadi suami pengertian."


"Beneran?"


Haris angguk-angguk. “Iyaa... tapi, kalo ngejekin lu gendut sih kayaknya bisa aja sekali dua kali, hehe."


"Ih tuhkannn, belum apa-apa udah kepikiran mau ngejekin?!"


"Gue becanda Sayang, tidur yuk?” bujuk Haris sambil menutupi tubuh Jasmin dengan selimut.


Jasmin menghela napasnya lagi, lalu menatap ke bawah di mana perutnya masih sangat rata. Haris mengikuti arah pandang Jasmin dan mengusap perut Jasmin yang tertutupi selimut katun yang tipis.


Jasmin tersenyum begitupun Haris saat tidak sengaja kedua mata mereka bertatapan.


"Besok kita ke dokter, periksa umur kandungannya. Udah gak usah panik, jangan parno-parnoan juga...," beritahu Haris, dan sepertinya itu lumayan membuat Jasmin tenang.


"Aa?"


"Hmmm."


"Peluk boleh?"


Haris terkikik, "Boleh... nih, badan Aa untukmu seutuhnya."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


'Gue becanda Sayang.' hehe, jule.


__ADS_2