Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 70 : Rumah baru


__ADS_3

Dua Minggu kemudian


Haris datang menemui Hani dan Dimas, tentu saja ditemani Fani yang dari awal sudah mendukung semua keputusan yang akan diambil oleh anak semata wayangnya ini.


Terlihat Hani dan Airin sedang merapikan hasil belanjaan untuk si jabang bayi yang sudah semakin membesar di dalam kandungan Airin, dua wanita itu sepertinya sering menghabiskan waktu berdua selama Jasmin tidak ada di rumah.


"Ya ampun, jadi inget dulu terakhir punya bayi 24 tahun yang lalu... nih, warna warna soft pastel gini cocok buat bayi perempuan Rin," beritahu Hani sambil melipat dan mengusap-usap pakaian bayi.


Airin tersenyum kecil. "Iya mah... mamah pasti bakalan repot kalau ngurusin bayi lagi sekarang."


"Ah, Mama sih seneng kalo ada bayi di rumah.. gak akan repot, malah bikin betah."


"Surya sih pengennya kita punya nanny."


Hani melotot kaget. "Kenapa? Mama masih sanggup kok urus bayi."


Airin manggut-manggut dan tersenyum sambil mengusap perut buncitnya, ia tidak sabar untuk melihat sosok bayi mungil hasil buah cintanya dengan Surya.


"Loh, ada Haris." Ketika Airin tengadah, ia menemukan Haris sudah berdiri di samping Hani yang sedang sibuk merapikan pakaian.


Haris tersenyum canggung ke arah Airin, mendengar nama Haris disebut Hani pun ikut mengalihkan pandangannya.


Haris menelan ludah susah payah, Hani diam dengan raut datar menatapnya.


"Mih...," ujar Haris dengan suara pelan.


Kini Haris dan Hani duduk saling berhadapan, Hani menyilang lengannya di depan dada sementara Haris hanya berani menunduk.


"Jadi... seminggu lalu... Haris baru pulang ke Bandung."


Hani menghela napasnya dan menatap Haris yang mulai bicara.


"Langsung urus masalah penjualan buat beberapa mebeul yang dikirim ke Kalimantan sama Jakarta."


"Mau gimana lagi Mih... Haris butuh uang buat nafkahin Jasmin. Makanya, Haris baru ke sini temuin Mami," ujar Haris dengan gugup. Walau pun sudah latihan, pada akhirnya Haris itu tetep takut sama Hani. Masalahnya ini persoalan masa depan, Haris harus hati-hati.


Hani mengusap wajahnya dengan gusar, ada dua bintik air mata saat ia mengingat Jasmin yang sudah menikah dengan sosok anak lelaki di hadapannya. Anak lelaki yang sudah ia tahu sejak kecil bahkan, kini Jasmin sudah Hani kirim ke tempat ayahnya yang sangat jauh, membuat Hani pun merasa bersalah.


"Haris akan berusaha jadi suami yang baik buat Jasmin... tolong, kasih Haris kesempatan buat bahagia sama Jasmin, dan bikin Jasmin seneng tinggal sama Haris." Haris memberanikan diri untuk menatap Hani, wajah cemas Haris begitu jelas dapat Hani lihat dengan kedua mata dan kepalanya.


"Udah punya uang?" tanya Hani tiba-tiba.


"Eh, gimana Mih?"


"Itu, kamu udah punya uang buat jemput Jasmin ke Belanda? Katanya habis jual mebeul banyak.... tadi Fani kasih tahu, hasilnya lumayan."


Haris tersenyum kecil. "Ada Mih."

__ADS_1


"Yaudah, jemput Jasmin ke sini, bilangin mami kangen."


Senyuman Haris makin lebar dengan mata berbinar sempurna. "Jadi... gimana mih?"


Hani ikut tersenyum, tetapi masih menjaga gengsinya untuk tidak turun.


"Mami udah nggak marah sama kalian," tambah Hani dengan suara kalem.


"Mih... Haris boleh jujur?"


Hani mengerutkan dahinya. "Apa?"


Haris menggigit bibirnya dan tersenyum bak anak kecil. "Sebenernya... Haris pergi sama Jasmin ke Belanda. Kita udah...."


"Stop! Stop!" hani memotong ucapan Haris membuat anak itu tertawa kecil.


"Mami nggak bisa bayangin kamu sama Jasmin begitu."


"Ya Mih, kita kan udah dewasa, hehe...."


"Mih. Siap-siap ya jadi nenek, wkwkwk....“


"YAAAH ANAK SI FANI!"


***


Haris memarkir mobilnya di sebuah pekarangan rumah yang memiliki taman kecil, rumah itu model minimalis seperti desain joglo khas rumah-rumah pulau jawa, tetapi dengan kesan modern seperti yang tergambar pada warna cat nya. Ya pink dan biru pastel, warna kesukaan Jasmin.


"Rumah siapa nih?" tanya Jasmin ketika Haris sudah melepas seat belt.


"Hmm mau tau aja apa mau tau banget?" canda Haris sambil mengulum senyum,


Jasmin menepuk bibir suaminya itu pelan. "Ah lama lu... gue mau balik nih, pengen mandi, Nold."


Haris terkikik, "Iye iye... ayok turun."


Haris mendahului Jasmin untuk masuk ke dalam rumah itu dan Jasmin mengikuti dari belakang, wajahnya sudah sangat pucat karena sama sekali tidak beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh dari Belanda ke Bandung.


Oh iya, Haris tidak menemani Jasmin pulang untuk mengirit waktu, tetapi Haris mengirimkan tiket pesawat ke Belanda sehingga Jasmin bisa pulang sendiri. Jadi gini kalau nikah sama Haris, harus mandiri tidak boleh dianter jemput.


“Lu jahat banget sih... di pesawat gue nggak ada temen ngobrol tadi," keluh Jasmin sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Haris nyengir. "Lah, bisa sekarang ngobrol. Mau bahas apa sih? Revisi UU?"


"Aneh sih keselnya sekarang," lanjut Haris sambil memilih kunci untuk masuk ke dalam rumah, hal ini membuat Jasmin makin heran.


"Ris, ini rumah siapa? Lu sembarangan masuk dih," tegur Jasmin saat Haris berhasil membuka pintu. Tampak senyum Haris makin semringah.

__ADS_1


Haris membuka pintu lebar-lebar, terlihat ruang utama menampilkan kekosongan tanpa perabot, dan Haris langsung menuntun Jasmin untuk masuk ke dalam. Semakin masuk ke dalam, Jasmin dapat menikmati hawa sejuk rumah minimalis itu, rumah yang tenang meski belum memiliki set kursi atau sofa.


Jasmin tersenyum. “Ris....”


"Min...," balas Haris sambil membalas senyuman Jasmin.


"Jadi, ini rumah kita. Lu suka?"


Jasmin mengangguk dengan mata berbinar menyiratkan rasa haru.


"Rencananya, di teras gue bakal simpen ayunan kayu. Nah di tempat kita berdiri ini gue mau simpen sofa sama meja kecil doang buat TV. Terus di sana...." Haris menunjuk dinding yang tampak masih kosong.


"Foto nikahan kita. Hehe"


"Iih, gumush," timpal Jasmin masih dengan tampang cute tak terkontrol.


Haris menaruh kedua tangannya di atas bahu Jasmin dan meremasnya dengan lembut.


"Aa...," panggil Jasmin lembut.


Haris terkikik, masih kocak rasanya karena Jasmin memanggilnya dengan sebutan Aa, dimana terdengar lumayan romantis, tetapi Haris masih tak terbiasa.


"Sejak kapan punya pikiran 18+ gini?"


Haris salah tingkah, yang dia lakukan hanya tersenyum tidak jelas sambil menunduk.


"Sejak liat Surya dan kak Airin menikah. Disitu, Aa mikir Min... kalau hidup nggak bisa main-main terus. Kita harus punya tujuan, dan gue pun sadar, kalo tujuan gue ya elu...."


Jasmin menatap Haris, gila... sahabatnya ini ternyata bisa berubah karena melihat orang lain, padahal dulu Haris kalau dinasehatin ya tidak mempan.


"Gue tahu sih... kebahagiaan atau cara kita berubah tuh nggak bisa dilihat atau diambil dari tolak ukur kebahagiaan orang. Kita harus punya prinsip sendiri. Tapi, nggak ada salahnya kan, kalau misalnya prinsip hidup gue sekarang adalah bikin diri gue dan lu bahagia. Sebagai suami lu, dan gue akan bikin lu bahagia sebagai istri gue. Se-simple itu Min hidup gue sekarang," jelas Haris dengan caranya yang masih terkesan malu-malu.


"Kita kan udah begini... masih bisa nggak sih kita berantem?" tanya Jasmin polos, hal itu membuat Haris tertawa kecil.


"Ih kok malah ketawa!" Jasmin menyenggol lengan suaminya lumayan keras, sampai Haris meringis karena senggolan Jasmin pake sikut.


"Ya lu nanyanya lucu. Ya biasa aja Min, kek kita biasa loh, lu jambak gue, kita tendang-tendangan, gue isengin lu... nothings gonna change. Justru aneh kalau kita berubah jadi romantis."


Jasmin ikut tertawa, ada benarnya juga omongan si Arnold ini.


"Eh A... ini apa sih?" Jasmin kaget ketika melihat wajah Haris yang tidak seperti biasanya, gadis itu menyentuh wajah Haris dan merabanya, tepat pada bagian filtrum, sedikit kasar dibagian situ ketika jemari Jasmin menyentuhnya.


Haris mengernyit, sementara Jasmin masih meraba wajahnya.


"Apaan? Nggak ada apa-apa sih," jawab Haris keheranan.


"Ya Allah, Ris," ucap Jasmin kaget sambil menutup mulutnya dengan dramatis.

__ADS_1


"Kenapa?!" tanya Haris tak kalah kaget. "Lu kumisan... hehe...!"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2