Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 8


__ADS_3

*Cuaca malam di Roma terasa hangat bagi Jasmin, liburan sekolah tahun terakhir menjadi sangat berkesan, sebab Hani sang mami mengajaknya untuk mengunjungi Eropa dan melakukan tur fashion yang sangat disukai Jasmin.


Jasmin itu penggemar fashion kelas kakap, mungkin dikarenakan sang mami adalah seorang desainer sepatu dan tas sehingga fashion interest itu diturunkan pada Jasmin.


Setelah menikmati pameran lukisan di salah satu museum terbesar di kota, Jasmin memisahkan diri dari maminya untuk menikmati kota Roma sendirian. Jasmin tertarik pada dunia fotografi, sehingga gadis itu kini berada pada sebuah pameran dan pelelangan kamera antik yang digelar di kota tersebut.


Dengan jalan yang lambat menyusuri setiap sudut pameran, Jasmin mengagumi berbagai kamera dan juga hasil foto dari para fotografer ternama di dunia, semua yang tersaji di tempat itu sangat penuh dengan nilai seni. Kalau ajak Haris ke sini, cowok itu pasti meminta pulang untuk diajak ke wahana bermain, tetapi Jasmin pergi ke sini sendirian jadi dia tidak perlu repot nurutin keinginan sahabatnya.


Drrt drrt


HP Jasmin bergetar menandakan sebuah panggilan masuk, dengan kesal Jasmin langsung menggeser layar dan menerima panggilan.


"Apa lu?!" tanya Jasmin ketus, penelepon itu ternyata Haris.


"Assalamualaikum wahai sahabat," sapa Haris.


Jasmin menyebikkan bibirnya jengkel. "Waalaikum salam, ada apa?"


"Hehe, gitu dong, menjawab salam itu pahalanya banyak. Lu di mana sekarang?" tanya Haris.


"Lagi nggak mikirin lu. Udah ah, matiin teleponnya!"


"Jangan jangan!" pinta Haris agak memohon.


Jasmin mendengkus, dia dan Haris sedang marahan, sudah satu Minggu mereka tidak bertegur sapa karena masalah sepele. Jadinya untuk sementara sahabat yang sudah bersama selama dua belas tahun itu memutuskan untuk tidak mengobrol atau chatting dulu. Haris makanya ditinggal liburan oleh Jasmin ke Itali.


"Yaudah, mau apa?"


Akhirnya, Haris menarik napas dalam-dalam. "Gue minta maaf."


"Lebaran masih jauh Nold!" Nold untuk chef Arnold. Haris mendengkus dan Jasmin pura-pura cuek.


"Ini gue nggak tahu apa salah gue, tapi lu ngambek sama gue Jubaedah, maafin dong ...." Jubaedah adalah panggilan sayang Haris untuk Jasmin.

__ADS_1


"Min, nonton yuk kalau lu udah balik ke Bandung?" cicit Haris di seberang telepon.


Jasmin memutar bola mata malas. "Nonton apaan? Lu yang bayar ya. Lu juga yang beli minuman sama popcorn buat Nebus semua dosa lu ke gue!"


"Lu kira lu siapa pakai harus ditebus dosa gue pakai popcorn?!" Haris jengkel membuat Jasmin tertawa.


"Nonton film setan Min, ada tuh judulnya makmum. Yuk? Gue takut sendirian."


"Lah, emang udah tayang?" balas Jasmin terkejut.


"Udah thayang, dari dulu ... thayang banget aku tuh thama kamu ... kekekeke."


Jasmin mencibir geli dengan ucapan sahabatnya. Gini nih Haris, kalau dicuekin dua hari aja udah kelojotan macam cacing kepanasan.


"Ih Haris, apaan sih lu!"


"Gimana Min? Yuk nonton ah, plis plis plis ...."


Jasmin tidak mendengarkan perkataan Haris, gadis itu justru tertarik dengan salah satu hasil foto dari sebuah kamera vintage yang terpajang di pameran. Gadis itu mematikan sambungan telepon dengan Haris dan meraih kamera dengan tangan kirinya.


Tangan lain sudah berada di atas kamera vintage antik tersebut sehingga tangan Jasmin menyentuh tangan itu, bukan kameranya.


"Sorry," ucap Jasmin sambil menjauhkan tangannya dari sana.


Yang dimintai maaf terkikik, wajahnya sangat ramah dan terlihat begitu menarik untuk ditatap mata.


"Its okay, this camera vintage is really good," katanya dengan bahasa Inggris. Cowok, ya orang itu adalah cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Surya.


"You can take it, lady first," katanya gentleman.


Jasmin tersenyum tanpa sadar ketika si cowok asing berwajah ramah itu mempersilakan dirinya untuk mengambil kamera duluan.


"Serius?" kata Jasmin dengan senyum di bibir.

__ADS_1


"Ya, dua rius," kata cowok itu, sambil memilah kamera lain yang serupa modelnya dengan kamera yang ada di tangan Jasmin. Humornya anjlok sih, tetapi nggak papa karena baru kenal, kalau langsung ngelawak macam Sule, Jasmin bakalan ilfil sama cowok di depannya ini.


Lelaki itu adalah Surya yang kemudian mengambil kamera lain, Jasmin diam-diam memperhatikan selera cowok itu dengan seksama dan kagum. Surya juga beberapa kali mencoba mengambil gambar dengan kamera yang ada di tangannya. Plis deh, dari sejak SD Jasmin itu sudah suka banget sama yang namanya tukang foto. Makanya agak deg-degan aja gitu lihat cowok ganteng pegang kamera.


Cekrek!


Sebuah foto keluar dari kamera polaroid, Surya tersenyum dan menyerahkan hasil fotonya pada Jasmin. Jasmin mengerutkan dahinya bingung saat menerima selembar kertas foto dari cowok asing itu.


"Kamu turis dari Indonesia juga kan?" tanya Surya.


Jasmin mengangguk. "Hm, kok tahu?"


"Itu, tas kamu ada gantungan kunci yang sama kayak saya. Kayaknya kita nginap di hotel yang sama ya?" ujar Surya kalem.


Jadi, setiap tamu di hotel yang Jasmin dan mamanya tempati memang memberikan fasilitas berupa pembagian gantungan kunci sebagai identitas untuk tamu dari beberapa negara. Aneh banget, Jasmin awalnya nolak identitas itu, tetapi karena Jasmin takut nyasar di Itali makanya maminya memaksa Jasmin untuk mengenakan gantungan kunci di tasnya. Eh, ternyata samaan kayak cowok ganteng asal Indonesia ini loh.


"Oh, hehe ... Iya," jawab Jasmin malu-malu.


"Liat deh, hasil foto kamera ini bagus," kata Surya sambil menunjuk pada selembar kertas polaroid yang ada di tangan Jasmin.


Jasmin tersenyum penuh arti, cowok di depannya ini sangat berbakat dalam mengambil foto. Biasanya hasil jepretan polaroid itu tidak akan sebagus ini kalau diambil dari percobaan pertama, tetapi hasil foto cowok ini sangat bagus, Jasmin terlihat sangat cantik dan kurus.


"Mau nggak kalau kita keliling pameran ini berdua?" tanya Surya.


"Eh?"


Cowok asing itu tersenyum lagi, wajahnya dua kali lipat lebih ganteng dimata Jasmin.


"Saya Surya. Saya juga suka fotografi, jadi kayaknya seru kalau punya teman buat keliling pameran di sini. Gimana, mau?"


"Ya Allah, apakah ini petunjuk jodoh untuk Jasmin yang baru putus cinta dari pacar brengseknya? Dapat jodoh di Itali, cowok Indonesia yang ganteng dan bisa foto. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan, wahai Jasmin?"


Jasmin mengangguk menuruti ajakan si cowok fotografer ini*.

__ADS_1


Bersambung ....


ini part flashback


__ADS_2