Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 65 : Papi mertua


__ADS_3

Terakhir kali Joseph bertemu dengan Haris adalah saat akad nikah enam bulan yang lalu, kini mereka dipertemukan pada waktu yang sangat membahagiakan, setidaknya bagi Joseph karena ia bisa bertemu lagi dengan Jasmin si anak gadis satu-satunya.


Joseph memeluk Jasmin dengan erat, pemandangan antara ayah dan anak itu disaksikan oleh Haris dengan tatapan haru karena bahagia. Oh iya, Haris sedih juga karena dia sama sekali tidak punya duit.


"Jasmin, anaknya papi yang lucu," puji Joseph pada Jasmin sembari mengucek puncak kepala anaknya.


Jasmin mengusap air mata di pipinya. “Papi... Jasmin kangenn... Mami di Bandung galak."


"Yaudah, sekarang kan kamu udah ketemu Papi... jangan sedih dong, papi gak akan pernah galak sama Jasmin."


Haris menghampiri Papi mertuanya dengan wajah gugup, sebab ini pertemuan kedua mereka sebagai menantu-mertua.


"Nah ini dia Haris...," kata Joseph sembari menepuk pundak tegap menantunya.


"Kalian.. mau sekalian honeymoon di sini, kan?"


Jasmin dan Haris saling pandang untuk beberapa detik, ada semburat merah dikedua pipi mereka terutama di pipi Jasmin.


"Yaudah... sepertinya mau honeymoon ya... Papi tahu kok tujuan kamu ke sini karena Hani. Tapi, kalian gak perlu sungkan. Papi ngerti banget perasaan Jasmin."


"Iya, Mami nyuruh ke sini, sebenernya, Mami gak bolehin aku ketemu Haris."

__ADS_1


Karena cuaca yang sangat dingin akhirnya Joseph memutuskan untuk membawa Haris dan Jasmin segera pulang ke rumahnya yang berada di pusat kota Leiden. Sepanjang perjalanan menuju Leiden, seluruh jalanan dipenuhi dengan tanaman tulip yang belum bermekaran, musim semi tinggal beberapa bulan lagi sehingga kawasan yang biasanya sangat berwarna warni karena tulip justru terlihat gelap tanpa kelopak-kelopak indah di sana.


"Ris," panggil Jasmin dengan lembut, karena mau galak-galak tidak enak sama Papi.


"Hmm?"


Jasmin nyengir, "Enggak, manggil doang. Hehe."


Haris tersenyum tipis. "Ih gumush...," balas Haris sambil meniru kalimat Jasmin saat di pesawat.


Jasmin terlebih dahulu masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri untuk segera beristirahat. Hampir 22 jam berada di perjalanan dari Indonesia menuju Belanda, ditambah waktu transit di dua negara tentu saja bukan waktu yang singkat. Sementara itu, Haris bersama Joseph sedikit berbincang sambil ditemani dua cangkir kopi.


Karena tidak enak dengan mertua, akhirnya Haris sesekali meneguk sedikit demi sedikit kopi dalam cangkir itu hingga isinya habis. Kan tidak enak ya, masa udah disedian kopi nawar minta susu.


"Kamu masih buat furniture itu, Ris?"


Haris menoleh ke arah Joseph yang tampaknya begitu santai.


"Hm, masih Om. Eh, Pi."


Joseph tersenyum. "Bagus dong, ukiran Jepara terkenal juga di sini. Biasanya pakai kayu dari mana?"

__ADS_1


"Kalo kayu sih Haris sering beli dari daerah Sumatera atau Kalimantan, kemarin sempet juga dikirim kayu dari Sulawesi. Material sih mahogani atau engga jati, pengen sih distribusi furniture juga ke Leiden, hehe."


"Kamu bisa diandalkan Ris, makanya saya percaya waktu kamu minta izin untuk nikahin anak saya."


Haris menunduk, mukanya sih udah songong banget.


"Ah, papi bisa aja," balas Haris dengan senyum malu-malu.


"Rasanya baru kemarin saya tinggalin Jasmin di Bandung, anaknya masih kecil, nangis-nangis karena saya sama maminya berantem. Saya gak bisa bayangin, kalo Jasmin tinggal sama saya, dia mungkin...."


"Ia mungkin gak akan kenal sama Haris, Pi... kalo Jasmin tinggal di Belanda," potong Haris dengan cepat.


"Sudah takdirnya Jasmin jadi jodohku, makanya, ada aja peristiwa yang ngebikin kita akhirnya sama-sama."


"Papi nggak perlu merasa bersalah. Jasmin itu sayang banget sama papi. Sayangnya Jasmin sama mami Hani dan papi Joseph itu sama besarnya," tambah Haris.


Joseph lagi-lagi menepuk bahu menantunya.


"Jagain Jasmin terus ya, selain itu kewajiban kamu sebagai suami, itu juga amanat dari saya."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2