
Jasmin : Aku udah beres UKK. Beib, besok jalan yuk... kangen.
Kaisay : Kayaknya nggak bisa.
Jasmin : Emang mau ke mana?
Kaisay : Aku mau daftar kuliah, ngurusin administrasi juga ke kampus.
Jasmin : Yaudah, VC dong, udah seminggu nggak ketemu.
Kaisay : Maaf Mim, aku lagi diluar.
Jasmin : Kamu di mana?
Kaisay : Lagi di rumah temen.
Jasmin : Okay.
Ada yang janggal, sangat janggal sekali dengan Kai. Kenapa cowok itu menghindar dari Jasmin bahkan mencari alasan agar mereka tidak bertemu. Ditambah lagi, kenapa daftar ulang dan urus administrasi kuliah dihari Sabtu? Orang bodoh macam apa yang bisa dibohongi oleh Kai kali ini?! Jasmin tentu tahu betul kalau hari sabtu adalah hari libur bagi semua instansi. Kai kuliah di mana memangnya sampai harus daftar ulang hari Sabtu. Kecurigaan Jasmin semakin bertambah ketika cowok itu juga tidak mau video call dengan nya. Kai juga sering mengabaikan setiap pesan Jasmin dan tidak pernah chat Jasmin duluan. Semuanya semakin mencurigakan dan membuat Jasmin sedih sendirian.
Apa mungkin Kai itu kembali pada habitat aslinya? Ya, cowok itu playboy seperti yang sering diperingatkan oleh teman-temannya.
Karena tidak bisa tdiur, Jasmin memutuskan untuk bergabung bersama Hani yang sedang asik menonton film di dalam kamarnya. Hani tidak kaget kalau anak tunggalnya itu kini sudah naik ke atas tempat tidurnya dan menyelip ke dalam selimut dengan wajah bete.
"Kenapa?" tegur Hani saat Jasmin memeluk sebelah lengannya.
"Kangen Mami."
"Halah... lagumu," ejek Hani sambil terkikik. Jasmin menyebikan bibirnya jengkel.
"Ih Mami.. serius deh. Kangen Jasmin tuh sama Mami... Mami sibuk kerja terus," curhat Jasmin kemudian.
Hani mematikan dvd dan menatap putrinya dengan pandangan hangat. Hani mengangkat dagu Jasmin dengan lembut sambil menghela napas.
"Ke mana sahabat kamu?"
Jasmin mengendikkan bahunya. “Maksud Mami Haris?"
Hani terkikik. "Siapa lagi? Mami denger-denger kalian punya pacar, ya?"
Mata Jasmin membulat sempurna. “Ih, enggak... kalo Haris sih iya, aku mah enggak deh beneran."
__ADS_1
"Aahh... bohongin Mami nih? Mami udah tahu dari mamanya Haris, katanya Jasmin pacaran, Haris juga ikut pacaran."
"Hehe iya, Mami marah?" jawab Jasmin malu-malu.
Tampang galak Hani berubah menjadi lembut, wanita itu membelai rambut Jasmin penuh kasih sayang sebagaimana mestinya seorang ibu.
"Enggak... mami mau kenalan sama pacarnya Jasmin. Mami mau tahu, cowok mana sih yang mau sama anaknya mami ini."
"Iih, Mami serius?!"
Hani mengangguk pasti. "Iya... mami bakalan tenang kalau tahu siapa pacarnyamu. Mami gak mau kamu pacaran sembunyi-sembunyi dan ngapa-ngapain di belakang Mami."
***
Mina bersandar pada bahu Haris ketika gadis itu menikmati sebuah film di bioskop untuk menghabiskan akhir pekan. Haris tampak meringis karena terkejut dengan perbuatan tiba-tiba Mina yang berani bersandar pada bahunya. Sesekali Mina juga menjerit kecil ketika adegan mengerikan muncul dilayar, Mina juga merengkuh lengan Haris saat ketakutan.
Haris melirik ke arah Mina dan menatap tangan gadis itu yang merengkuh lengannya. "Mina... ini nggak boleh tahu," beritahu Haris pada Mina.
"Huh?" tanya Mina bingung.
"Nggak boleh pegang-pegangan."
"Maaf, aku takut sama filmnya," jawab Mina dengan suara pelan.
Haris tersenyum. “Yaudah... kita udahan aja nontonnya kalau kamu takut."
"Haris, kamu mikirin sesuatu, ya?" Haris menggelengkan kepalanya. "Enggak."
Mina tersenyum kecut. "Daritadi kamu ngelamun."
"Oh iya? Biasa aja tuh... ngelamun gimana emang?" ujar Haris berusaha meyakinkan Mina.
"Kamu aneh... beda ketika kita belum resmi jadian. Ada rahasia, ya?"
Haris menghela napasnya, dia sendiri pun tidak tahu kebingungan apa yang berada dalam otaknya sehingga sikapnya berubah. Sebenarnya bukan hanya Mina yang merasakan kejanggalan ini, Mamanya bahkan Airin pun bertanya hal demikian. Ada yang benar-benar berubah pada diri Haris yang membuatnya sangat berbeda. Haris tampak murung dan tidak bersemangat.
"Haris jawab," desak Mina dengan nada yang masih lembut, tetapi terlihat bahwa gadis itu cukup memaksa Haris untuk memberitahukan keadaannya.
"Enggak ada Mina... semuanya baik-baik aja.“
Mina tersenyum dipaksakan, Haris meraih tangan kanan Mina dengan hati-hati dan menggenggamnya meski tak cukup erat.
__ADS_1
"Jangan bohong...."
***
Jasmin sudah sangat kebingungan, hari minggu cerah ini Kai sudah berjanji akan menemuinya dan Hani di sebuah kafe yang sudah mereka janjikan. Hampir tiga jam Jasmin dibuat menunggu Kai juga kabar dari cowok itu, bahkan Kai juga yang memilihkan tempat mereka untuk bertemu, tetapi nyatanya Kai juga tidak membalas pesan atau mengangkat telepon dari Jasmin.
"Min, mungkin sibuk pacarnya," ujar Hani setelah memesan minuman ke limanya.
Jasmin tampak sudah gusar, make up tipis di wajahnya pun sudah mulai luntur. Rambutnya yang sudah diblow sampai ikal pun kembali lurus.
"Sibuk kemana emang Mi? Anak baru lulus SMA sibuk apaan waktu libur begini," jawab Jasmin sambil melipat lengannya di depan dada. Hani cekikikan, meski sebenarnya Hani pun jengkel karena dibikin nunggu oleh orang bernama Kai.
"Udah tiga jam lebih... Kai ke mana sih?!" Jasmin bicara sendiri sambil terus memainkan ponselnya, siapa tahu Kai tiba-tiba menghubunginya dan mengabari kalau sudah di jalan.
***
Jasmin menangis terisak, hampir delapan jam menunggu Kai tidak kunjung datang, bahkan kafe pun tutup dipukul 8 malam karena menunya terjual habis. Hani membelai punggung anaknya dengan lembut berusaha untuk menenangkan, tetapi tidak berhasil. Jasmin sangat terpukul karena pacarnya tidak datang bahkan tidak memberikan kejelasan.
"Sayang, pulang aja ya," bisik Hani lembut.
"Kafe nya sudah tutup... mami udah bayar kok."
Jasmin tidak menggubris ucapan Hani, tetapi gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu menuju tempat parkir dengan tampang awut-awutan. Sejujurnya Jasmin sangat malu pada Maminya karena Kai ternyata seorang pembohong. Cowok itu menghilang bagai pengecut yang berusaha meninggalkan jejak pertanggung jawabannya.
Hani menatap Jasmin prihatin, tidak mengira jika Jasmin akan serapuh ini jika dihadapkan dengan soal percintaan. Ternyata, Jasmin sangat mirip dengan dirinya kalau soal perasaan.
Jasmin : Kai... masih di mana?
Jasmin : Kai.. aku gak marah kalo kamu telat. Tapi kamu dateng dong... Mami aku udah nunggu lama.
Jasmin : Beib... please....
Jasmin : Aku nangis nih.
Jasmin : Kamu ga angkat telpon aku, kamu kenapa? Aku salah ya?
Jasmin : Kai... ada apa?!
Jasmin : Kaisar, angkat telponnya atau kita putus!
Hp Kai pun sekarang tidak aktif dan lima puluh pesan terakhir yang Jasmin kirimkan sama sekali tidak dibaca oleh cowok itu. Jasmin menyelimuti tubuhnya dengan sangat rapi, menangis terisak sampai ia kelelahan hingga kedua mata sipitnya benar benar bengkak, dan wajahnya sembab sekali.
__ADS_1