
Hari itu adalah ulang tahun Haris yang ke-15, Fany tengah menyiapkan kue ulang tahun bersama dengan Hani yang berperan sebagai sahabat, juga tetangga rumahnya yang hanya terhalang oleh sebuah rumah milik Pak RT.
Fany hanya tinggal mendekor cake ulang tahun itu dan menempelkan lilin angka 15 di atas kue, maka kue akan selesai dan terlihat cantik untuk diberikan pada Haris.
"Tante, bukannya Haris gak suka ya sama kue kek gini." Ada Jasmin di sana, yang pulang sekolah duluan karena anak itu masih duduk dikelas 1 SMP, sementara Haris sudah kelas 3 dan harus melaksanakan program pemantapan untuk ikut Ujian Nasional.
"Suka dong, ini request Papanya juga... Om Sainal yang minta tante buat bikinin kue," kata Fany pada Jasmin.
Jasmin manggut-manggut, dia melirik pada Hani yang sejak tadi tidak banyak berkomentar, "Mih.. nanti kalo Jasmin ulang tahun Papi pulang, kan?" tanya Jasmin pada Maminya.
Hani hanya bisa menghela napasnya dengan kasar, perceraian antara Hani dan Joseph sudah berlangsung sejak lama, Joseph juga tidak pernah lagi datang ke rumah sejak mereka resmi bercerai. Pasti Joseph akan menjemput Jasmin di sekolah atau meminta Hani untuk mengantarkan Jasmin ke restaurant agar bisa bertemu atau menghabiskan waktu bersama Jasmin, tetapi, sudah dua tahun ini Joseph tidak ada kabar.
Jasmin sangat iri pada Haris yang memiliki orang tua lengkap, ada Mama dan Papa yang sangat serasi dan selalu mewujudkan keinginannya. Apalagi di hari ulang tahun begini, Haris akan merayakannya bersama Om Sainal dan juga Tante Fany.
Jasmin cemberut, Mami tidak menjawab pertanyaannya, tetapi Tante Fany tersenyum ke arah Jasmin dan mengelus rambut panjang gadis itu. "Jasmin.... papinya nanti pasti dateng kok, mau tante buatin cakenya juga gak kalo Jasmin ulang tahun?"
Jasmin mengangguk kecil dan tersenyum dipaksakan, Jasmin tahu kok kalau Tante Fany hanya sekedar menghiburnya.
Tiba-tiba saat para wanita sibuk di dapur, suara mobil terdengar terparkir di halaman depan rumah Haris. Hal itu membuat Fany tersenyum lebar. "Nah, itu pasti Sainal sama Haris," ujar Fany ceria.
Jasmin makin cemberut ditempatnya duduk, dia menyenggol lengan Hani yang ada di atas meja. "Mami... Jasmin tuh iri sama Haris!" gerutu Jasmin lagi tidak menyerah.
"Kamu tuh, mau Mami kirim ke Belanda?" ancam Hani pada anaknya. Jasmin langsung menutup mulutnya, tidak berani bicara lagi.
Sainal dengan wajah dingin dan murung tampak keluar dari dalam mobil, pria tampan dan gagah itu sedikit menundukkan wajahnya saat Fany menyambut di halaman rumah mereka. Fany mengerutkan dahinya ketika melihat ada yang tidak beres dengan ekspresi suaminya.
"Loh... aku kira kamu jemput Haris ke sekolah.... Harisnya belum pulang?" ujar Fany pada Sainal.
Sainal tersenyum kecut, tangannya gemetar ketika langkah gontainya mendekati Fany.
__ADS_1
Fany semakin heran. "Sainal, kamu kenapa sih?" tanya Fany sambil mendekat ke arah Sainal.
"Fan, aku minta maaf,” ujar Sainal lirih.
"Kenapa sih... minta maaf kenapa?" tanya Fany khawatir, Sainal merengkuh wajah Fany dengan sebelah tangannya, wajah pria itu berubah menjadi merah padam dan ada air mata mengalir dengan pedih menghiasi ekspresi wajahnya itu.
"Nal, kenapa?" ujar Fany bingung.
"Papa!"
"Papa," ujar dua suara bersamaan memanggil Sainal. Suara paling keras adalah suara Haris, sementara suara pelan dan terdengar lemah itu adalah Hamid yang usianya masih 8 tahun.
Haris terdiam saat ada anak kecil laki-laki memanggil Papanya dengan sebutan Papa juga, sementara Hamid yang masih kecil langsung menghampiri Sainal dan menarik ujung kemeja yang dikenakan pria itu. Menatap takut dan bingung pada semua orang yang ada di sana.
"Papa... Hamid laper...," ucap Hamid pada Sainal sambil memegangi perutnya.
Haris seketika membeku, dan Fany tak bisa berkata apa pun selain diam di tempat dengan tubuh gemetar.
"Siapa anak ini Sainal?!" jerit Fany sambil menjatuhkan pukulan keras di dada bidang suaminya.
Sainal menunduk dan bibirnya gemetaran. "Dia.... Hamid... anakku."
Haris berlari dengan sangat kencang, kakinya yang panjang terus bergerak cepat dan mulai kelelahan tidak pernah berhenti untuk terus menghindari bayangan dibelakang yang seolah mengerjarnya. Air mata Haris bercucuran dan anak lelaki itu menjatuhkan dirinya di atas tanah yang ditanami rumput liar, tepatnya di lapangan yang sering digunakan anak-anak bermain bola sampai maghrib.
Lapangan itu sangat panas, sorot matahari menyinari seluruh tubuh Haris yang gemetar. Haris menangis, dia kemudian duduk sambil bersembunyi di bawah pohon yang daunnya rindang. Haris menyembunyikan wajahnya, terisak-isak di bawah sana dengan dada yang bergemuruh. Marah, malu, dan tentunya sangat kecewa berat pada Papanya.
Setelah berlari cukup jauh dan melelahkan, Jasmin pada akhirnya menemukan Haris yang kini tampak begitu menyedihkan. Gadis itu bernapas terengah-engah dan mendudukan tubuhnya di hadapan Haris. Jasmin menaruh tangannya pada bahu Haris dan mengelusnya dengan lembut. Baru saja Jasmin berpikir sangat iri terhadap Haris, tetapi kini Jasmin merasa beruntung dibandingkan dengan Haris.
"Huuuhhh ...." Jasmin menghela napasnya, Haris masih menundukkan kepala tanpa bereaksi apa pun.
__ADS_1
"Min... gue malu," ujar Haris dengan suara terbata-bata. Jasmin merasa prihatin dengan Haris, gadis itu kemudian berpindah duduk jadi di samping Haris. Namun, tangannya masih mengelus bahu Haris sejak tadi.
"Ris... pulang yuk...."
"Nggak!" Tolak Haris cepat, suaranya masih terdengar serak dan bercampur dengan isakan.
"Pulang ke rumah gue aja," ucap Jasmin hati-hati, hari juga sudah menjelang sore dan lapangan itu letaknya ada di ujung komplek yang sangat sepi. Tumben juga hari ini tidak ada anak-anak yang bermain bola. Ah, Jasmin baru ingat kalau Haris kemarin sudah undang anak-anak pengajian dan komplek untuk datang ke rumahnya dalam rangka merayakan ulang tahun.
"Gak! Sampe kapan pun... gue gak akan ke mana-mana!" kata Haris dengan teguh.
"Ris... kalo lu disini terus... Temen gue siapa?" tanya Jasmin sedih, tidak dipungkiri juga Jasmin sudah sangat sedih ketika melihat bagaimana hancurnya keluarga Haris dalam hitungan menit. Jasmin malah kini terisak dan menangis disisi Haris, membuat Haris pada akhirnya mendongak dan melihat ke arah Jasmin yang menangis tersedu-sedu.
"Min... kok lu malah nangis."
"Hiks... huuhuuhuhuu...."
Tangisan Jasmin malah semakin parah, Haris jadi kebingungan melihatnya. Apalagi di tempat itu sangat hening sehingga tangisan Jasmin terdengar sangat keras.
"Min, udahan dong... yang sedih kan gue, kenapa lu yang nangisnya kenceng banget!" tegur Haris sambil menepuk-nepuk punggung Jasmin.
Jasmin mendongak, kedua matanya sembab dan wajahnya memerah padam, ada ingus dihidungnya membuat Haris tersenyum geli melihatnya.
"Ingus tuh," beritahu Haris sambil menunjuk hidung Jasmin.
Sroookkkkk ....
Haris mendengus ketika Jasmin menarik ingusnya tanpa gengsi sedikitpun dihadapannya. Jasmin berusaha menghentikan tangisannya dan menatap Haris dengan sedih, bibirnya mengerucut cemberut.
Bersambung ....
__ADS_1
Lanjut besok ya.