
Mina menyapa semua orang di lokasi fashion show itu, semua orang menyukai Mina karena wajahnya yang selalu menebar senyuman, dia didapuk sebagai MC untuk acara bergengsi tahun ini.
Jasmin lupakan soal Mina, dia bersyukur karena Mina justru sudah dandan duluan di sebuah salon kenalan Mamanya, info ini Jasmin dapat dari Kirana yang menjadi salah satu model acara. Hampir 2 jam berturut-turut Jasmin terus melakukan make up pada beberapa model yang mengantre untuk dipoles wajahnya, begitupun Sera yang tidak beristirahat. Sesekali Sera menoleh ke arah Jasmin dan menanyakan kabar Jasmin, tetapi Jasmin mengatakan baik-baik saja.
"Hmm, hueekk...." Jasmin merasakan mual luar biasa ketika gadis itu menyemprotkan hairspray, aroma menyengat itu membuat Jasmin yang memang belum sarapan terkena serangan mual yang tidak bisa ditahan.
"Ya ampun Kak, kenapa?” tanya seorang model yang kebetulan sedang dirias oleh Jasmin.
Jasmin mengusap air mata yang sedikit keluar gara-gara mual barusan. Sera buru-buru menghampiri Jasmin dan memberikan gadis itu tissue.
"Lu mual, Min? Duduk dulu... pasti karena kecapean, ya?" kata Sera khawatir.
Jasmin diam, dia merasa tidak enak pada Sera, sejak tadi kaki Jasmin juga pegal banget karena tidak duduk selama 2 jam lebih, tangan Jasmin juga merasakan hal yang sama. Jasmin jadi kesal sendiri, tidak biasanya dia seperti ini.
"Sedikit Ra, tapi gak apa-apa. Gue masih bisa lanjut kok," ucap Jasmin dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Ih Min... awas kalo lu sampe pingsan. Beneran masih kuat?"
"Beneran hehe, udah... gue mau lanjut lagi, tinggal 2 orang kan?"
Sera mengangguk kecil. “Hmmm... semangat, Min!"
Jasmin tersenyum setelah menerima sebotol air mineral pemberian Sera, tangan Jasmin gemetar karena reaksi tubuh hamilnya benar-benar tidak bisa ditebak. Sejam lalu Jasmin merasa sangat sehat dan baik-baik saja, tetapi sekarang justru sebaliknya, Jasmin ingin rebahan.
"Bayi, tahan ya... sebentar lagi selesai. Jangan rewel dulu, mamanya kan lagi kerja,“ bisik Jasmin pada perutnya, tentu Jasmin bicara sambil mengelus perutnya yang tertutup dress.
Model yang hendak di dandani oleh Jasmin tersenyum lebar dan merasa gemas dengan MUA kali ini.
"Hamil berapa bulan Kak?” tanya model wanita itu.
"Kata dokter sih 16 minggu. Hmm, berarti sekitaran 4 bulanan"
"Wah, udah agak keliatan sih kak hamilnya.“
"Iya, hehe...."
***
Sudah lewat jam makan siang, bahkan sudah lewat juga jam istirahat kerja sore, tetapi Jasmin belum mengabari Haris sama sekali. Telepon Haris juga tidak diangkat oleh Jasmin membuat Haris cukup panik juga. Kalau dulu Jasmin dan Haris jarang berkabar itu mungkin sudah biasa, bahkan ketika mereka masih sekolah dan kuliah keduanya sama sekali tidak peduli dengan yang namanya berkabar. Tapi sekarang? Haris justru paling peduli dengan hal 'berkabar' apalagi setelah Jasmin hamil dan mood istrinya itu sering jungkir balik tidak bisa ditebak.
Pada akhirnya, Haris menyerah dan memutuskan untuk menjemput Jasmin ke tempat fashion show. Setelah di sana, Haris akan langsung meminta Sera agar mengizinkan Jasmin pulang duluan untuk istirahat.
Mina tampak cantik dengan gaun pendek silk di atas lutut berwarna hitam, rambut panjangnya diurai ke belakang dan diberi aksesoris berupa jepitan swarowski anggun di atas telinga, hal itu membuat Mina tampak manis sekaligus mempesona, kakinya juga dibalut dengan sepatu heels hitam yang senada dengan gaun yang dikenakannya, anting-anting berlian pun membuat Mina semakin bersinar. Acara ini seperti menjadikan Mina seorang bintang.
Jasmin yang berada di jajaran kursi penonton melihat ke arah Mina, untuk memastikan kalau benar cewek yang jadi MC sekarang itu adalah mantan pacar suaminya, mantannya si Haris.
__ADS_1
"Ternyata beneran," gumam Jasmin keceplosan, bibir Jasmin cemberut bukan main. Sera yang ada di sisinya langsung menoleh.
"Beneran kenapa?" tanya Sera heran.
"Enggak... hehe... itu... ternyata beneran Mina." Tunjuk Jasmin pada Mina yang ada di atas panggung.
"Eh, tapi si Mina pas dulu kutu buku ya. Wkwkwk... nasib orang mah gak ada yang tahu ya, dia sekarang jadi macem super model."
Jasmin hanya bisa menghela napas, rasa lelah semakin menguasai dirinya sehingga semua ucapan Sera sama sekali tidak mendapatkan balasan, untung saja dia bisa duduk karena Sera diberikan akses untuk menyaksikan acara fashion show
Haris menggulirkan tatapannya ke sana kemari ketika ia sampai di wilayah fashion show, kayaknya manusia se-Bandung dateng ke tempat itu sampai semua spot pasti ada orangnya.
"Jasmin yang segede biji salak nyempil di mana coba," bisik Haris sambil mencoba mendial Hp Jasmin. Haris terus berjalan sampai tubuhnya mendekat ke selasar panggung, tempatnya orang-orang pengatur acara berkumpul.
Iseng, Haris pun menepuk salah satu bahu pria yang mengenakan pakaian serba hitam di sana.
"Misi," sapa Haris ramah.
Pria yang ditepuk bahunya itu menoleh ke arah Haris, di saku pakaiannya ada sebuah walkie talkie dan headphone menempel di kepalanya.
"Iyaa, kenapa Mas, ada yang bisa dibantu?"
"Ini, saya mau tanya, kalau tempatnya tim MUA di mana ya?"
"Ouh, tim MUA sudah selesai mas sejak satu jam lalu. CH+ MUA kan?"
Saat Haris menunduk dengan ekspresi bertanya-tanya tentang Jasmin, tiba-tiba saja seorang wanita bergaun hitam menghampirinya dengan ekspresi tak bisa ditebak. Ada senyum sekaligus nanar di kedua matanya membuat Haris menghentikan langkahnya.
"Ris?"
Ya, yang menyapa dengan nada tanya itu adalah Mina. Dan Haris seketika menegakkan tubuhnya. Mina tersenyum, tampak kagum dengan sosok Haris yang tidak berubah sejak dulu.
"Iya?"
"ini aku Ris, Mina!" katanya dengan ceria.
Haris menatap Mina datar. “Iya gue tahu... lu, ngapain di sini?" kata Haris, pikiran Haris masih begitu bingung sebab dia mencari Jasmin.
Mina tersenyum lagi. “Kamu... gak berubah ya, dari dulu."
"Ya masa gue berubah Mina. Kan gue Haris, bukan power ranger."
Mina tersenyum, sementara teknisi suara yang kebetulan menguping malah tertawa kecil sembunyi-sembunyi.
"Kamu kenapa? kok keliatannya bingung? Lagi nyari orang?" tanya Mina lagi.
__ADS_1
Haris menghela napasnya, dia menatap layar Hp dan bersyukur ternyata Jasmin sekarang menelepon.
"Ayo pulang, gue jalan ke parkiran sekarang," ucap Jasmin setelah satu detik Haris mengangkat panggilan.
Mina terus memperhatikan Haris, tetapi Haris tidak.
"Eh Na, sukses ya!" ucap Haris sembari berbalik arah dan pergi begitu saja tanpa pamit yang baik pada Mina.
Haris sedikit berlari menuju parkiran, Jasmin pasti sudah baca semua chat Haris makanya dia tahu lokasi mobil yang terparkir di lantai B1. Hanya butuh waktu 10 menit untuk Haris sampai di parkiran, dan Jasmin kelihatannya baru sampai di sana. Haris tersenyum dengan napas ngos-ngosan.
"Ckckck. Kebiasaan ya, chat baru dibaca, telpon baru dibales," omel Haris pada Jasmin.
Jasmin tidak menjawab, wajahnya kelihatan kusut.
"Ayo pulang, capek!" kata Jasmin ketus, Haris yang sudah tahu watak jelek istrinya pun segera membukakan pintu di samping kemudi untuk Jasmin dan meminta gadis itu duduk di sana, Jasmin masuk ke dalam diikuti Haris yang harus memutar arah untuk mengemudikan mobil pemberian Dimas tersebut.
Setelah mobil melaju, tidak ada percakapan sama sekali. Haris juga tidak mau banyak bicara untuk menghindari pertengkaran yang tidak perlu. Haris melihat kedalam tas Jasmin yang terbuka, kotak bekal berisi sandwich masih tampak penuh.
"Lu udah makan?"
Jasmin mendelik atas pertanyaan Haris. Jasmin bersandar semakin nyaman pada kursi.
Haris menghela napasnya. "Gimana tadi kerjanya? Pasti capek," kata Haris lagi, sekarang dengan nada yang amat hati-hati.
"B aja."
Haris mengetatkan rahangnya jengkel. "Sabar... sabar...," gumam Haris dalam hati.
"Eh, kita makan malemnya mau di mana? Makan diluar yuk...," ujar Haris ceria, sekarang pakai senyum super lebar dan Haris juga sampai memiringkan kepalanya ke arah Jasmin.
"Capek"
Haris langsung diam. “Di kedai loh, depan rumah... samping klinik dokter Reza. Mau?"
"Enggak...."
"Maunya apa dong, Min? Ayo bilang," bujuk Haris, ini terakhir sebelum Haris benar-benar ikutan diam dan keras kepala kayak Jasmin.
Jasmin menggigit bibir bawahnya, badannya lemes banget dan Jasmin emang benar-benar pengen diem, tidak mau apa-apa. Jasmin tidak mengerti sama dirinya sendiri pokoknya.
"Nggak tahu."
"Oke," balas Haris tak kalah lemes, lemes karena udah ngomong ngalor ngidul jawabannya tidak lebih dari satu kata.
Apa sih salah Haris?! Haris hanya bisa membatin sepanjang perjalanan menuju rumah mereka.
__ADS_1
Bersambung .....