Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 87


__ADS_3

Airin terlihat sedikit pucat, tetapi raut bahagia di wajahnya begitu cerah sekali ketika Haris dan Jasmin datang untuk menjenguk. Jasmin menaruh bingkisan buah-buahan dan makanan ringan di atas meja, dan langsung saja duduk di kursi yang sudah tersedia di dekat ranjang Airin, sementara Haris duduk di tepi ranjang untuk memijat-mijat kaki Airin. Tumben banget kelakuan Haris begini.


"Ya ampun Min, repot repot, ke sininya besok aja padahal," beritahu Airin ketika Jasmin menggenggam tangannya.


"Ih, Kak Airin kok ngomongnya gitu. Jasmin emang udah gak sabar pengen ketemu sama Kak Airin. Pengen denger testi melahirkan."


Airin terkikik mendengar ucapan Jasmin, suara tawanya lemah, tetapi wajah Airin kok jadi cantik banget ya setelah lahiran.


"Ah ada ada aja kamu Min... Kak Airin denger, kamu juga pendarahan, kamu baik-baik aja kan?“


Jasmin mengangguk. "Hmmm. Baik kok, katanya itu pendarahan biasa, gak efek apa-apa, Kak."


"Hmm syukurlah Min... eh, udah Ris gak usah dipijitin... gak pegel kok. Tumben banget lagian pake pijit segala," ujar Airin pada Haris untuk menghentikan memijat kakinya.


Haris cengengesan. "Oh iya, Su... Kak Surya mana?" tanya Haris sambil mengedarkan pandangannya ke sana kemari, mencari Surya dong tentunya. Gabut soalnya kalau sama cewek-cewek, pasti kena omel.


"Mas Surya lagi ke minimarket depan, cari pembalut buat aku. Eh, kalian udah jenguk bayinya?"


Jasmin dan Haris dengan kompak menggeleng pada pertanyaan Airin. "Belum... bayinya di mana? Dibawa juga sama kak Surya?" tanya Haris polos.


Jasmin mendesis jengkel mendengar pertanyaan Haris. "Ya mana ada sih Nold bayi masih merah dibawa ke minimarket. Bayinya pasti lagi main roda-rodaan sama suster atau disuapin bubur. Iya kan Kak?"


Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun, tawa Airin pecah saat itu juga ketika mendengar jawaban ekstrim Jasmin tentang bayinya yang kini ada di mana.


"Hahaha... Min, bayinya masih di ruangan bayi. Di dalem inkubator sampai kondisi fisiknya sesuai sama temperatur udara luar. Karena waktu menjelang persalinan sering kontraksi palsu, ya makanya si bayi gak boleh dibawa keluar dulu dari inkubator, takutnya kalo dikeluarin pas kondisinya belum cocok sama temperatur normal, nanti kulitnya kena iritasi atau alergi," jelas Airin dengan lembut pada Jasmin.


"Ckck... kalian ini... emang belum belajar ya cara penanganan bayi baru lahir?"


Jasmin menggeleng polos, dan Haris pun melakukan hal demikian.


"Hmm dasar, yang satu anak kucing. Yang satu anak ayam, hehe," gumam Airin dengan lucu ketika melihat tampang polos kedua adiknya ini.


"Tapi Jasmin kucing mahal kan Kak? Kalo Haris keliatan kayak anak ayam yang suka di kasih pilox itu. Wkwkwk...."


"Haris kira bayi baru lahir tuh bisa disuapin kayak di iklan gitu loh," timpal Haris pada Airin, Jasmin pun ikut memperhatikan obrolan lumayan serius ini.


"Ck, kamu kemakan iklan nih Ris. Enggak lah, bayi itu bisa dikasih makanan pendamping ASI kalau umurnya udah enam bulan. Kalo masih kurang dari enam bulan, dilarang dikasih makanan dalam bentuk apa pun. Wajib ASI. Atau susu formula yang sesuai sama usianya," jelas Airin pada kedua adiknya.


Jasmin manggut-manggut, dan mencatat itu dalam kepalanya.


"Kalian kalo ke bidan gak konsul masalah itu?“


Haris menggeleng. “Kita gak ke bidan Kak. Masih ke dokter kandungan."


"Oh... iya sih, tapi nanti kalau usia kandungan kamu udah 7 bulanan, mendingan konsultasi juga ke bidan, biar dikasih juga tips mengurus bayi. Nanti dikasih buku gitu Min, Ris. Dan lahiran sama bidan itu lebih dianjurkan dibandingkan lahiran dengan bantuan dokter kandungan loh."


Setelah menjenguk Airin, kini giliran Haris dan Jasmin menjenguk bayi yang sudah lama dinanti-nanti kehadirannya oleh keluarga. Bayi dalam inkubator yang bertuliskan identitas berupa 'Bayi NY. Airin dan Tn. Surya' terlihat tertidur pulas, suster bilang kalau bayinya sangat tenang dan jarang menangis.

__ADS_1


Jasmin mengetukkan jemarinya pada kaca, dan bayi itu tidak bereaksi apa pun. Haris yang di sampingnya melakukan hal yang sama.


"Nanti kita punya yang kayak gini juga, Min...," ucap Haris dengan lembut, sorot matanya menampilkan rasa sayang yang tidak biasa. Ada tatapan sayang yang tidak bisa Jasmin gambarkan dengan kata-kata. Pokoknya Haris beda banget menurut Jasmin.


"Hmmm... Ris, jadi makin envy sama kak Airin, sama kak Surya juga."


"Bayinya cantik banget...," tambah Jasmin dengan senyum di bibirnya.


"Kecil banget bayinya... kek punya Surya," ujar Haris dengan polos.


Jasmin menyikut pinggang suaminya sehingga membuat Haris meringis. "Idungnya kecil maksud gue... kayak punya Surya."


Jasmin mendelike malas. "Kirain!"


"Kirain apa hayoh.. Jandut mesum nih, wkwkwk!" goda Haris sembari menunjuk wajah memerah Jasmin dengan tingkah kekanak-kanakannya.


"Oh iya, mami sama papa pada ke mana sih?"


Jasmin mengalihkan obrolannya seketika, dan Haris baru kepikiran dengan para orang tua yang belum ditemui kebobrokannya sejak tiba di rumah sakit.


***


Surya menjadi pusat perhatian semua orang ketika dirinya baru saja tiba dari minimarket lima belas menit lalu. Semua keluarga tanpa terkecuali hadir di sana, bahkan Jasmin dan Haris pun ikut andil untuk perihal satu ini.


Sementara Airin hanya bisa mengulum senyum ketika semua mata penasaran dengan putusan akhir Surya mengenai anak mereka.


"Memangnya kenapa sih? Ada yang mau kasih nama?" tambah Surya lagi dengan penasaran.


Dimas mengacungkan tangannya. "Papa Sur... Papa mau kasih nama buat cucu pertama Papa, boleh ya?"


Airin menutup bibirnya dan tertawa kecil. "Boleh pah... emang papa ada nama apa buat cucunya?"


Dimas tersenyum amat lebar dan melirik Jordan dengan senyum kemenangan. "Nama ini punya filosofi gabungan antara nama kalian... Surya dan Airin," beritahu Dimas.


Jasmin memijat pelipisnya. “Udah pasti aneh-aneh Ris... ntar kalo kita kasih nama anak, jangan bawa-bawa papa ya!" bisik Jasmin pada telinga Haris. Haris mengangguk setuju.


"Jadi.. apa namanya Pah?" tanya Surya.


"Hehe... Surya dan Airin... kita ambil nama depan kamu SO- dan nama belakang Airin, Ren. Jadi, papa mau kasih nama Jingga!" ucap Dimas semangat.


Hani menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Fany hanya bisa mengelus bahu sahabatnya itu agar tetap sabar dengan kelakuan suaminya.


"Dim... itu gak nyambung. Dari mana ujungnya nama SO sama Ren digabung jadi Jingga, lu belajar filsafat apa belajar mancing emosi nih?" gerutu Jordan tak terima.


"Wohoo. Sabar wahai sobat, belum selesai, jadi giniloh... Soren itu kan warna ya, kalau di spesialisasikan, Soren itu tidak mengandung nilai estetika. Coba kalau Soren dengan nilai KBBI yang baik dan benar apa? Jingga, kan?"


"Itu Oren Papa... Oren... bukan Soren!" teriak Jasmin yang sepertinya daritadi tidak kuat mendengar ocehan papanya.

__ADS_1


Dimas nyengir, "Hehe... iya iya. Aduh ngambek terus ini ibu hamil. Kamu sabar, nanti kalo bayi kamu udah lahir, papa juga bakalan bantu kasih nama... iya gak?" Dimas mengedipkan sebelah matanya ke arah Jasmin, dan Jasmin langsung saja membalikkan wajahnya ke arah berlawanan.


"Hm, namanya bagus kok Pah... Airin suka" komentar Airin.


Seisi kamar terkejut menatap Airin, kecuali Dimas yang tersenyum berbinar ke arah menantunya. Surya pun ikut setuju dengan jawaban Airin.


"Rin... kamu serius mau kasih nama anakmu Jingga? Nanti kalo dipanggil Jing loh," kata Fany dengan ekspresi tak enak.


***


Jasmin merebahkan dirinya di atas tempat tidur, disusul Haris yang masih sibuk dengan HPnya setelah pria itu selesai membereskan kamar. Capek juga setelah berkunjung ke rumah sakit dan mendengar ide-ide absurd para orang tua tentang nama bayi perempuan yang akan diberikan pada anak pertama Surya dan Airin.


Haris menyimpan HPnya dan berbalik ke arah Jasmin, lalu menempelkan telapak tangannya pada perut Jasmin yang membuncit.


Jasmin tersenyum kecut. “Nold... bayinya cewek apa cowok, ya?" gumam Jasmin dengan raut wajah mengantuk.


Haris tersenyum tipis, dan mengelus perut Jasmin dengan gerakan memutar. Haris melakukan ini atas saran dokter, agar Jasmin merasa tenang dan tentunya bayi dalam kandungan pun merasa aman dengan sentuhan Haris.


"Ngeliat bayi kak Airin... kok cantik banget, envy tahu gak," tambah Jasmin dengan bibir ditekuk.


"Namanya aneh gak sih menurut lu, Min?"


Jasmin terkikik, "Enggak sih... namanya bagus, tapi gue lucu aja pas papi kasih nama. Wkwkwk."


"Ck, keluarga kita kenapa aneh banget ya, haaah, untung anak kita gak lahir duluan. Bisa berabe ntar dikasih nama gotong royong kayak gitu." Haris menghela napasnya.


"Beb, tidur yuk...," ajak Haris sambil memejamkan matanya. Jasmin cemberut. "Ris... mau tengkurep!" Jasmin merengek kepada Haris yang malam itu sudah benar-benar ngantuk berat karena seharian tidak istirahat sama sekali.


"Jangan aneh-aneh deh, Jub... kalo tengkurep ntar si bayi gak bisa napas."


"Terus gimana? Gue kangen tidur tengkurep. Udah 3 bulan, sampe lupa rasanya!" keluh Jasmin sembari memukul-mukul lengan Haris, bukan pukulan keras sih, tetapi cukup untuk membuat Haris meringis.


Haris menggaruk kepalanya dengan jengkel, dan menatap Jasmin tajam. Jasmin ciut di tempatnya tidur dan memasang tampang manis.


"Gue harus gimana sekarang?!"


Jasmin nyengir. "Hehe...."


"Hehe lagi!" omel Haris yang justru disambut tawa kecil istrinya. "Ahhha ...!" Haris baru sadar akan sesuatu. "Mau gue apa lu yang buka bajunya?"


"Hihi... Terserah Haris!"


Srett!


Haris pun melepas kaos yang dikenakannya membuat Jasmin bersorak bahagia ketika menyaksikan otot-otot kekar yang ditampilkan di hadapan matanya.


"Ih yaa ampun! Mandjiw, mandjiw, mandjiw!" ucap Jasmin dengan reaksi berlebihan, sementara itu Haris tertawa kecil dengan tingkah Jasmin yang banyak berubah sejak hamil anak pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2