
"Haris, kamu bisa dansa kan?" tanya Mina ketika musik sudah mulai berjalan 1 setengah menit, Harus menggelengkan kepalanya, dia baru kali ini datang ke pesta sekolah dan bersama seorang cewek, gerakan Haris agak kaku, membuat Mina tertawa sambil menutup bibirnya.
"Harus ya?" tanya Haris bingung.
"Hmm... ini ritual pestanya begini, kamu suka nggak sama prom night?"
Haris menggelengkan kepalanya lagi. “Enggak...," jawab Haris.
Mina menghela napas kasar. "Kenapa? Acaranya padahal aku yang buat loh. Emang gak seru?"
"Eh, bukan gitu... acaranya bagus kok, tapi... aku orangnya introvert. Hehe," ujar Haris dipaksakan, Mina tersenyum dan mengamit tangan Haris untuk segera berdansa.
"Oke kalo gitu, belajar dansa ya sama aku... nih begini, tangan kamu simpen disini." Mina menaruh tangan kiri Haris di pinggangnya, sementara Mina merangkul punggung Haris sambil bergerak mengikuti musik ke kiri dan kanan dengan perlahan.
"Oh, gini," ujar Haris masih dengan kebingungan.
Mina lagi-lagi tersenyum. "Heem... gampang, kan?"
"Ckck... pake pura-pura ga bisa lagi!" Jasmin mengumpat seorang diri saat melihat Haris tak bisa berdansa, padahal jelas-jelas sewaktu di SMP dulu si Haris itu ikutan lomba modern dance di sekolah, apa dia hilang ingatan? Sampai tidak bisa dansa dikit doang? Apa caper ke Mina ya biar bisa pegang-pegang? Jasmin bergidik dan memutuskan untuk menelpon Maminya untuk minta di jemput.
Tuuuttt... tuult.
Nada tunggu masih Jasmin dengar, sudah tiga panggilan tidak mendapatkan jawaban dari Hani, hal ini membuat Jasmin terus mengulang panggilan agar Maminya itu segera mengangkat teleponnya.
"Mami ke mana sihh," keluh Jasmin sambil menggigit bibir bawahnya, dia mengetik pesan segera dan mencoba untuk menghubungi lagi Hani.
Tapi....
Hani ternyata menelpon terlebih dahulu sebelum Jasmin men-dial-nya, Jasmin langsung menerima panggilan dari Hani saat itu juga.
"Mi...." Jasmin membeku saat mendengar suara sirene ambulance dan suara bising kendaraan memenuhi telinganya.
"Mi...," panggil Jasmin pelan.
__ADS_1
"Hallo... ini dengan Putrinya Ibu Hani? Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan kalau Ibunya sedang ditangani tim dokter rumah sakit Imanuel karena mengalami kecelakaan lalu lintas."
"APA?! MAMI...."
Jasmin berteriak cukup keras sampai pesta dansa itu berhenti karenanya, Jasmin menjerit lalu menangis dengan tangan gemetar, HP nya jatuh ke lantai padahal panggilan masih terhubung. Jasmin tampak linglung dan histeris saat ini, semua orang langsung beralih pada Jasmin dan bertanya tentang keadaan gadis itu, tetapi Jasmin tidak bisa berbuat apa-apa selain menjatuhkan dirinya ke lantai dengan tubuh gemetar.
"Min, kenapa?"
"Jasmin, lu ga apa-apa?"
"Ya ampun, Jasmin, ada apa?“
"Min, ada apa? Lu baik-baik aja kan?"
Jasmin tidak bisa mendengar semua kekhawatiran teman-temannya dengan jelas, telinganya sangat berdengung sekarang, Jasmin tidak bisa berpikir dan shock berat.
Haris datang dan mengambil alih HP Jasmin untuk bicara dengan si penelpon, setelah itu ada pengurus osis yang menertibkan pesta agar kondisi Jasmin membaik tanpa adanya keributan.
Haris tampaknya tidak memedulikan pasangan prom nightnya, sebab cowok itu terlihat lebih fokus pada urusan Jasmin yang tiba-tiba saja menjerit ditengah-tengah pesta dansa.
Setelah beberapa menit, akhirnya Jasmin bisa sedikit lebih tenang meskipun dirinya tetap panik dan ketakutan. Haris menghampiri Jasmin dan menyerahkan helm ke pangkuan gadis itu.
Jasmin terisak dan mendongak ke arah Haris. "Kita pergi ke rumah sakit. Tante Hani udah ditangani dokter kok... lu tenang ya," ucap Haris dengan sedikit senyum di bibirnya.
Risa dan Ira mengusap punggung Jasmin dengan lembut.
"Hiikkss... gue takut," ujar Jasmin putus-putus.
"Min... yang sabar, gue yakin mami lu baik-baik aja kok."
"Hati-hati dijalannya," ujar Risa dan Ira menenangkan.
Haris mengambil tangan Jasmin dan mengajak gadis itu untuk meninggalkan pesta, Mina tampak kecewa karena Haris sama sekali tidak pamit padanya dan meninggalkannya seorang diri begitu saja. Bahkan Haris pun sama sekali tidak menoleh ke arahnya ketika membawa Jasmin pergi.
__ADS_1
Haris berjalan dengan cepat menuju parkiran diikuti Jasmin yang di belakangnya setengah berlari, ketika sampai di parkiran Jasmin masih saja menangis membuat Haris urung untuk menyalakan mesin motornya.
Haris menatap Jasmin dengan tatapan khawatir, persis Haris yang seperti biasanya.
"Jangan nangis terus... nih, pake jas gue." Haris menyerahkan jas hitamnya dan memasangkannya pada pundak Jasmin, jas itu tampak sangat kebesaran ditubuh kecil Jasmin.
"Ris." Jasmin tidak kuasa menahan tangisannya, dia menjadi sangat cengeng belakangan ini karena banyak kejadian buruk yang menimpanya.
Haris menarik tubuh Jasmin ke arahnya dan memeluknya, Jasmin membenamkan wajahnya pada dada bidang Haris yang terbalut kemeja satin lembut, Haris menepuk-nepuk punggung Jasmin dan menghirup dalam-dalam aroma rambut panjang Jasmin saat mereka berpelukan.
***
"Its okay Min... mami baik-baik aja.“
Hani mengalami kecelakaan yang cukup serius, tetapi beruntung hanya mobilnya saja yang rusak parah, Hani mendapatkan retak di ruas kakinya dan sedikit cedera di bagian lengan kirinya karena terjadi hantaman keras.
Kondisinya sekarang sudah membaik setelah menjalankan operasi.
Haris tampak menyandarkan kepalanya pada dinding, sementara dirinya duduk di kursi tunggu. Jasmin yang sudah lebih baik menghampiri sahabatnya itu dan menyerahkan susu kotak pada Haris.
Haris tersenyum kecil dan menerima susu pemberian Jasmin. "Thanks."
Jasmin duduk di samping Haris, jas milik Haris masih ia kenakan, lumayan juga untuk menghalau hawa dingin malam.
"Gue yang harusnya makasih," ucap Jasmin pelan.
"Kan gue pernah bilang...."
Jasmin menoleh ke arah Haris, alisnya naik sebelah. "Bilang apa?"
Haris tersenyum lembut. “Kalo gue akan tetap tinggal... buat lo."
Saat itulah, Jasmin merasakan jatuh cinta lagi pada sahabatnya sendiri, dan Jasmin berusaha untuk menolak perasaannya, saat itu pula Jasmin menghindari Haris seperti sosok Haris adalah hantu. Jasmin lebih memilih untuk menyibukkan dirinya bersama Hani atau kegiatan sekolah yang sebenarnya tidak begitu ia sukai. Sampai pada akhirnya, Jasmin bertemu Surya di Italy saat liburan sekolah dan melupakan perasaan cintanya lagi pada Haris.
__ADS_1