
"Nold... gue laper terus, gimana dong?" Jasmin manyun sambil mengusap perutnya yang sekarang sudah benar-benar buncit, Haris yang ada di sampingnya hanya bisa tertawa kecil menanggapi keluhan istrinya itu.
"Ya gapapa Jandut... makan aja, mau apa? Aa beliin nih sekarang."
"Ih tumben baik banget gak kayak biasanya," ujar Jasmin kaget, ketika melihat Haris langsung bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk pergi.
"Ck, giliran nyebelin dikatain kebiasaan. Giliran perhatian dikata tumben. Maunya apasih Jandut ini?" balas Haris sembari mencubit lembut kedua pipi Jasmin.
"Hehehe... ya enggak gitu. Lu kayak berubah gitu belakangan ini. Jadi gak seru!“
Haris menghela napasnya dan kembali duduk di samping Jasmin yang memasang tampang cemberut.
"Berubah jadi apa sih, Min? Jadi gak seru gimana?"
"Ya gitu ...." Jasmin menatap Haris dengan sorot tak biasa. "Jadi gak seru... kayak bapak-bapak.. aneh rasanya."
Haris cekikikan, "Kan ini emang udah mau jadi bapak-bapak. Lagian, gimana mau ngajak lu seru-seruan. Lu lagi berbadan dua Min, ada jerih payah gue di dalem situ..." tunjuk Haris pada perut Jasmin.
Jasmin langsung memeluk perutnya sendiri. "Shh.. manggilnya harus lembut. Jangan tunjuk-tunjuk gitu... Si bayi lagi laper soalnya!" peringat Jasmin tak terima, tetapi suaranya sangat pelan dan penuh kelembutan.
"Iya iya," kata Haris dengan cepat dan pelan.
"Yaudah, mau makan apa sekarang?"
"Mau mie kuah pake telor, dikasih irisan cabe rawit 2 setengah biji terus wadahnya mangkok ayam jago, ditambahin sawi iris-iris tipis 2 lembar... Hehe," jelas Jasmin tentang keinginannya.
Haris udah kebal sih sama kemauan Jasmin yang aneh-aneh ini. "Nggak sekalian makannya mau pake sumpit mie ayam terus sendoknya pake sendok sayur sop hajatan?"
Jasmin menggeleng. "Hehe... engga itu aja.. Tapi..."
"Tapi?" tanya Haris dengan dahi berkerut.
"Mau Arnold yang buatin... gamau sama si mbok."
Akhirnya Haris pergi ke dapur diikuti oleh Jasmin yang kini duduk di salah satu kursi ruang makan. Penghuni rumah yang masih berkeliaran hanya mereka berdua, sementara Hamid dan Sainal sepertinya sudah tidur karena waktu juga sudah menunjukkan lewat dari tengah malam.
Haris menyiapkan dua setengah cabe yang sudah ia iris, kemudian panci berisi air yang sedang dipanaskan di atas kompor. Haris juga sudah menyiapkan telur dan juga sawi yang ia iris tipis-tipis. Tidak lupa mie instan kuah rasa ayam bawang kesukaan Jasmin sudah ia buka bungkusnya. Jasmin bertepuk tangan kecil saat melihat suaminya masak.
Masak mie aja pake celemek Haris tuh. Totalitas banget.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, dengan menunggu kurang dari 10 menit, mie instan sesuai permintaan Ibu hamil pun kini sudah terhidang di atas meja makan. Haris juga menyiapkan susu ibu hamil untuk Jasmin di samping Mie dalam mangkok ayam jago.
Jasmin tersenyum sangat lebar ke arah Haris, ibu hamil itu menunduk. “Dede bayi... kita makan ya... Papa udah buatin mie yang kamu mau nih...," beritahu Jasmin pada bayinya.
Haris tertawa kecil, “Ayo dimakan, ntar mienya ngembang kayak lu.“
"Apasih Arnold!" Jasmin mendengkus ketika Haris bicara begitu, tetapi dia tidak peduli lagi karena Mie yang ada di hadapannya terlihat sangat menggunggah selera.
"Mmmm... enak!" kata Jasmin dengan ceria saat dua suapan mie beserta kuahnya sudah masuk ke dalam perut. Haris memperhatikan di sebrangnya sambil melipat lengan di depan dada.
"Aa kenapa liatin? Mau?"
Haris tersenyum hangat ke arah Jasmin dan menggeleng kecil saat istrinya itu bertanya dengan imut begitu.
"Ih apasih ngeliatin terus." dengkus Jasmin lagi tak enak, dia memperhatikan wajahnya lewat pantulan layar Hp, tidak ada apa-apa, tapi Haris masih saja menatapnya sambil senyam-senyum.
"Kenapa sih... gak boleh nih ceritanya liatin istri sendiri?"
Pipi Jasmin bersemburat merah, dia menyembunyikan senyumnya dari Haris.
"Malu ih!" ucap Jasmin dengan lembut.
Jasmin tersenyum, "Iya.. mualnya ilang gitu aja loh... mungkin, si bayi sekarang udah terbiasa didalem sini Ris. Makanya gak rewel"
"Min... gue gak nyangka bisa hamilin lu. sumpah, terus kita bahas bayi bareng bareng gini."
Jasmin cekikikan, wajah Haris tampak sangat takjub sekarang ini.
"Masih kayak mimpi aja gitu... bentar lagi mau punya bayi."
"Iya gak nyangka gue juga. Padahal dulu kita temen ribut," timpal Jasmin tak mau kalah.
"Ya, sampe sekarang juga suka ribut sih. Cuma diupgrade, ributnya nambah lokasi jadi di kasur... hehe."
***
Sebelum berangkat ke Jogja dua hari yang lalu, Haris memang sudah belanja beragam macam buku sebagai penambah ilmu pengetahuannya yang akan beralig profesi dari suami menjadi Ayah.
Kini setumpuk buku tampak menggunung di meja samping tempat tidur Haris, Haris sedang membaca satu buku dengan asik dan khidmat sementara sisa bukunya yang lain sedang menunggu giliran. Jasmin yang mencoba untuk tidur meraih lengan suaminya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Nold... belum tidur? Bacanya besok lagi aja...,“ beritahu Jasmin dengan terkantuk-kantuk.
Haris dengan lembut mengusap puncak kepala Jasmin dan menjatuhkan kecupan di sana, mirip sekali dengan suami-suami di novel.
Jasmin tersenyum kecil. “Bayinya kan gak bakal brojol besok," tambah Jasmin lagi dengan malas.
Haris ini dariladi baca terus.
"Biarin dong, semakin banyak referensi semakin bagus," jawab Haris dengan serius. Jasmin mengerutkan alisnya, dan melirik bacaan Haris yang tidak terlihat dengan jelas. Lucu sih ngeliat Haris banyak tingkah sok pinter kayak sekarang, tapi jadi aneh aja kalo Haris belajar dan baca begini. Seperti bukan Haris.
"Emang itu baca buku apaan sih?" tanya Jasmin penasaran.
Haris menunjukkan jilid buku sambil nyengir jahil, "Hehehe 100 cara merawat bayi gajah... seru banget ini buku Min! Lu harus baca pokoknya, ntar abis gue beres giliran lu gantian baca."
Padahal Jasmin udah merasa Haris berubah, taunya masih aja nyebelin kayak gini pake nyengir segala.
"Jadi bayi gajah tuh gak digendong-gendong Min pas baru lahir... dia langsung bisa jalan kaki nyamperin emaknya!" kata Haris dengan bangga.
"Hebat banget kan?!" ekspresi Haris terlihat benar-benar takjub sekarang akan kehebatan bayi gajah.
Jasmin hanya bisa tersenyum garing ke arah Haris.
"AW!" Haris mengaduh saat bantal empuk itu dipukulkan Jasmin pada bahunya. Haris tidak tahu apa sebabnya dia dipukul bantal begitu.
Jasmin kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, sementara Haris menatap horor ke arah punggung istrinya.
"Kenapa mukul sih Min... kan gue ceritain kehebatan bayi gajah...," ujar Haris polos tanpa dosa.
"TIDUR RIS... KALO GAMAU GUE SMACKDOWN!"
Haris langsung kicep. "iya..."
"galak bener...," bisik Haris dengan pelan sekali. Haris kemudian menyimpan buku '100 cara mudah merawat bayi gajah' nya ke atas tumpukan buku dan mulai membaringkan tubuhnya di samping Jasmin dengan hati-hati.
"Lampunya.. matiin!”
"iyaaa Nyai Ratu Ajeng Roro Jasmin," balas Haris dengan hormat, sementara Jasmin hanya bisa cengengesan dengan matanya yang mulai terpejam.
Bersambung 😆
__ADS_1