
FLASHBACK
"Haris juga mau nikah...." Haris membuat pengumuman saat makan malam keluarga berlangsung setelah resepsi pernikahan Surya dan Airin sukses digelar.
Cowok yang jarang ngomong itu menjadi pusat perhatian satu meja makan, apalagi Fany yang merupakan Mama Haris.
"Emm Ris, kamu jangan bercanda," timpal Fany dengan serius. Sebab seingat Fany, anak semata wayangnya ini tidak memiliki pacar atau teman dekat wanita.
Haris tersenyum kecil sembari mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku kemeja batiknya. "Enggak bercanda Mah, serius," ujar Haris sembari memamerkan cincin indah bertahtakan satu berlian mungil.
"Terus, siapa calonnya?" tanya Hani penasaran.
Haris kemudian menghampiri seorang gadis yang tengah menikmati sepiring bolu pengantin, gadis itu sedang menyantap satu buah ceri dengan bibir agak tercecer krim.
"Jasmin...."
Jasmin celingukan, Haris yang mengenakan jas bekas resepsi kini mendekatinya dan memberikan sebuah cincin kehadapannya dengan senyum manis, membuat Jasmin bersiap untuk mengejek karena kelakuan noraknya ini.
"Apaan sih," ujar Jasmin dengan bisikan pelan.
Semua orang tua tampak menatap dengan serius dan penasaran.
__ADS_1
"Min, will you marry me?"
Jasmin melihat ke sana kemari, kemudian pandangannya jatuh pada Surya dan Airin yang duduk agak jauh dari dirinya dan keluarga. Tampak Surya begitu menyayangi Airin dan menyanjung gadis itu dengan tatapan mesra penuh kasih sayang dan cinta, membuat Jasmin yang tengah dilanda cemburu besar itu pun segera menerima cincin dari Haris dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, gue mau!"
***
Jumat siang yang agak mendung, Haris terkantuk-kantuk mendengarkan khutbah jumatan di masjid agung yang dekat dengan toko mebeulnya. Masjid tampak padat di Jumat siang ini, tidak seperti biasanya yang sepi dengan jamaah.
Sambil menahan kantuk, Haris juga sedikit meresapi isi khutbah siang itu yang disampaikan oleh seorang ustadz muda yang Haris kenal sejak SMA. Dia adalah Ustadz Umin Muslimin yang tampan bak Oppa dalam drama Korea, Ustad Umin merupakan kakak kelas Haris sewaktu SMA dulu, jadi wajar kalau Haris kenal dan terkadang mereka juga mengobrol jika ada waktu luang dari masing-masing pekerjaan.
"Alangkah baiknya sebelum shalat Jumat itu pamit dulu pada istri, cium keningnya, cium tangannya. Itu pahalanya sama dengan berangkat ke tanah suci," ujar ustad dengan lembut dan bangga.
"Apalagi ketika sunnah rasul saat malam Jumat ketika bapak-bapak yang sudah beristri memberikan kasih sayang pada istrinya. Niscaya turun 70.000 malaikat ke bumi untuk mendoakan bapak dan pasangannya."
Haris menyebikan bibirnya, malam Jumat semalam dia justru pisah ranjang dengan Jasmin, jangankan cium kening saat hendak jumatan, pagi tadi aja mereka tidak saling sapa satu sama lain.
Haris memutuskan untuk berhenti memikirkan Jasmin saat ini, dia ingin fokus pada kehidupannya saja, bikin furniture, cari ide lagi, jadi gamers, santai dan mabar bareng teman-temannya. Namun, apa bisa Haris bersikap seperti itu lagi saat sudah terjalin ikatan antara dirinya dan Jasmin? Dia adalah seorang suami sekarang, dan Haris merasa terbebani dengan gelar barunya ini. Pernikahan main-main yang mereka lakukan dari awal memang sudah salah.
Saat melamun di selasar masjid, Haris mendapatkan tepukan pelan di bahu kokohnya. Ternyata orang yang menepuk bahunya adalah ustad Umin, ustad tersenyum tipis dan duduk di sisi Haris.
__ADS_1
"Tumben, katanya mau curhat," sapa Umin langsung.
Haris tersenyum kecil sambil mengusap wajahnya kasar. "Hehe... iya nih. Tumben," balas Haris pelan, masih sedikit malu untuk curhat, tetapi mau pada siapa lagi Haris curhat kalau bukan pada ustad Umin.
"Ada masalah, Ris? Saya perhatikan kamu ngelamun aja dari tadi."
"Hmm... enggak sih, saya mau tanya aja, Tad."
"Tanya apa?"
"Ituloh... perihal pernikahan... apa hukumnya ya, kalau pasangan suami istri tidak saling mencintai?"
Umin tampak tersenyum kecil. “Hmm... kamu tahu nggak Ris... semakin tua, setiap pasangan butuh cinta."
Haris membulatkan kedua mata sipitnya... Haris kan belum tua.
Umin tertawa kecil melihat ekspresi polos Haris. "Pasti ada rasa sayang, Ris. Meskipun tidak cinta. Memangnya, ada masalah, Ris? Tiba-tiba tanya begitu?"
Haris mendengkus kecil. “Sayang? kayaknya enggak juga deh... gimana mau sayang, kalau setiap harinya ya berantem, ribut, kita juga terlalu kekanak-kanakan. Ustad Umin juga tahu dong, gimana saya sama Jasmin... saya bingung."
"Coba Ris pikirkan lagi, jangan asal ambil kesimpulan. Coba minta petunjuk lagi, berdoa lagi minta diyakinkan dan diberi jawaban. Ingat Ris, soal perasaan itu dalamnya melebihi misteri samudera luas. Mungkin tanpa sadar kamu sama istri kamu itu saling membutuhkan. Cinta atau sayang kan enggak selalu bisa ditunjukkan secara langsung, enggak seperti kamu makan cabe yang langsung kerasa pedesnya. Iya nggak?"
__ADS_1
Haris terdiam, dia masih berpikir keras sampai sekarang dengan ekspresi kosong seperti orang melamun. Dia ingin kembali seperti dulu, Haris tidak ingin memiliki perasaan apa pun untuk Jasmin seperti yang tengah ia rasakan sekarang.