
Sejak tiga jam lalu tiba di rumah, Jasmin masih berbaring di atas tempat tidur, dengan perut kosong sejak pagi dan pakaian yang masih sama pula. Jasmin memiringkan tubuhnya, menatap kosong ke arah foto USG yang ia pajang di samping ranjang. Cahaya kamar sangat redup, tetapi rasa kantuk tak kunjung muncul. Sejam lalu, Haris ada di sampingnya, tetapi sekarang Haris sedang berada di dapur, tidak tahu lagi ngapain.
Pintu kamar terbuka, Haris muncul sambil membawa nampan. Setidaknya, Haris sudah cukup dewasa untuk membawakan Jasmin makanan dan segelas susu yang sepertinya tidak akan Jasmin minum. Haris tersenyum tipis dan duduk di tepian ranjang, mengusap lengan Jasmin dengan lembut.
"Makan dulu Min, nih ada buah-buahan yang udah gue kupasin, ada pie susu juga, nah... sama susunya buat si bayi," ucap Haris sambil memperlihatkan isi nampan.
Jasmin menggelengkan kepalanya, dan air mata menuruni pipi tembamnya.
Haris mencelos, gimana caranya ngomong sama orang hamil sih?!
"Gak laper...," ucap Jasmin. "Kok nangis?" tanya Haris semakin bingung.
"Pengen aja."
Haris mendesah pelan, tetapi itu cukup untuk membuat Jasmin tak nyaman. Reaksi Haris kalau udah mendesah dengan raut jengkel, dan menghela napas, entah kenapa membuat Jasmin jengkel aja gitu.
"Bilang dong Min, gue kan gak bisa baca pikiran. Jangan diem-diem terus nangis. Gue bingung."
Jasmin makin terisak ketika Haris justru mendesaknya untuk bicara, dimata Jasmin sekarang ini Haris bener-bener egois, dan sama sekali tidak pengertian.
"Kenapa? Bilang sini... kecapean? Ada yang jahatin pas di sana?" tanya Haris lagi.
Jasmin masih terisak-isak, mencoba diri untuk bicara dan melawan Haris, tetapi Jasmin tidak sanggup, tubuhnya lemes banget dan pengennya rebahan, bisa tidak sih Haris ngertiin kalau Jasmin tuh jengkel.
"Udahlah, capek!" Jasmin menghindari tatapan Haris yang terus terarah padanya, Haris berdecak pelan.
"Min, didalem perut kamu tuh ada si bayi. Dia pasti laper Min, dia juga pasti bingung kenapa mamanya nangis, dia juga pasti sama kayak gue, yang kesel karena lu gak ngomong-ngomong."
Masih saja terisak, sekarang justru lebih parah karena Haris bisa melihat kalau bahu Jasmin bergetar. Haris memaksa Jasmin untuk bangun, tetapi masih dengan sangat hati-hati, dengan sedikit paksaan akhirnya Jasmin mau duduk.
"Kan tadi pagi gue udah bilang, lu pasti kecapean kan? Capeknya gak wajar Min, kalo sampe gamau ngomong... gue yang ngebatin lama-lama," ucap Haris memelas.
Entah kenapa mendengar Haris ngomong seperti ini, Jasmin jadi senyum.
"Lu tahu gak, sejak lu ketahuan hamil. Badan gue kecepatannya jadi turun 100mbps. Jadi lelet Min."
Jasmin menatap Haris, bibirnya cemberut gemesin, Haris balik menatap Jasmin sambil memiringkan kepalanya.
"Makan dulu ya? Biar ngoceh sama nangisnya ada tenaga?"
Jasmin mengangguk, gadis itu menunjuk sesuatu dalam piring. "Mau apel," katanya dengan suara serak.
Haris mengambilkan apel yang sudah dipotong-potong, lalu menyuapkannya pada Jasmin.
__ADS_1
"Mau apa lagi? Anggur mau?"
Jasmin mengangguk dengan mulut yang sudah penuh dengan dua potongan besar apel.
"Kan gue udah bilang, jangan kerja dulu, jangan pergi pergian sendiri dulu. Apalagi ngerias, lu berdiri terus kan seharian?"
"Paksain aja dulu di rumah, atau ikut gue ke toko. Apa salahnya sih? Kalau bete ya tinggal bilang, nanti kita jalan-jalan. Jangan diem-diem aja terus dibawa nangis"
"Ris, gue mau nanya."
Haris menghentikan suapannya pada Jasmin dan menatap istrinya itu dengan tenang. "Nanya apa?"
"Lu ...." Jasmin menunduk, jemarinya memainkan garpu yang ia tusuk-tusukkan ke atas bantal. "Kenapa putus sama Mina?"
Bukannya menjawab, Haris malah terkekeh kecil, "Hahaha... masih inget aja sama si Mina.“
Jasmin mendengkus sebal. "Ih. Jawab kek. Gue penasaran. Lu aja tahu kan sejarah pacaran gue sama Kai. Masa gue gak tahu gimana kisah lu sama Mina."
"Ckck... ibu hamil kepo nih ceritanya? Yakin gak bakal cemburu?" tanya Haris dengan ekspresi mengejek.
Jasmin menghela napasnya. “Garpu tajem loh," ancam Jasmin sambil menyodorkan garpu di tangannya kehadapan hidung besar Haris.
Haris nyengir, "Cium dulu dong, ntar gue ceritain." Haris menunjuk pipi kanannya dan mendekati Jasmin, Jasmin tertawa geli dan akhirnya mencium Haris, pakai garpu.
"Kenapa sih penasaran sama si Mina, Min?" tanya Haris tergesa.
Jasmin menundukkan kepalanya, bibirnya komat-kamit terlihat jengkel.
"Ya heran aja, Mina cantik, pinter dan selalu juara umum. Mina juga sempet curhat sama gue soal dia yang suka banget sama lu. Gue penasaran aja, kenapa lu putus sama dia," kata Jasmin bersungut-sungut.
Haris mengulum senyum. "Kalau gue gak putus sama Mina, gue gak bakal hamilin elu, Min," kata Haris polos yang membuat Jasmin memelototinya jengkel.
"Serius ih. Bisa gak?" ucap Jasmin galak.
"Engga. Wlee." Haris malah meleletkan lidahnya mengejek.
Melihat Jasmin cemberut dan jengkel, Haris tertawa ngakak, "Yaudah yaudah... gue ceritain deh, ayok sambil tiduran. Biar gue gak diserang sama garpu ...."
Haris merebahkan Jasmin ke atas tempat tidur, disusul oleh dirinya yang menempatkan diri di samping Jasmin.
***
Mina terlihat manis seperti biasanya, gadis itu juga mengenakan dress yang cantik seperti menunjukkan bahwa dirinya luar biasa, selain pintar pun Mina ini sangat modis. Haris duduk di teras depan rumah Mina, dan Mina duduk di sampingnya dengan senyum manis. Mina akan melupakan kesalahan Haris saat prom night, dan akan menganggap hubungan mereka baik-baik saja.
__ADS_1
"Na...," panggil Haris pelan, dan Haris tahu kalau Mina tidak suka dipanggil dengan nama pendeknya begitu. Haris sengaja.
Mina menghela napasnya gusar. “Ris!" ujar Mina dengan mata mendelik.
"Gue ke sini sebenernya mau...."
"Enggak! Aku duluan yang ngomong!" Mina tiba-tiba menutup kedua telinganya, senyum Mina pudar dan wajahnya tampak kesal dan tidak mau menerima semua perkataan yang akan keluar dari mulut lelaki itu.
"Gue...." Haris tidak melanjutkan kata-katanya karena percuma, Mina juga menutup telinganya.
"Aku mau lanjut sekolah di singapore Ris. Dan aku pikir, aku... gak bisa lanjutin hubungan kita... Aku... aku mau putus aja," ujar Mina susah payah, bahkan ucapannya terbata-bata.
Haris tersenyum kecil. "Selamat Na...," ucap Haris sembari menyodorkan tangan kanannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sekali lagi, Haris itu orangnya polos dan cuek.
Mina tidak terima jabatan tangan Haris. Bukan ini keinginan Mina, tetapi ini lebih baik dibandingkan mendengar Haris yang memutuskan hubungan mereka duluan. Mina tidak mau menjadi sosok yang dicampakkan.
"Udah gitu aja... kalo gak ada yang mau kamu sampein lagi... kamu sebaiknya pulang! Inget ya... kita udah putus," balas Mina setelah Haris mengucapkan selamat padanya.
Haris tersenyum kecil, tampak lega meski tidak berkata apa-apa. Hal itu membuat Mina mengepalkan tinjunya dengan erat. "Ris, kamu bisa gak sih nggak usah senyum begitu?!" ujar Mina ketus ketika melihat Haris berjalan menuju motornya.
"Gue ikut seneng Na, hehe."
"Ihh... jahat banget sih lu Ris... aturan lu tuh mengekspresikan penyesalan dikit kek karena diputusin! Ini malah ikut seneng sambil 'hehe' segala lagi," bentak Jasmin pada Haris setelah suaminya itu selesai bercerita kronologi putusnya dengan Mina.
"Ya karena gue gak nyesel Min, gue malah plong banget pas si Mina putusin duluan... jadi, gue gak harus banyak ngomong kan di rumahnya," jawab Haris.
Jasmin menatap Haris curiga, ibu hamil itu memang sering berprilaku aneh sebelum tidur. Malam kemarin, Jasmin mengajak Haris untuk ikut balapan liar.
"Apa, apa?" tanya Haris sewot karena ditatap aneh oleh Jasmin.
"Lu pasti ngarang cerita kan?"
"Nyebut Min nyebut... mana ada gue ngarang cerita. Tugas bahasa Indonesia gue aja selalu lu yang kerjain," jawab Haris pasrah.
Jasmin cekikikan, "Eh, tapi... Mina sekarang luar biasa loh Ris... dia kayak model, tadi gue liat dia. Dia ada di event itu jadi MC, denger denger nih katanya dia kuliah di luar negeri terus lagi magang jadi reporter di CNN." Tuhkan, aneh, tadi ngambek sekarang malah promosi mantannya suami sendiri.
"Terus gue harus bilang WOW gitu?!" kata Haris sambil memutar bola matanya malas.
"Hihi... gak gitu juga... apa gak ada rasa nyesel sedikitpun?"
Haris menarik Jasmin ke dalam pelukannya dan mengecup ubun-ubunnya sampai Jasmin cekikikan lagi, "Enggak lah... ngapain nyesel kalau gue akhirnya dapet yang lebih montok dan lucu kayak ginii... ihhh gumush!" Haris malah menguyel-uyel tubuh Jasmin dalam dekapannya dengan gemas, Jasmin tertawa kecil.
"Bayi... tidur ya, kalo kamu masih bangun permintaan bumil suka aneh-aneh nih," ucap Haris pada perut Jasmin yang sudah tampak membesar jika berbaring.
__ADS_1
BERSAMBUNG....