
Jasmin baru selesai mendengarkan cerita dari Hamid, adik iparnya ini ternyata memiliki nasib yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Kata Hamid, mamanya itu meninggal saat dia masih berusia 3 tahun, meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Selama itu pula Hamid terpaksa harus dititipkan pada keluarga Sainal yang ada di Surabaya, hidup Hamid berpindah-pindah tempat karena anak itu hanya anak yang tidak jelas asal-usulnya. Sainal dan Mamanya Hamid itu memiliki hubungan terlarang tanpa sepengetahuan siapapun.
Jasmin merangkul bahu adik iparnya tersebut dengan erat, senyum disertai kedua mata berkaca-kaca membuat Hamid yang sudah tabah dan kuat dengan kisah hidupnya itu tersenyum kecil.
"Itulah kenapa Kak.. Aku seneng pas kak Haris nikah sama Kak Jasmin... Kak Jasmin bikin kak Haris akur sama Papa."
"Jujur, aku ngerasa bersalah banget setiap berhadapan sama kak Haris atau Mama Fany." Hamid menunduk dan Jasmin semakin erat merangkul bahunya.
"Mid... udah dong, kamu jangan ngomong terus, hiks... kak Jasmin... jadi sedih!" ujar Jasmin dengan tangis keluar dari mulutnya. Hamid gelagapan, cowok itu segera mengambil tisu dari tas tangan Jasmin dan menyerahkan selembar benda lembut itu pada kakak iparnya. Jasmin mengusap air matanya buru-buru.
"Pasti... gara-gara aku... Mama Fany sama Papa Sainal pisah... andai aja waktu itu aku gak maksa mau ikut Papa ke Bandung. Mungkin, sekarang Papa sama Mama Fany masih jadi keluarga bahagia."
"Mid! kamu jangan ngomong gitu! Mama Fany sekarang bahagia kok, sama Papa Jordan... mereka juga udah punya cucu... Aeri lucu banget loh Mid! Dan kamu juga... kamu bisa deket terus sama Papa sampai kapanpun... iya kan?!" tekan Jasmin pada Hamid. Hamid mengangguk kecil dan tersenyum ke arah Jasmin.
Oh iya, mereka sekarang sedang berada di pabrik milik Papa Sainal yang berpusat di Yogyakarta. Jasmin dan Haris memang sengaja datang ke Jogja atas permintaan Sainal yang ingin menjadi tuan rumah acara tujuh bulanan kandungan Jasmin. Jasmin terpaksa menunggu di kantor bersama Hamid, selagi Sainal dan Haris melakukan inspeksi di wilayah pabrik yang luasnya mencapai 10 hektar tersebut. Hubungan Haris dan Sainal sudah lumayan membaik, setelah Haris menikah sih sebenarnya, tapi ya gitu masih agak canggung sedikit, sedikit banget....
Haris tiba-tiba muncul di ruangan kantor tanpa permisi, tentu saja hal itu membuat Jasmin dan Hamid kaget di tempat mereka duduk.
"Heh... lu apain bini gue, Mid? Kok Jasmin kayak abis nangis?" ujar Haris sambil duduk di samping Jasmin. Hamid menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Haris memperhatikan wajah Jasmin dari segala sudut, dan membuat Jasmin refleks menjawil pipi suaminya itu dengan keras.
"Apasih Nold... gak kenapa-kenapa!" elak Jasmin dengan suara seperti orang pilek.
Haris menatap Jasmin dengan kening berkerut, kemudian melirik Hamid dengan curiga. "Beneran?"
"Iya bawel," ucap Jasmin tegas. Haris menghela napasnya.
__ADS_1
"Eh Mid, keluar dulu sana... orang gede mau ngomong," pinta Haris pada Hamid dengan songong. Hamid hanya menuruti permintaan kakaknya itu dengan patuh dan hormat. Sementara Jasmin tidak bisa berbuat apa pun selain membiarkan Haris melakukan apa yang dia inginkan.
Sekarang Hamid sudah keluar, dan di ruang kantor megah itu hanya ada mereka berdua. Eh, bertiga deh, ada si bayi dalam kandungan yang sekarang kehadirannya wajib banget untuk diakui. Haris menyangga kepalanya dengan sebelah tangan dan masih memperhatikan Jasmin sejak lima menit lalu.
"Betah gak di sini?" tanya Haris perhatian.
Jasmin agak berpikir. “Belum betah sih... kita kan baru sehari di sini... di sini panas gak kayak di Bandung."
Haris mengulum senyumnya manis sekali. "Sabar ya... tahan dulu sampe acara tujuh bulanan besok. Habis itu selesai, kita bisa langsung pulang ke Bandung. Aa juga gak betah Min di sini," ujar Haris menenangkan.
"Kamu nangis, Min?" tambah Haris lagi dengan serius.
Jasmin mengangguk kecil. “Iya, huhu... kasian sama Hamid... barusan, dia cerita masa kecilnya."
"Aa jangan galak-galak sama Hamid ya, kasian."
***
Sainal mengajak Haris untuk melihat-lihat bagian belakang rumah yang akan digunakan sebagai lokasi acara tujuh bulanan besok. Tempat itu adalah teras disertai sebuah bangunan menyerupai rumah joglo di tengah-tengah danau buatan kecil yang ditanami teratai. Sudah belasan tahun lamanya Haris tidak berkunjung ke rumah milik Papanya ini, dan tentu saja hal ini membuat nostalgia dadakan di antara Haris dan Sainal.
Sainal merangkul bahu putra sulungnya itu dengan erat, kini tubuh Haris sedikit lebih tinggi dibanding dirinya, Sainal tersenyum sementara Haris hanya bisa memasang tampang kaku di samping Papanya itu.
"Dulu kamu masih kecil banget waktu kita tinggal di sini, baru bisa jalan kaki, sekarang, kamu bahkan lebih tinggi dari Papa," kata Sainal sembari mengenang masa-masa Haris kecil yang sering berlarian di teras belakang ini.
Haris tersenyum kecut, masa kecil yang indah dan ada banyak gelombang hidup yang diciptakan Sainal untuknya dan Fany.
"Hm... iya, dulu waktu kecil belum ngerti apa-apa," balas Haris dingin.
__ADS_1
Sainal mengerti arah kalimat tersebut. Dan tentu saja pria itu merasa menyesal karena sudah memulai obrolan yang bisa membuat Haris ingat traumanya dulu.
"Sebenernya... kenapa Papa nggak nikah lagi?"
Sainal melirik ke arah Haris dengan wajah terkejut, dan Haris tersenyum padanya, senyum yang baru kali ini Haris berikan padanya setelah belasan tahun mereka terpisah.
"Mama udah menikah lagi Pah... Papa harusnya jangan berlarut-larut dalam penyesalan, Haris sama Mama udah maafin Papa kok. Jadi, kalo Papa masih berpikiran Haris sama Mama membenci Papa, itu sama sekali enggak bener...."
Kedua mata Sainal sedikit berkaca-kaca, pria itu tersenyum haru dan mendaratkan tangannya pada bahu kokoh Haris, Haris tersenyum kecil.
"Waktu kecil, aku memang gak ngerti apa pun. Aku kecewa karena Papa justru punya anak laki-laki lain. Haris sangat ketakutan waktu itu, kehilangan sosok Papa untuk selama-lamanya."
"Sekarang, saat aku akan menjadi Papa juga... aku ngerti apa yang Papa pikir waktu itu. Jadi seorang Ayah gak mudah... karena itu, aku mau memperbaiki sikapku sama Papa mulai dari sekarang. Aku gak mau kalau kelak anakku melakukan hal yang sama."
Sainal tidak dapat membalas semua kalimat Haris padanya, karena Sainal sangat terkejut juga senang dengan ungkapan anak sulungnya itu. Hal yang Sainal tunggu selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Jasmin yang menonton adegan manis antara Papa Sainal dan Haris pun kembali menangis sesenggukkan dengan Hamid.
"Mid... Haris macho banget, huhu ... makin cinta jadinya... hiks!" rengek Jasmin pada Hamid. Bukannya terharu dengan ucapan Jasmin, Hamid malah tertawa kecil mendengar rengekan kakak iparnya itu.
"Eh Kak, kita ke dalem aja yuk. Kalo ketahuan, nanti kak Harisnya jadi malu."
Jasmin mengangguk kecil pada ajakan Hamid, dua orang itu segera kembali ke dalam rumah setelah menyaksikan obrolan serius antara Papa Sainal dan Haris.
Bersambung ....
Maaf ya, aku lama up. Karena ini hampir tamat, mungkin tinggal 5 episode lagi.
__ADS_1