Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 85


__ADS_3

Jasmin duduk di teras rumah, saat itu langit sedikit agak mendung karena hujan baru saja reda. Haris sedang memperbaiki saluran air talang yang bocor sehingga membasahi sebagian lantai depan rumah, tentu bahaya kalau sampai ada lantai licin, Jasmin kan tidak bisa diam, kalau tiba-tiba lagi jalan di lantai lalu kepleset bisa berabe dong.


"Sayurrr, sayurrrr!" Seorang pedagang sayur dengan motor tiba-tiba saja berhenti di pekarangan rumah Jasmin.


"Ih tumben banget ada tukang sayur," gumam Jasmin saat pertama kali melihat ada tukang sayur keliling di sore hari yang kebetulan berada di wilayah tempat tinggalnya. Karena tidak enak melihat pedagang begitu saja, Jasmin yang punya hobi ngabisin duit tidak jelas pun akhirnya keluar menuju tukang sayur sambil membawa dompetnya.


"Ris! Mau makan apa malem ini?" teriak Jasmin pada suaminya yang sejak tadi tidak ribut sama sekali benerin talang.


"Hmm... ayam geprek," jawab Haris sambil bergumam. Jasmin tersenyum kecil. "Okay! Gue bikinin!"


Haris cengengesan, “Iya, ayamnya gue makan. Jasminnya gue geprek, hehe ...."


"Eh, Min, ayam goreng aja!" teriak Haris lagi, takutnya Jasmin belum bisa bikin ayam geprek. Tapi tidak ada jawaban dari Jasmin karena mama hamil itu sudah berada di stan amang sayur yang sudah memilah-milah dagangannya yang terlihat masih segar.


Belum semenit Jasmin berada di depan gerobak motor sayur si amang, tiba-tiba bermunculan ibu-ibu berdaster yang entah datang dari mana. Ibu-ibu itu tampak senang ketika menyaksikan gerobak motor si amang sayur masih penuh dengan aneka bahan masakan.


Sesekali ibu-ibu tersebut melirik ke arah Jasmin yang baru pertama mereka lihat sejak tinggal di wilayah tersebut.


Jasmin hanya dapat tersenyum dipaksakan saat semua mata tertuju padanya.


"Mang, ada ayam?" tanya Jasmin pelan.


"Ada Neng, nih banyak. Mau berapa kilo?"


Jasmin agak berpikir. “Hm... mau 10 kilo deh," katanya polos, yang langsung mengundang mata melotot dari ibu-ibu.


"Apa gak kebanyakan Neng? Mau ada acara apa memangnya?"


Jasmin cengengesan, "Ah masa sih kebanyakan, hehe... makan malam sama suami, hehe saya mau bikin ayam geprek," jawab Jasmin dengan grogi.


Ibu-ibu yang berdiri di sebelah Jasmin langsung saja menyerobot obrolan antara Jasmin dan tukang sayur. "Neng pengantin baru, ya?" tanya si ibu pada Jasmin dengan tampang menyelidik.


Jasmin menekuk bibirnya. "Hmm... bisa dibilang gitu sih, hehe... emang kenapa, Bu?"

__ADS_1


"Keliatannya belum bisa masak, ya? Suaminya kerja apa memangnya?"


Aduh, ini nih malesnya denger komentar ibu-ibu.


"Ah, emang belum bisa masak sih, tapi lagi belajar. Kan sekarang kalo cari resep gampang Bu, bisa liat tutorial di internet, atau bisa tanya mama via telepon," balas Jasmin dengan cepat dan cerdas, 'yes, mau ngomen apa lagi lu pada!' tantang Jasmin dengan ekspresi sok cantiknya.


"Suaminya kerja apa?" selidik si ibu satu lagi yang sepertinya ikut-ikutan kepo. Amang sayur menjadi saksi ke-kepo an ibu-ibu sambil megangin daging ayam 10 kilo.


Jasmin tersenyum kecil. "Oh, suami saya itu....” Jasmin bingung, kerjaan Haris apa ya. Selain tiduran, rebahan, sama gambar-gambar doang.


"Ah, jaga toko, Bu."


"Ckck... Cuma jaga toko toh!" komentar si ibu berupa bisikan, tetapi bisa Jasmin dengar dengan jelas. Ah, tetapi Jasmin kan orangnya bodoamat, mau mereka nyepelein Haris pun kan sebenernya Haris hebat.


"Sudah hamil, ya? Berapa bulan hamilnya? Kayaknya udah mau lima bulanan, ya? Nikahnya udah berapa bulan? Keliatannya Neng ini masih muda ya."


Aduh, mulai deh risih. Kenapa sih ibu-ibu ini, Jasmin mengusap-usap perutnya sambil berbisik amit-amit jabang bayi dengan kelakuan kepo ibu-ibu ini.


Saat ibu-ibu menyerang Jasmin tanpa jeda, dan amang sayur masih mengusap-usap paha ayam yang mulus tanpa bulu. Tiba-tiba saja Haris muncul dengan kemejanya yang basah kuyup dengan air, rambut Haris juga ikutan basah.


Jasmin menoleh ke arah Haris dengan dahi berkerut. "Lu ngapain ke sini? Ini baju kenapa basah?" tanya Jasmin dengan jengkel.


Haris cengengesan, "Belanja dong Sayang...," jawab Haris dengan lembut pada Jasmin.


Lalu Haris kembali fokus pada gerobak motor sayur si amang yang sejak tadi hanya diacak-acak oleh ibu-ibu.


"Mang, saya beli semua dagangannya aja gimana? Soalnya, istri saya ini lagi hamil dan hobbynya itu melakukan eksperimen aneh dengan bahan masakan, kalau saya cuma beli satu jenis masakan, dia nanti sedih, dan si bayi di perutnya juga sedih," ujar Haris dengan tampang songong.


Jasmin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Didikan papa Sainal begini amat!"


Amang sayur yang semula terpesona dengan rupa Haris, kini mulai tergiur dengan kesombongan lelaki berbaju basah tersebut, dengan anggukan kecil proses jual beli itu pun akhirnya diserah terimakan kepada Haris dan Jasmin sebagai pemenang lelang ludes satu gerobak motor sayur beserta tektek bengeknya.


"Dan untuk ibu-ibu sekalian, mohon dimaafkan ya kelancangan saya karena sudah menghambat proses transaksi yang sedang ibu-ibu semuanya jalankan."

__ADS_1


***


Sekarang Jasmin dan Haris kebingungan dengan semua bahan masakan yang tersimpan di ruangan dapur. Dapur yang semula rapi kini berantakan karena hampir semua daun-daun hijau seperti kangkung, daun selada, buncis, sawi, daun bawang, sampai kacang panjang ada di sana, belum lagi kentang, tauge, daging ayam 15 kilogram, daging sapi ada di dapur semua. Perintilan seperti bawang-bawangan, bumbu masakan sampai ikan ada di dapur.


Jasmin menoleh ke arah Haris dengan tatapan sinis. "Lu mau apain ini, Ris?!"


Haris nyengir, wajah tanpa dosanya membuat Jasmin greget pengen nampol. “Hehe... diapain ya? Hehe," jawab Haris yang tidak jauh beda bingungnya dengan Jasmin.


"Ya, abisnya gue kesel denger itu ibu-ibu nyerang lu. Apaan sih mereka, biar tau rasa kan tuh gak bisa masak. Kepo banget sih jadi orang! Nggak sekalian aja tanya berapa kali kita nganu dalam seminggu."


Jasmin tersenyum kecil. “Ih kok lu baper sih... emang lu nguping omongan mereka ke gue?"


Haris yang masih menekuk bibirnya menghela nafas dengan kasar. “Denger lah... jelas banget, si bayi tuh kayak ngirim sinyal-sinyal bahaya gitu, makanya gue yang lagi benerin talang air langsung nyamperin elu."


"Udahlah... ngapain juga ditanggepin... kita kan mau jadi orangtua buat si bayi, Ris... kita harus lebih dewasa ngadepin orang-orang. Mulut orang gak bisa kita atur, apalagi kita juga warga baru di sini. Jangan bikin ulah," ucap Jasmin sambil mengusap-usap lengan berotot suaminya.


Mendengar ucapan Jasmin yang beda dari biasanya membuat Haris melongo, nyaris tidak percaya dengan apa yang dia denger barusan,. "Jub... Lu, baik-baik aja kan?" tanya Haris sembari memegangi dahi Jasmin dengan telapak tangannya.


"Paan sih, Arnold. Baiklah! Sehat wal'afiat!" beritahu Jasmin dengan ketus sambil menepis tangan Haris dari dahinya.


Haris tersenyum gemas dan menjatuhkan kecupan kecil di kening Jasmin dengan singkat. "Unch, gumush... ceritanya Jasmin udah 18+ nih?"


"Lu kira gue konten porno?!" omel Jasmin melotot.


"Hehe, bukan gitu Shuyuung... maksudnya tuh Jasmin jadi dewasa gitu?"


Jasmin memegangi perutnya yang kini sudah semakin membuncit jika diperhatikan, dari hari ke hari bertambah satu senti. "Bawaan si bayi Ris, hormon. Nanti malem juga gue bisa aja jadi Jubaedah! Nggak ngerti gue tuh, kenapa hamil efeknya jadi begini."


"Lu nggak suka, ya?” tanya Jasmin dengan wajah memelas.


Haris tertawa kecil, “Suka lah... lucu!" jawab Haris dengan semangat.


"Nggak usah lucu sama gumush-gumushan dulu deh. Ini sayur ama temen-temennya mau lu apain dulu? Gue pusing liat ijo-ijo gini kek tentara."

__ADS_1


"Hehe... bentar, gue mau panggil dulu pasukan darurat." Haris kemudian mengeluarkan HP dari saku celananya dan mulai menghubungi pasukan darurat yang dia maksudkan.


__ADS_2