Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 94


__ADS_3

Atas permintaan Sainal kepada Jasmin, pada akhirnya sepasang suami istri dengan si jabang bayi dalam kandungan itu memutuskan untuk mengundur kepulangan menuju Bandung.


Sainal ingin mengetahui jenis kelamin cucunya sehingga Haris harus memeriksakan kandungan Jasmin di salah satu klinik ginekolog ternama di Jogja, berdasarkan cerita Sainal, klinik tersebut dulu adalah tempat yang sama dengan Fany saat memeriksakan kehamilannya.


Jasmin tidak bisa menolak permintaan sederhana mertuanya itu, dan dengan senang hati kini bumil dan si pamil pun tengah mengantre giliran untuk memasuki ruangan periksa.


Haris terus melamun, seperti memikirkan sesuatu yang tidak ia katakan pada istrinya.


"Nold... are you okay?" tanya Jasmin sambil meraih sebelah tangan Haris.


Haris tersenyum dan mengangguk. “Oke kok.... cuman deg-degan aja."


"Hihi... kok deg-degan sih, kan bukan mau melahirkan sekarang. Mau periksa doang jenis kelaminnya."


Haris menjatuhkan kecupan kecil di dahi Jasmin, pemandangan manis tersebut disaksikan oleh beberapa orang yang sama-sama menunggu giliran periksa. Tampak beberapa pasangan dan ibu hamil kagum dengan pasangan Ja-Ris yang amat menyita perhatian karena penampilan dan wajah mereka. Jasminnya cantik dan imut, Harisnya gagah dan ganteng.


"Bayinya kalau cewek pasti mirip banget sama lu Min.... gue gak sanggup ngadepin dua cewek kayak lu nanti di rumah... dan kalo cowok, pasti mirip gue banget ...."


Jasmin tertawa, dan makin merangkulkan tangannya ke lengan Haris.


"Yaudah... jangan deg-degan dong, nanti kan kita punya dopleanger hehehe ...."


Setelah mengantre selama tiga puluh menit, kini Jasmin sudah berada di ruangan periksa bersama dengan Haris yang tetap setia berada di sisinya. Dokter yang ramah tampak mempersilakan Haris agar duduk menghadap lebih dekat ke arah monitor.


"Baru pertama kali USG?" tanya dokter wanita tersebut.


"Sudah dua kali Dok, kalau yang pertama itu waktu awal cek kehamilan," jawab Haris dengan cepat.


Jasmin tersenyum mendengarnya, Haris ternyata inget juga waktu-waktu kontrol.


"Baik, kita mulai ya."


Dokter dengan perlahan menggulirkan alat yang tersambung pada layar monitor ke atas perut Jasmin. Jasmin menggigit bibir bawahnya karena gugup oleh rasa penasaran, Haris menatap lekat-lekat ke arah monitor yang dengan jelas memperlihatkan si bayi yang tertidur lelap dalam kehangatan.


"Terlihat jelas ya Bu...,“ beritahu si dokter.


"Hehe... iya Dok... jelas banget."


"Bayinya sehat, usia kandungan kalau sudah 7 bulan wajahnya sudah terbentuk, begitu pula organ-organ pentingnya sudah sempurna... detak jantungnya juga normal."

__ADS_1


"Iya Dok... kedengeran sampe sini," ujar Haris dengan mata berkaca-kaca.


Jasmin melirik ke arah Haris dengan terharu, bumil itu pun mengusap lengan Haris dengan lembut. "Nold jangan nangis ih."


"Sedih, Jub."


Dokter terkekeh memperhatikannya.


"Jenis kelaminnya apa ya, Dok?" tanya Jasmin penasaran.


"Oh.. sebentar ya...." Dokter kemudian menggulirkan lagi alat USG ke bagian lain sehingga tampak lah dengan jelas jenis kelamin bayi dalam kandungan Jasmin.


"Wah... ada gajahnya...!" teriak Haris heboh sambil bertepuk tangan kecil.


Jasmin mengerutkan dahi, suster dan dokter menahan tawa saat melihat ekspresi HERI (Heboh Sendiri) yang ditunjukan oleh si pamil Haris.


Haris masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Gajah dari mananya sih, Nold?" ucap Jasmin jutek.


Haris cengengesan, lalu dokter berdeham pelan sambil menunjuk jenis kelamin yang dimaksudkan oleh Haris.


"Betul sekali Pak... jadi begini Bu, di bagian sini kita bisa melihat dengan jelas... ada bentuk seperti gajah, memiliki belalai... itu artinya, bayi dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki... baik ya, saya akan melakukan tangkapan layar agar bisa diprint out sebagai kenang-kenangan."


"Hihi.. kok gajah sih, Dok? Mana belalainya? Kok saya gak bisa liat jelas."


Haris berdecak pelan, mukanya udah gak tegang kayak tadi malah keliatan banget semringah. "Itu Min ituuuu... masa gak liat, mirip kek punya gue."


"Yang mana?!" desak Jasmin lagi tak mengerti.


"Ini..." Haris menunjuk dengan jarinya ke layar monitor. Jasmin membulatkan mulutnya dan tersenyum amat lebar saat melihatnya atas bantuan Haris.


"Ouh... iya bener, ada gajahnya! Hahaha!"


***


Meskipun hanya melakukan cek kandungan berupa USG, tetapi Jasmin sangat tenang sekali sehingga kini ia dan Haris melakukan jalan-jalan kecil di pasar Malioboro yang menyajikan pemandangan wisata kuliner. Jasmin menghela napasnya saat Haris mengajaknya duduk di sebuah bangku yang berjejeran sembari menikmati mini konser dari sebuah grup pengamen.


Haris memesan teh manis hangat untuknya sementara Jasmin ia berikan susu kotak khusus ibu hamil. Jasmin menerimanya dan langsung meminum susu yang belakangan ini menjadi favoritnya.

__ADS_1


Jasmin sebenernya tidak paham dengan lagu yang dibawakan pengamen itu, tetapi Jasmin menikmatinya saja karena musiknya cukup menyenangkan, ditambah lagi di sampingnya ada Haris yang selalu menjaganya.


"Jangan ngelamun," beritahu Haris sambil mencolek dagu istrinya itu.


"Ih... enggak ngelamun... lagi diem aja, A"


Haris menyebikan bibirnya. "Gue masih geli sebenernya dipanggil Aa sama lu... Tapi seneng juga sih.. hehe."


"Si bayi cowok... gue harus jadi Ibu yang disiplin, biar dia gak nakal... barusan gue mikirin, gimana caranya ngurus dua makhluk kayak lu di rumah."


Haris tertawa kecil, ah Jasmin pasti lucu banget kalau direpotin sama anak cowok.


"Ck... lu kan pawangnya gue... si bayi juga yakin sih bakalan nurut sama emaknya, hehe."


Jasmin mendelik, tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Ris, habis melahirkan nanti... gue pasti berubah." Jasmin melirik ke arah Haris, pandangannya teduh, tetapi wajah imut dan polosnya terlihat amat serius. Haris meraih tangan Jasmin dan mengecupnya dengan perlahan-lahan.


"Berubah jadi apa? Kalo jadi ranger pink, gue bakal tetep ngefans kok.. hehe."


"Ih... serius Sayang."


Jasmin memberikan jeda pada ucapannya, sebelum akhirnya Haris memberikannya ciuman pelan dan dalam di kening.


"Badan gue... pasti berubah... gak ramping kayak sebelum hamil... gue, jadi takut Ris... lu juga berubah." Jasmin tersenyum kecut, rasa khawatir tiba-tiba muncul begitu saja dalam pikirannya saat mengingat peristiwa antara Sainal dan Fany dulu.


"Min... aku tuh beda sama Papa. Buah memang gak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi... kamu jangan lupain satu hal Min, kalo ada Mama yang udah ngedidik aku sampe jadi kayak sekarang. Mana mungkin aku berubah cuman karena perubahan fisik kamu ...."


Jasmin melihat ketulusan dari wajah Haris, bahkan kalimat Haris pun berbeda dari biasanya.


Haris tersenyum, meyakinkan dan juga menenangkan.


“Mau kamu gendut, kurus, aku tetep lah sayang sama kamu."


"Asal jangan kumisan aja... hehe."


"Ih, hahaha..." Jasmin memukul pelan pundak Haris, dan keduanya tertawa.


"Min... I love you.. saranghae.“

__ADS_1


The End ....


Wah, Alhamdulillah, akhirnya ini tamat, dan sampai di sinilah kisah Ja-Ris berakhir. Terima kasih untuk kalian yang sudah mau baca, komen, dan kasih hadiah. Kalau ada waktu, aku akan buat bonchap-nya. See you.


__ADS_2