Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 68 : LDR


__ADS_3

Tujuan utama Jasmin ke Belanda adalah atas perintah Hani, untuk tinggal bersama papinya lagi yang sudah hampir 15 tahun tinggal di negara kincir angin itu, Jasmin juga tidak tahu sampai kapan Hani memintanya tinggal di sini, tetapi yang jelas ia sangat bahagia bisa berkumpul bersama Papinya, apalagi sekarang ada Haris yang sudah sembuh. Sembuh dan sehat walafiat dari ke-gesrek-annya, juga sudah menjadi suami yang siap lahir dan batin.


Joseph tidak memiliki asisten rumah tangga, pria itu tinggal seorang diri di Belanda dan hidup amat mandiri. Selain seorang pengusaha di bidang properti, Joseph juga seorang peternak sapi dan kambing di kota Leiden sehingga kehidupannya di sana sangat makmur dan tidak pernah kekurangan sedikit pun.


Jasmin menyiapkan sarapan pagi, berupa telur dadar dan nasi putih yang ia masak dengan sangat baik, tidak lupa telur orak-arik yang ia buat karena kegagalan dalam membuat telur dadar.


Joseph menatap takjub ke atas meja makan pagi itu, dia menatap putrinya dengan tatapan haru dan bangga.


"Anak papi hebat, sudah bisa masak," puji Joseph seraya menyendok nasi putih.


Haris tersenyum, mendengar pujian untuk Jasmin yang entah mengapa membuat hati Haris pun menghangat.


"Hehe... Papi, ini biasa aja kok. Kalau Papi ke Indonesia, Jasmin kasih rendang, semur daging, sayur lodeh," beritahu Jasmin dengan bangga.


Joseph tampak lahap menikmati nasi putih dan telur dadar, biasanya dia hanya sarapan roti dan susu segar. Oh iya, konsumsi nasi di Belanda itu sangat jarang, tetapi karena Jasmin membawa sedikit beras dari Indonesia maka Joseph senang karena ia bisa menikmati nasi kampung halaman.


"Kamu bisa masak rendang juga?" tanya Joseph antusias.


Haris tertawa kecil, Jasmin memelototinya dengan galak.


"Engga bisa, hehe... tapi... Jasmin punya kenalan rumah makan padang yang enak banget!" Jasmin mengacungkan kedua jempolnya, membuat Joseph tertawa.


"Oh iya... nih, kalian pake aja buat jalan-jalan ya, nikmati pokoknya Belanda selama kalian tinggal disini. Hari ini Papi mau pergi dulu ke peternakan." Joseph menyerahkan sebuah kunci mobil berwarna hitam dengan lambang kuda jingkrak.


Haris cukup terkesan, ferrari cuy.


Setelah sarapan Joseph pergi menuju peternakan yang jaraknya hanya 3km dari tempat tinggalnya, sementara itu Jasmin dan Haris cukup bingung untuk pergi ke mana menggunakan mobil yang Joseph berikan pada mereka.


Di tengah lamunannya, Jasmin dan Haris dikejutkan dengan tiba-tiba oleh suara Hp yang berdering, sebuah panggilan masuk ke Hp Haris yang yang baru saja aktif sekitar 15 menit lalu. Jasmin langsung mendekati Haris dan membaca penelpon.


Papa, nama itu tertulis dengan jelas di sana.


"Bokap lu, angkat!" pinta Jasmin dengan kedua mata membulat


Haris sedikit ragu untuk mengangkat panggilan dari Sainal, sebab hubungan mereka tidak begitu baik sejak Fani dan Sainal cerai 20 tahun lalu. Haris menggeser layar dan menerima panggilan itu. Jasmin menguping di sisinya.


"Ris .."


"Hmm...," jawab Haris malas, Jasmin sontak mencubitnya.


"Kamu ada di mana? Tadi Mama kamu telepon papa, katanya sudah 2 hari kamu gak pulang?"

__ADS_1


Haris menggigit bibir bawahnya. "Haris... ada di Belanda," jawab Haris dengan tenang.


Terdengar tawa kecil Sainal di sebrang sana. "Belanda? Kamu honeymoon juga akhirnya...."


Haris jadi gorgi, di sisinya Jasmin justru menggoda dengan senyum geli, sebab biasanya Haris sangat tidak mau diajak ngobrol oleh Sainal.


"Iya, sekalian... anterin Jasmin ketemu papinya."


"Oh... Ris, kamu mau hadiah pernikahan apa dari Papa?" tanya Sainal tiba-tiba.


Haris diam, Jasmin pun sama diam seperti Haris. Bahkan tidak perlu diminta hadiah pun Sainal itu sudah memberikan rumah mewah yang ada di perumahan Batu Mas.


"Ris... bilang aja, nggak perlu sungkan. Papa merasa sangat jauh sama kamu. Tolong jangan batasi hubungan kita lagi, coba kasih HP ke Jasmin."


Haris menyodorkan Hpnya pada Jasmin yang sejak tadi menguping, Jasmin sudah menolak, tetapi Haris memaksa, dan akhirnya Jasmin menyerah karena dia tidak mau jadi istri durhaka.


"Hallo... Om... hehe," sapa Jasmin dengan gorgi.


"Haha... kenapa panggil Om, panggil aja Papa, Min."


"Hehe... iya Pah, kenapa?" tanya Jasmin sambil bertatapan dengan Haris.


"Makasih ya, sudah mau jadi istrinya Haris. Hamid bilang, cuma kak Jasmin yang bisa bikin kak Haris-nya bahagia."


"Iya nanti papa sampaikan, kalian jaga diri baik-baik di sana."


"Iya, makasih banyak pah."


***


Jasmin tidak melepaskan rangkulan tangannya di lengan Haris, sepanjang jalan mereka melewati kebun tulip yang baru membentuk kuncup, menikmati segarnya suhu dingin bertemu warna hijau yang menyita seluruh pemandangan, Leiden adalah kota yang indah dan damai, seperti keadaan mereka.


Sudah enam jam mereka berdua tidak bertengkar, dan hal itu membuat Jasmin dan Haris mengirit tenaga hari ini, mereka juga tidak adu mulut, tetapi kalau adu mulut yang itu sudah sering dan tidak terhitung jari.


Tring!


Hp Haris berbunyi, ada sebuah SMS masuk.


"Kenapa nggak dibaca smsnya," ujar Jasmin keheranan.


Haris mengendikkan bahu cuek. “Paling dari bank, gue dapet hadiah mobil."

__ADS_1


Jasmin cekikikan. "Ouh... haha. Gue kira lu selingkuh."


Haris menoleh dan memicingkan kedua matanya ke arah Jasmin. "Emang, muka gue ini tipe-tipe orang yang suka selingkuh?"


Jasmin mengeratkan pelukannya di lengan Haris. "Ih enggak... ngambek mulu nih Arnold."


"Ris... lu akan terus di sini sama gue kan?"


Langkah Haris berhenti ketika pertanyaan itu keluar dari bibir kecil Jasmin.


Jasmin mendongak dan menunggu Haris menjawabnya.


"Kita harus pulang Min, ke Bandung."


Jasmin menghela napasnya dengan berat. Entah mengapa, Bandung terasa begitu menyesakkan sekarang baginya.


"Tapi... gimana sama Mami?"


Haris juga jadi bingung kalau sudah membahas Hani.


"Gue juga di sana punya pegawai, ada kerjaan yang jadi tanggung jawab gue. Mungkin kita sementara LDR aja dulu, lu tinggal di sini, sampai gue bisa meyakinkan Mami lu, ya?"


"LDR-nya kejauhan... mending kalau BANDUNG-JAKARTA. Atau BANDUNG-SURABAYA. Lah ini BTB!" ucap Jasmin jengkel.


Haris tertawa kecil. "BTB apaan?"


"BANDUNG TO BELANDA" jawab Jasmin dengan bibir mengerucut.


"LDR mah di mana-mana juga jauh... kalau yang deket mah bukan LDR namanya. Tapi PP," kata Haris becanda.


"Lu kerja di sini aja gimana?" kata Jasmin memberi suaminya ide.


Haris agak berpikir hanya untuk membuat Jasmin terkesan tentunya.


"Please," bujuk Jasmin dengan tampang menggemaskan. Siapa yang bisa nolak coba?


"Gue di sini seminggu aja. Setelah itu, gue balik ke Bandung. Sebulan kemudian, kita balik bareng-bareng ke Bandung. Gimana?"


"Jadi, lu cuma temenin gue seminggu aja?"


Haris mengangguk, dan Jasmin langsung terlihat badmood saat itu juga.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2