
Jangan terlalu sedih, nanti kamu sakit, pun jangan terlalu senang nanti kamu sedih. Benar, bahwa tipisnya jarak antara bahagia dan kesedihan itu bisa hanya sepersekian milli. Mitos tentang terlalu banyak tertawa akan mendatangkan malapetaka dapat dirasakan begitu nyata.
Sudah dua hari sejak Jasmin tidak masuk sekolah, anak itu terus menerus tidur di kamarnya, tidak keluar dan bahkan tidak mau diajak untuk menemui dokter. Hani bahkan sudah kalang kabut untuk membujuk Jasmin agar mau makan atau sekedar meminum susunya. Namun, Jasmin sama sekali tidak mempedulikan kekhawatiran Hani terhadap dirinya. Efek cinta bisa sedahsyat itu pada Jasmin. Hani pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jasmin menolak bujukannya, sebab saat Hani bercerai dengan Jordan pun wanita itu mengalami hal serupa. Akhirnya, Hani pasrah dan membiarkan Jasmin sendirian di kamarnya, sampai Airin muncul membawakan Jasmin satu wadah bubur yang kelihatannya baru selesai dibuat.
"Jasminnya di kamar Tante?" tanya Airin saat melihat raut wajah Hani begitu berantakan, bahkan wajah Hani pun pucat seperti kurang tidur.
"Ada Rin, Tante minta tolong ya?"
Airin tersenyum kecil. "Hmm... Tante nggak perlu kuatir, semoga Airin bisa bantu."
Airin masuk ke dalam kamar Jasmin, anak itu sedang duduk termenung menghadap jendela kamarnya yang tampak menampilkan sinar mentari menjelang sore. Mungkin Jasmin senang mengenang masa-masa menyenangkan atau sebaliknya. Airin kemudian menaruh bubur di atas meja rias Jasmin dan duduk di sisi Jasmin, Jasmin menoleh lemas ketika Airin duduk di sisinya.
"Kak Airin." Jasmin terisak dan tanpa pikir panjang gadis itu memeluk tubuh Airin begitu erat sambil mengeluarkan lagi semua kesedihannya. Airin tersenyum lembut dan menepuk-nepuk bahu Jasmin penuh penekanan.
"Shhh... Jasmin kok nangis."
Jasmin masih berada dalam kesedihannya dan Airin tentu hanya bisa mendengarkan ocehan tak jelas Jasmin di antara tangisannya. Jasmin tidak kuasa untuk menghentikan tangis cengengnya ini, sempat Jasmin berhenti memikirkan Kai, tetapi semakin ia berusaha melupakan maka semakin kuat bayang-bayang Kai hadir dalam benaknya.
__ADS_1
***
Haris menaikkan sebelah alisnya dan keningnya berkerut heran saat melihat satu koper hitam ukuran besar berada dihadapannya, juga si pembawa koper itu yang membuat Haris tidak berselera untuk berada di tempat itu berlama-lama.
Bandar udara Husein Sastranegara tampak lengang. Haris diminta datang ke tempat itu oleh teman sekelasnya dulu, Kai.
Kai menundukkan kepalanya, wajahnya tampak bingung dan malu ketika dihadapkan pada Haris.
"Lu mau ke mana?" tanya Haris datar.
"Pergi Ris."
"Gue titip Jasmin...."
Haris terkekeh, wajah jengkelnya semakin terlihat ke permukaan, Haris mendorong pelan bahu Kai seperti menantang kembali untuk bertarung, tetapi yang dilakukan Kai tentu hanya diam tanpa melawan.
"Nggak perlu lu kasih tahu, gue pasti jagain dia."
__ADS_1
Kai tersenyum kecut, dia juga tampaknya tidak ingin pergi kalau bukan karena hal mendesak. Ada kesedihan yang ingin ia sampaikan pada Haris, tetapi terlalu gengsi jika harus diucapkan secara langsung saat ini.
"Gue cuma pergi setahun... setelah itu gue bakal balik ke sini."
Haris tersenyum mengejek. "Kalau lu mau pergi, lu pergi aja selamanya. Nggak usah balik lagi."
"Gue sayang sama Jasmin."
"Kai, lu nggak berhak menyayangi Jasmin... karena sampai kapan pun gue gak ikhlas buat ngasih sahabat gue buat lu. Sekarang lu sama sekali nggak layak untuk bilang sayang atau temuin Jasmin lagi. Kedatangan lu dikehidupan Jasmin bukan membuat dia membaik. Tapi malah memburuk.“
Kai tertunduk, tangannya terkepal sempurna saat mendengar ucapan Haris.
"Lu harus bertanggung jawab atas perbuatan lu... lu harus menjadi ayah yang baik buat bayi yang ada di dalam kandungan Nela."
Setelah tertunduk cukup lama karena malu, akhirnya Kai memberanikan diri untuk mendongak menatap Haris. Sepertinya Kai terkejut karena Haris telah mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Rahasia besar yang justru baru Kai ketahui seminggu lalu.
"Makasih, karena lu enggak melakukan hal buruk sama Jasmin gue."
__ADS_1
Haris membalik tubuhnya dari tempat itu, meninggalkan Kai dengan dada yang sesak karena amarahnya yang tidak terealisasi saat itu juga. Jika di lain kesempatan ia dipertemukan lagi dengan Kai. Haris berharap ia dapat melupakan kejadian kelam hari ini.