Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 44


__ADS_3

MASIH CERITA DI MASA SMA.


***


Sera : Kak Jasmin... Kai masuk rumah sakit!


Jasmin yang baru sampai di rumahnya malam itu sangat terkejut mendapatkan sebuah informasi dari Sera tentang Kai. Saat kedua kaki gadis itu akan melangkah keluar rumah, langkahnya terhenti, Jasmin menyadari kalau dia hanya sebatas mantan pacar Kai.


Sera : Kecelakaan parah katanya, sampai gegar otak!


Jasmin mendapatkan satu pesan lagi, dan pesan itu berhasil membuat Jasmin menerobos pertahanan dirinya untuk gengsi, gadis itu segera menghampiri Hani dan meminta Hani untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat Kai dirawat


"Maaf Bu, tidak bisa di tolerir lagi. Haris resmi dikeluarkan dari sekolah."


Fany tertunduk, seputar wajahnya memerah padam karena malu, di sisinya Jordan hanya dapat merangkul bahu istrinya dengan penuh kelembutan dan simpati tanpa batas.


Haris tampak sama dengan Ibunya, cowok itu terlihat baik-baik saja secara fisik, tetapi sangat hancur secara mental.


"Tapi.. Haris kan mau ujian nasional... apa tidak bisa dikasih kelonggaran lagi Pak?" tanya Fany dengan nada membujuk.


Namun, kepala sekolah tampak menggelengkan kepalanya. "Itu sudah peraturan sekolah Bu, kami menghormati hukum republik ini juga. Kekerasan yang Haris lakukan sudah sangat keterlaluan dan hampir merenggut nyawa. Beruntung Haris tidak masuk jalur hukum karena dia masih berstatus pelajar. Saya sangat meminta maaf, ini adalah kebijakan yang dapat kami berikan."


Fany menangis, ditatapnya Haris yang tampaknya berekspresi biasa-biasa saja.


"Kamu tinggal di Surabaya aja ya, sama Papa," bisik Fany pada Haris, Fany tidak pernah marah pada Haris, wanita itu hanya dapat bicara lembut pada anak satu-satunya ini.


Haris yang pendiam, tetapi bebal tidak akan mempan meskipun diperlakukan kasar.


Saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir Fany, Haris tampak terkejut dan menatap ibunya dengan mata berair.


"Haris nggak mau tinggalin Mama di sini."


"Terus... kenapa Haris nya enggak bisa menghargai mama dan Om Jordan?! Mama malu Ris, kamu dikeluarin dari sekolah karena ngehajar temen sendiri, mau jadi apa kamu?"

__ADS_1


"Mau jadi preman? Brandalan kayak Papa kamu?!"


Haris menggigit bibirnya cukup keras, sehingga ia dapat merasakan rasa amis di mulutnya.


"Mama nggak ngerti sama Haris."


"Maafin Haris Ma... maaf... Haris janji, ini yang terakhir."


***


Jasmin melongokkan kepalanya di balik pintu kaca yang tertutup rapat, tidak boleh ada tamu masuk ke ruangan steril itu. Tiga jam lalu, Jasmin mengobrol dengan dokter dan dokter menjelaskan jika Kai mengalami keretakan tempurung kepala sebelah kiri karena benturan yang cukup keras.


Jasmin terus menangis tanpa henti, Jasmin merasa kasihan pada Kai karena cowok itu tidak memiliki keluarga di Bandung sebagai walinya. Kai itu cowok broken home yang sama sekali enggak beruntung. Papanya sering keluar kota, sementara Mamanya tidak tahu ada di mana.


"Kai, cepet sembuh... Jasmin doain Kai sehat lagi...."


"Jasmin udah maafin Kai kok."


"Yaa Allah... sembuhin Kai, maafin Jasmin karena pas diputusin sempet berdoa biar Kai meninggal, Jasmin ralat doa nya Ya Allah."


***


Jumat yang cerah menyelimuti langit Bandung, sudah seminggu sejak kejadian mengenaskan menimpa Kai akhirnya cowok itu sudah dipersilakan untuk tinggal di ruang perawatan biasa. Jasmin datang berkunjung, tidak peduli jika dia sudah berstatus mantan pacar Kai, tetapi dengan niat baik Jasmin memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan mantannya itu. Meskipun Jasmin sudah diingatkan oleh Risa dan Sera untuk tidak lagi lagi berhubungan dengan Kai, tetapi Jasmin itu adalah tipikal cewe bucin lemah yang hatinya itu beda tipis sama bego.


Kai memiliki perban melingkar di kepalanya, wajah cowok itu juga masih sangat pucat, dan Jasmin sedikit malu untuk masuk ke dalam ruangan Kai.


"Kai," ucap Jasmin dengan lembut, di tangan Jasmin ada parcel buah yang ia beli bersama Haris.


Kai menoleh, seperti terkejut dengan kedatangan Jasmin, tetapi akhirnya cowok itu tersenyum amat lebar saat Jasmin berjalan mendekat ke arahnya.


"Jasmin...."


Jasmin duduk tanpa Kai suruh di atas tempat tidur, terpancar rasa rindu yang tersirat sangat dalam di kedua manik matanya untuk Kai, begitupun sebaliknya, tatapan Kai penuh luka lewat senyum hangat di bibirnya.

__ADS_1


"Kamu udah mendingan?"


"Humm." Kai mengangguk cepat.


"Min, maafin aku ya."


Jasmin memejamkan matanya dengan lembut dan mengangguk.


"Iya... sebelum Kai minta maaf, aku udah maafin kamu kok."


Kai tersenyum kecil dengan semburat merah di pipinya, Jasmin sangat menggemaskan, semua tingkahnya dan semua kalimat Jasmin terdengar begitu imut.


"Min... aku putusin kamu, karena taruhan."


Jasmin mendongak kaget, Kai tampak serius.


"Jujur... awal hubungan itu karena taruhan, aku sama sekali nggak serius."


"TAPI... setelah aku jalanin semuanya sama kamu... aku nggak bisa lupain kamu Min, serius... aku sayang banget sama kamu, aku serba salah selama sebulan terakhir kita pacaran."


"Aku tahu aku bodoh dan brengsek! karena aku udah mempermainkan kamu demi taruhan itu... Tapi, aku nyesel Min... aku mau kita pacaran lagi, mulai dari awal, serius. Cuma ada aku sama kamu tanpa perjanjian diluar apa pun!"


Jasmin tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu kok... aku tahu kalo kamu cuma taruhan doang buat jadi pacar aku."


"Aku juga bodoh Kai, karena aku bisa suka sama cowok brengsek kayak kamu. Aku tahu rumor kamu dari temen-temen di sekolah. Mantan kamu banyak... kamu playboy, temen geng kamu juga nggak jauh beda sama kamu, bahkan ada yang lebih parah, aku tahu.“


"Kamu nggak perlu khawatir, cewek ini juga bodoh," ucap Jasmin dengan tatapan lembutnya terarah pada Kai yang tak dapat berkutik.


Kai mengamit kedua tangan Jasmin, mengusapnya erat dengan hangat.


"Maafin aku Min... Demi Tuhan, Min... aku minta maaf...."


Kai membawa Jasmin ke dalam pelukannya, Jasmin tersenyum saat pelukan pertamanya itu sangat mengharukan, dengan erat Jasmin membalas pelukan Kai tanpa peduli jika sewaktu-waktu mungkin dokter atau perawat akan melihat.

__ADS_1


Haris yang sejak tadi berada di ambang pintu hanya dapat tersenyum kecut, merutuki dirinya sendiri karena harus menyaksikan adegan yang sama sekali tidak tepat untuk ditonton.


"Kita semua sama-sama bego, tapi lebih parahnya lagi... gue sial...," gumam Haris sambil beranjak pergi.


__ADS_2