
Suasana kamar itu tampak hening, Haris baru saja berganti pakaian dan mulai menyalakan PCnya untuk bermain PUBG atas ajakan Ardi dan Jona, sementara Jasmin sedang mempersiapkan peralatan make up untuk jobnya besok.
"Oh iya... nasi gorengnya udah lu makan?" ujar Haris.
Jasmin mengendikan bahunya. "Telat Ris... gue udah makan happy meal dari Nela."
"Oh... oke." Haris menatap pada lengan kanannya yang dipasang perban, Haris segera menutupinya dengan lengan kausnya dan bersikap santai.
Haris tentu saja kecewa karena nasi goreng buatannya itu sama sekali tidak menarik perhatian Jasmin. Ya, salah Haris... Jasmin pasti lebih memilih bigmac ketimbang nasi goreng.
"Ris... gue mau ngomong deh."
Haris menoleh, PUBG-nya masih loading.
"Ngomong aja...."
"... kita cerai aja."
Klik... tanpa sengaja Haris mengklik mos dengan jemarinya, Harus terkejut dengan ucapan tiba-tiba Jasmin mengenai perceraian yang sama sekali tidak pernah mereka diskusikan.
Haris segera membalik kursi yang didudukinya untuk menghadap Jasmin yang duduk di ranjang.
Jasmin tampak menunduk, menahan diri dengan tangisan pilunya yang belum pecah.
__ADS_1
"Udah cukup sampai sini aja kita sandiwara... gue yakin, mami kita bakal setuju. Karena kak Surya sama kak Airin udah mau punya anak... dan... kita bilang aja yang sebenarnya sama mereka kalau pernikahan kita ini cuma pura-pura... gue yakin mereka gak akan marah. Iya kan, Ris?"
Haris mengepalkan kedua tinjunya, bagaimana mungkin Jasmin bicara hal ini dengan sangat enteng tanpa dipikirkan dulu masak-masak?
"Gue nggak mau."
"Sebaiknya. Lu pikirin lagi," kata Haris berusaha cuek.
Jasmin tersenyum kecut. “Gue udah pikirin ini mateng-mateng, Ris... gue baru sadar saat ngobrol sama kak Surya sebulan yang lalu... gue rasa, rasa sayang gue sama kak Surya itu ternyata cuma sebatas sayang adik cewek sama kakak cowok yang nggak pernah gue punya... gue nggak menyerah sama perjuangan kita, tapi gue sadar... kita jahat kalau terlalu memaksakan ego masing-masing."
"Gue juga selalu bertanya sama diri sendiri, apa tujuan hidup gue sampai gue harus menikah sama sahabat gini terus."
Haris menatap Jasmin nanar, pikirannya sangat penuh dengan hal negatif sekarang, bahkan Haris sangat ingin membantingkan sebuah benda agar Jasmin bisa berhenti bicara sekali saja, bisa nggak sih Jasmin mengerti Haris di saat seperti ini?
"Terus... lu pikir, perasaan gue sama lu gimana Min?"
"Kalo lu sayang sama Surya sebagai adik ke kakaknya. Terus, gimana perasaan lu ke gue?"
Jasmin tidak dapat menjawab, gadis itu menggigit bibir bawahnya, kepalanya pening dan Jasmin pun sangat bingung.
Haris tersenyum tipis dipaksakan. PC nya ia matikan kembali lalu menghadap pada Jasmin yang masih terdiam.
"Sahabat aja?" tanya Haris lagi menyambung ucapannya yang pertama.
__ADS_1
Tawa kecil agak sinis Haris hadiahkan pada Jasmin malam itu, membuat Jasmin semakin terpojok bingung.
"Jujur, gue malu buat ngakuin hal ini... gue suka sama lu, tanpa status persahabatan kita itu. Gue suka sama lu, Min."
Mata sipit Jasmin terbuka amat lebar saat satu kalimat mengejutkan itu keluar dari bibir tipis Haris.
"Saat pertama kalinya gue sadar, ternyata... gue udah suka sama lu dari dulu, bahkan sebelum gue tahu Airin, gue udah suka sama lu...."
"Mungkin... lu juga nggak tahu, betapa begonya gue saat harus pilih cincin pernikahan kita... pura-pura nggak peduli sama keinginan lu... Tuhan udah kasih jawaban sejak lama, tapi manusia tempatnya khilaf, gue terlambat menyadari ini.“
"Sandiwara pernikahan ini... seharusnya enggak gue rencanain, kalo pada akhirnya... kita emang nggak ditakdirkan untuk bersama, sama seperti yang gue harapkan... maafin gue Min...."
BLAKKKK!
Betapa terkejutnya Haris saat Hani datang dan membuka pintu dengan paksa serta keras.
PLAKKK
Hani menampar pipi Haris saat wanita itu tiba di kamar. Jasmin yang melihatnya terkejut setengah mati. Tangan Jasmin gemetaran saat melihat Hani tampak sangat marah pada Haris yang kini berusaha untuk tenang dalam situasi genting. Namun, nyatanya ketegangan itu tidak berhasil dicairkan meskipun Dimas berusaha menenangkan istrinya.
"Anak kurang ajar! Brengsek! Berani-beraninya kamu bikin sandiwara!"
"Mami...," bisik Jasmin pelan, tetapi Hani menatap Jasmin dengan tajam, Hani tidak pernah marah sebesar ini, tetapi kini wanita itu tampak mengerikan dengan wajah memerah padam dan bibir bergetar.
__ADS_1
"Maaf Tante...," ujar Haris sambil duduk bersimpuh di hadapan Hani yang berdiri di hadapannya. Saat Haris meminta maaf, Hani tampak bersiap untuk menampar Haris lagi.
"Han... sudah Han... kita turun...," pinta Dimas dengan tenang dan lembut.