
Jasmin seakan lupa pada tujuan awalnya menikah dengan Haris. Menikah dengan Haris itu memiliki tujuan untuk tetap dekat dengan Surya, begitupun Haris menikahi Jasmin adalah alasan utamanya agar tetap bisa berdekatan dengan Airin.
Namun, apa yang terjadi sekarang? Tujuan mereka terlihat semakin kabur dan gelap. Jasmin justru kini tampak sangat excited menyiapkan semua kebutuhan si jabang bayi yang ada dalam perut Airin.
Sore ini akan digelar prosesi syukuran empat bulanan kehamilan Airin, karena Surya masih memiliki keturunan jawa dan Airin memiliki darah Sunda maka prosesi itu harus begitu kental dengan adat dan budaya yang dianut daerah kelahiran masing-masing.
Tentu bukan Surya atau Airin melainkan calon om dan tante mereka juga yang sibuk, kakek dan neneknya. Siapa lagi kalau bukan Jasmin, Haris, Hani dan Dimas, juga Fany dan Jordan.
Airin sudah berdandan cantik mengenakan kebaya ibu hamil khas jawa, wajahnya dihiasi make up tipis dan bahunya ditutupi oleh anyaman bunga melati yang segar. Disisinya ada Jasmin dan Surya yang membicarakan perihal adat istiadat empat bulanan.
"Duh, bentar lagi aku jadi tante... gak kerasa ya Kak, udah empat bulanan aja."
Airin membalas ucapan Jasmin dengan senyuman. "Iya Alhamdulillah, sekarang juga udah nggak kerasa mual-mual, Min."
"Kamu dong, kapan nyusul. Biar nanti kita siapin acara empat bulanan kamu," timpal Surya pada Jasmin.
Jasmin tersenyum kecil. "Ih, Jasmin mah-ntar aja. Ehehehe, belum pantes kalo jadi mami-mami," balas Jasmin dengan malu-malu.
"Biarin Min, kalau nunggu siap atau enggaknya, sampai kapanpun juga nggak akan siap. Lihat, si Haris masih aja kayak bocah kan? Mungkin kalau kalian punya anak atau kamunya hamil. Bisa tuh Haris berubah jadi agak dewasa atau kebapak-an." Airin menunjuk Haris yang terlihat memainkan mobil dengan remote control bersama anaknya tante Sunny yang masih SD.
Jasmin menghela napasnya, pusing kalau mikirin Haris mah.
"Ah.. haha... iya kali ya...."
Karena membicarakan Haris dan anak, Jasmin akhirnya menyingkir dari teras yang dijadikan sebagai tempat empat bulanan nanti, gadis itu memutuskan untuk membantu keperluan dapur atau menyambut kerabat yang datang. Namun,
"Min...," panggil Hani yang baru saja muncul dari dapur.
"Kenapa, Mi?"
Hani memijat keningnya. "Beliin mami paracetamol dong ke apotek, sama beliin 4 biji kelapa muda."
"Hah? Miii... Jasmin kan nggak bisa bawa motor atau mobil," keluh Jasmin dengan wajah malas ogah-ogahan.
Hani memelototi putrinya itu jengkel. "Masha Allah, kan ada suamimu, buat apa gunanya Haris kalau kamu ke mana-mana sendiri. Minta anter gih."
"Mi... Tapi...." Jasmin hendak menolak, tetapi Hani sepertinya sedang ribet dengan pekerjaan dapur juga tamu yang akan berdatangan.
"Yaudah, mana uangnya?" Jasmin menengadahkan tangannya.
__ADS_1
"Pake uangmu dulu, nanti mami ganti pas selesai acara."
Jasmin akhirnya dengan terpaksa harus memakai uangnya sendiri untuk membeli empat biji kelapa dan paracetamol untuk Hani. Terserah deh, Jasmin sepertinya akan memesan ojol untuk pergi ke tukang kelapa muda terdekat meskipun Jasmin tidak tahu di mana tukang jualan kelapa muda.
Haris datang, mereka sempat berpapasan sebentar, tetapi tidak berusaha untuk saling menatap satu sama lain berlama lama, hanya dua detik pandangan mereka bersiborok dan sisanya mereka pura-pura saling tidak mengenal.
"Ris... anterin Jasmin gih ke tukang kelapa muda sama ke apotek."
Suara Hani terdengar oleh Jasmin yang baru sampai di ambang pintu.
"Eh? Kelapa buat apa, Mi?” tanya Haris bingung dan agak gugup, sesekali cowok itu juga melirik ke arah Jasmin yang diam di tempatnya.
"Buat lomba tujuh belasan."
"Lah Mih, ini baru bulan maret masa mau tujuh belasan. Mami mabok nih?" Hani memutar bola mata malas. "Kan kakakmu Airin mau empat bulanan. Kita belum ada kelapa mudanya buat prosesi adat. Sana gih anterin, kasian Jasmin daritadi nggak ada temen ngobrol."
Haris menggigit bibir bawahnya, cowok itu langsung menyambar helm yang biasa ia taruh di atas lemari ruang tengah.
Jasmin tampak menunggu di teras depan rumah sambil memainkan HP nya yang tidak memiliki apa pun untuk dilihat.
"Ayo pergi... mo beli kelapa di mana?" tanya Haris setelah sukses mengenakan helmnya. Persis banget kayak tukang ojek.
"Ehh, ke mana aja deh. Lu tahu kan tukang es kelapa yang ada di deket SD kita dulu?“
"Ouh ke sana. Oke." Haris berjalan mendahului Jasmin untuk menuju motornya. Namun, langkah Haris dihentikan oleh Fany yang membawa-bawa kunci mobil.
"Hunn... Min... mau beli kelapa pakai motor?"
"Ck apaan lagi sih," ujar Haris jengkel karena tak kunjung pergi juga.
"Iya Ma," jawab Haris dan Jasmin hampir berbarengan.
"Nih pake mobil. Masa beli kelapa mau pake motor. Nanti siapa yang bawain kelapanya. Kan berat. Masa mau Jasmin yang bawa."
"Oh iya bener Ma... sini kuncinya.” Jasmin menerimanya dengan senang hati, dan Haris tidak bisa membantah karena dia juga tipikal anak penurut pada perintah orang tua.
Alhasil, mereka akhirnya naik mobil milik Jordan, Jasmin duduk di samping kemudi dan Haris bersiap untuk menyetir.
"Lu mau nyetir sambil pake helm, Ris?" ucap Jasmin saat melihat suaminya itu mengenakan helm full face dan bersiap menstater mobil.
__ADS_1
Haris baru sadar, keliatan banget kalau dia canggung dan malu berhadapan dengan Jasmin.
"Oh. Haha... gue lupa," katanya sambil tertawa garing.
Jasmin langsung memalingkan wajahnya ketika Haris melepas helmnya dan menaruh helm tersebut ke bagian belakang mobil.
Haris melajukan mobil dengan kecepatan sedang, kemampuan Haris menyetir juga tidak buruk malah bisa dikatakan kalau Haris itu sangat lancar mengendarai kendaraan apa pun. Mulai dari roda dua sampe roda enam belas.
Tidak ada percakapan di antara keduanya saat itu, hanya Haris yang fokus menyetir dan Jasmin melihat ke setiap pinggiran jalan untuk membeli kelapa muda.
"Nah, SD kita dulu ya.“ Haris menepikan mobil ke pinggir jalan dan menemukan kios es kelapa muda yang jaraknya hanya dua meter dari mobilnya terparkir.
"Ih beneran ada si mamangnya." Jasmin turun dari mobil begitupun Haris.
Haris yang sering nongkrong di waktu sekolah dulu rasanya kembali nostalgia, warung itu begitupun Jasmin yang sering menunggu di jemput mamanya sepulang sekolah sering menunggu di kios es ini. Sama sekali tidak ada yang berubah di sana, hanya si pedagang yang semakin tua.
"Dulu kita sering jajan es di sini. Sampe batuk ya," komentar Jasmin pada Haris yang tengah duduk di bangku panjang.
"Heem... berapa belas tahun ya?"
"Ada kali 12 tahunan udah kelewat."
"Iya jaman-jamannya lu masih jadi anggota sprinkle pink." Haris tertawa kecil, mengingat nama geng SD Jasmin dulu yang diberi nama sprinkle pink.
"Alah lu juga dulu masuk geng tuh sama si Kak Baek, apa sih nama gengnya gue lupa. Sampe lu bikin kaos sablon kan."
"Ah gue inget, geng budak milenium... wkwk, norak banget lu," tambah Jasmin tak mau kalah mengejek Haris.
"Teh... A, ini kelapanya sudah dikemas," ujar si mamang penjual es kelapa pada Jasmin dan Haris.
"Oke. Nuhun Mang, jadi sabaraha?"
"50 rebu, A."
Haris membayarnya dengan uang 100 ribu rupiah. Si mamang hendak mengembalikan kembalian.
"Mang, nggak usah. Sekalian aja saya parkir di sini, ini juga tempat nongkrong saya waktu SD dulu."
"Ih beneran, A? Yaudah atuh nuhun. Nih saya Tambahin kelapanya dua ya. Hitung-hitung bonus."
__ADS_1
Jasmin melihatnya dengan senyum tipis. 'Bisa juga si Haris jadi orang baik. Gue kira dia masih nyebelin.'