Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 63 : Ungkapan


__ADS_3

Jasmin memiringkan tubuhnya di atas tempat tidur, berbalik pada jendela yang gelap dan menampilkan pemandangan pekarangan rumah bagian belakang. Kamarnya ada di lantai 2 sehingga gadis itu dapat merasakan embusan angin dingin menyapa setiap malam.


Jasmin tidak habis pikir, ungkapan cinta Haris tadi malam dan keseriusan Haris di hadapan orang-orang itu benar atau hanya sandiwara? Jasmin sangat bingung, sekaligus merasa sakit hati luar biasa karena selama ini selalu bersikap abai. Beberapa kali sebenarnya Haris mengungkapkan keseriusan secara tidak langsung, seperti selalu menjemputnya, mengantarnya, menjaganya dan melindunginya dari semua hal yang mengganggu. Dan, yang paling membekas adalah kecupan di kening saat malam ketika Jasmin menangis tersedu-sedu setelah kawanan perampok mengepung rumahnya. Jasmin tentu ingat peristiwa itu, bahkan sangat ingat karena ia merasakan jantungnya berdegup dengan kencang, saat Haris memeluknya, bahkan ketika mereka berciuman di atas tempat tidur, Jasmin mengingatnya sebab sang hati merasakan debaran yang sama.


Mengingat itu, Jasmin kembali meneteskan air mata pilu. Sekarang, bagaimana kabar Haris? Oh... andai saja Jasmin tidak menyetujui pernikahan pura-pura ini, mungkin mereka tidak akan terlibat masalah besar seperti sekarang.


"Jasmin...!"


Jasmin terkejut bukan main, saat kepala Haris muncul dari bingkai jendela, wajah Haris muncul lebih dahulu dan tampak senyum lelah menghiasi wajahnya. Jasmin segera bangkit dari tidurnya dan menghampiri jendela kamarnya.


Haris berusaha memanjat lebih tinggi untuk masuk ke dalam kamar Jasmin lewat tangga yang ia ambil dari gudang milik Hani.


"Haris... gimana lu bisa ke sini?!" ujar Jasmin panik.


Haris berhasil memanjat, dan kedua kakinya menapak pada lantai kamar Jasmin. Haris bernapas lega, sementara Jasmin menatapnya dengan dahi berkerut. Pipi gadis itu memerah padam.


"Lu nangis?" tanya Haris dengan suara yang masih memburu.


Jasmin mengangguk, dan tangisannya kembali pecah.


Haris tersenyum kecut, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Jasmin untuk tenang. Dan lagi, setelah bertemu begini otak Haris justru mendadak kosong, kalimat yang ia rangkai di perjalanan mendadak buyar ketika ia melihat Jasmin menangisi kedatangannya.


"Min...," panggil Haris dengan lembut.


"Kenapa? Kenapa lu nggak bilang? Hiks."


Haris mendapatkan pukulan-pukulan cukup kencang di dada dan lengan bagian atasnya, Jasmin menangis dan memukulinya tanpa henti, tetapi Haris diam saja, malah dia tersenyum hangat dan menatap Jasmin dengan pandangan yang tidak biasa. Jasmin semakin terisak pedih ketika respon Haris justru amat diluar dugaan, biasanya kalau Haris dipukul lelaki itu akan meringis dan mengomel atau bahkan membalas, tetapi sekarang Haris justru diam dan membiarkannya terus menangis dan memukul.


"Kenapa diem aja?! Selama ini...."


Hap....


Haris menahan kepalan tangan Jasmin yang hendak meninju dadanya lagi, dan menggenggam erat tangan gadis itu, Haris juga meraih sebelah tangan Jasmin yang lain untuk masuk ke dalam genggamannya. Jasmin terdiam, menunduk dalam-dalam dengan bulir air mata mengalir yang terasa hangat di pipi.


Haris menarik tubuh Jasmin agar dekat dengannya, lalu dengan usapan lembut ibu jarinya menghapus air mata Jasmin. Jasmin semakin memejamkan kedua matanya untuk menahan agar tidak menangis.


"Maafin gue."


"Karena gue pecundang," ucap Haris lembut.


"Gue pikir, gue bisa terus bohong sama perasaan gue sendiri Min, tapi nyatanya, manusia itu tempatnya kebodohan, hati gue terlalu sayang sama lu, otak gue pun jadi ikut-ikutan," ucap Haris dengan senyum bodohnya.


Jasmin mendongak, menatap dengan sungguh-sungguh raut sahabatnya.


"Di balik kata bercanda yang sering gue bilang ke elu, ada perasaan sayang yang nggak pernah gue bilang."


Haris terkekeh, "Gue bodoh Min. Karena gue pikir, kita nggak akan mungkin punya perasaan khusus satu sama lain. Dan kebodohan gue semakin banyak, saat gue yang kalah sama keyakinan gue sendiri. Gue jatuh cinta sama lu."


"Ada masa, gue sangat takut nggak ngeliat lu lagi. Gue takut waktu mami lu marah dan ngancam lu buat tinggal sama papi lu di Belanda. Terus, gue khawatir... gimana hidup gue tanpa Jasmin?"


Jasmin menggigit bibir bawahnya, menangis tiada henti di hadapan Haris yang sibuk mengoreksi diri sendiri.


"10 tahun gue suka sama lu... dan baru hari ini gue bilang... Jasmin, gue cinta sama lu, gue sayang sama lu."


"Jangan tinggalin gue... gue harus sama siapa kalo nggak ada lu?" Jasmin menghapus air matanya dengan kasar, dan Haris menunggunya.


"Ris, apa lu tahu kenapa gue manggil lu Arnold?"


Haris menggelengkan kepalanya, Haris juga tidak tahu pasti kenapa Jasmin selalu memanggilnya Arnold, bahkan panggilan itu sudah Jasmin berikan pada Haris ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

__ADS_1


Jasmin tertawa kecil di antara tangisannya. "Tahu Hey Arnold?"


Haris membulatkan kedua matanya, dan Jasmin masih tertawa seperti orang bodoh.


"Gue Helga kecil itu Nold... Gue suka sama lu sejak gue masih SD."


Haris menarik tubuh Jasmin ke arahnya dan memeluk gadis itu dengan erat sambil tersenyum pedih.


"Gue berusaha berhenti buat suka sama lu saat itu, tapi ga bisa... gue juga patah hati, waktu lu naksir kak Airin pas kita SMP."


***


Malam yang tenang berubah menjadi begitu sepi, Haris membantu Jasmin untuk tertidur dengan tidak mengganggu gadis itu dan memilih untuk duduk di lantai. Jasmin menyelimuti dirinya dengan selimut dan menatap langit-langit kamar. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi setelah mereka mengobrol panjang lebar untuk mengungkapkan isi hati dan masa-masa kelam.


Mendadak Haris menjadi begitu canggung, begitupun Jasmin yang tidak bisa diam di atas tempat tidurnya, memejamkan mata pun Jasmin tidak sanggup karena suasana dengan Haris terasa berbeda dari biasanya, apalagi hari ini mereka udah sering banget berpelukan seperti teletubies.


"Min, besok berangkat jam berapa ke Belanda?"


Jasmin menoleh ke arah Haris, ia menghela napasnya. "Penerbangan pagi."


Haris menggigit bibir bawahnya."Masih keburu gak ya," gumam Haris.


"Lu mau temenin gue ke sana? Mau beli tiket penerbangan?" Jasmin dengan semangat beringsut menghadap ke arah Haris.


Laki-laki itu tersenyum tipis dan membuat Jasmin semakin tersipu.


"Nanti di sana gue sama siapa?" tanya Jasmin lagi menyambung kalimat awalnya, Haris masih tidak menjawab.


"Min...."


"Huh?"


"Bikin bayi yuk...."


"Ris, apaan sih!"


Haris malah membuka jaket kulitnya dan naik ke atas tempat tidur, menyudutkan Jasmin pada kepala ranjang milik mereka berdua. Jasmin menyembunyikan wajahnya pada selimut sementara Haris tersenyum menatap raut sahabatnya yang sangat menggemaskan.


"Ayok Min, sebelum lu pergi ninggalin gue."


"HARIS!" ujar Jasmin sedikit berteriak, tentu saja hal itu membuat keduanya kaget, karena kedatangan Haris kemari sangatlah rahasia dan amat berbahaya kalau Hani mengetahuinya.


"Emang lu gak pengen bikin bayi sama gue?“


Jasmin mengembungkan pipinya. "Bukan gitu... tapi."


"Aneh ya?" tanya Haris.


"Iya... selama ini kan kita...."


"Kita pernah ciuman," ucap Haris menyerobot ucapan Jasmin.


Jasmin melotot ke arah Haris dan tersenyum geli.


"Emang lu gak nafsu pas gue cium lu?"


Jasmin menunduk, malu banget.


"Engga gitu," balas Jasmin dengan suara pelan.

__ADS_1


"Yaudah ayok... udah siap nih," ujar Haris polos dengan nada memaksa.


"Ris iiihhh... geli!!"


Haris mengerutkan dahinya. "Gue belum ngapa-ngapain elu Min. Kok udah geli?"


Jasmin tertawa kecil sambil menutup bibirnya. "Gue takut."


"Takut apaan?"


"Takut aja...."


"Kok takut sama 'aja' sih."


"Iih Haris...."


"Hehe, yaudah ayok." Haris nyengir dan menaik turunkan kedua alis tebalnya, bukannya tergoda Jasmin malah ingin tertawa melihat tingkah polah sahabatnya ini.


***


Hani dan Dimas sudah berada di bandara, tentunya bersama Jasmin yang sebenarnya akan segera berangkat beberapa menit lagi, tetapi Jasmin sepertinya enggan melangkahkan kakinya untuk masuk ke area keberangkatan.


"Nanti kak Surya main ke sana kalo kak Airin sudah sehat," beritahu Surya yang juga ikut mengantarkan Jasmin ke bandara.


Airin sedang sakit sehingga wanita hamil itu tidak bisa ikut ke bandara untuk mengantarkan Jasmin. Maka, Surya sebagai kakak Jasmin pun mewakili ucapan Airin untuk disampaikan pada Jasmin.


Jasmin mengangguk dan memaksakan senyumnya untuk Surya. "Iya Kak, makasih banyak."


Hani tampak berpaling dari Jasmin, wanita itu sebenarnya sangat berat menyerahkan Jasmin pada mantan suaminya, tetapi Jasmin sudah cukup mengecewakannya sehingga Hani merasa pantas untuk berpisah dengan Jasmin saat ini.


"Kalau ada apa-apa, telepon papa ya Min," tambah Dimas.


"Huum... makasih Pah."


Dimas memeluk anak perempuannya dengan lembut sambil tersenyum. "Iya, iya... jangan sedih."


Jasmin melepas pelukannya dari Dimas dan beralih pada Hani yang tampak menahan tangisan sejak mereka tiba di bandara. Dimas dan Haris tidak berani ikut campur dan memilih untuk meninggalkan ibu dan anak itu berdua saja.


Hani tidak menatap pada Jasmin, tetapi Jasmin terus menunggu Hani untuk mau melihat ke arahnya walau sebentar.


"Miih," panggil Jasmin dengan suara serak.


"Jasmin pergi dulu. Jasmin gak akan pulang sebelum mami minta Jasmin pulang."


"Jasmin sama Haris."


"Gak usah sebut nama itu lagi...," potong Hani ketika mendengar nama Haris disebut.


Jasmin mengerucutkan bibirnya. "Tapi, dia suami Jasmin sekarang."


Hani akhirnya menghela napas dan menatap ke arah Jasmin dengan pandangan nanar, Jasmin menjadi takut, takut jika Hani akan kembali marah dan membentaknya.


"Terserah kamulah."


"Mih.... Jennie berangkat ya.... Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Hani melepas kepergian Jasmin di bandara pagi itu, Jasmin terlihat sangat mungil dengan koper besar yang ia bawa bersamanya. Berat sebenarnya untuk melepas Jasmin, tetapi itu sudah menjadi keputusan besar untuk Hani agar memberikan pelajaran bagi anaknya dan juga Haris.

__ADS_1


Jasmin sesekali menoleh ke belakang untuk melihat ke arah Hani, dan semakin jauh ia berjalan semakin Hani menghilang dari pandangannya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2