
Sepeninggalan kedua orang tuanya, Jasmin kembali berbaring dan Haris masih berada di sisinya, Haris berpura-pura main HP scroll instagram yang isinya video dia semua karena Haris ditag dibanyak akun hits instagram, bahkan se-Indonesia mungkin tahu siapa itu Haris. Haris sudah tahu kalau dia sudah terkenal, makanya dia akan sangat hati-hati dalam bertindak mulai sekarang.
Tidak ada yang memulai untuk bicara duluan. Selain Jasmin yang sejak tadi memperhatikan suaminya yang tak menghiraukan dirinya.
"Udah baikan?" tanya Haris, sembari menaruh hp ke saku jeans-nya.
"Keliatannya?" ucap Jasmin dengan alis naik sebelah.
"Udah sehat sih kayaknya... tuh buktinya bubur semangkok udah musnah," jawab Haris nyinyir.
Jasmin cengengesan. "Btw, LU KEMARIN MALEM KE MANA AJA?! BELI MIE REBUS LAMA BANGET LU!" bentak Jasmin pada Haris sambil memukul lengan Haris menggunakan tinju seadanya.
Haris meringis dengan mata melotot. Ini Jasmin baru aja sembuh udah berubah wujud jadi singa.
"Aww, sakit!" jawab Haris lemah. Ini kayaknya Jasmin lupa kalau semalam dikecup keningnya.
"GUE HAMPIR MATI, TAU NGGAK LU?!" tambah Jasmin dengan wajah kusut.
Haris hanya bisa menundukkan kepala, bagaimana pun juga ia merasa sangat bersalah karena ia meninggalkan Jasmin di rumah sendirian dengan pintu dibiarkan terbuka.
"Sorry... gue emang gegabah kemarin, gue kelamaan ngobrol sama Ravi, Daniel, Will sama Jefri."
"Tapi... bukannya lu cewek strong, ya? Yang bisa ngehajar sana sini?”
Jasmin mendelik tajam ke arah Haris. "Yaa Allah, Ris. Gue diiket, gimana bisa gue ngelawan. Udah gitu muka gue juga digampar."
__ADS_1
"Emang sialan itu rampok. Tapi lo tenang aja, mereka udah diringkus polisi, komplotannya juga udah jadi status buron."
"Gimana gue bisa tenang?! Koleksi perhiasan gue digondol juga kan?!" bentak Jasmin lagi. Haris kembali jadi mode anak kucing yang bisanya cuma nunduk.
"Udah ada itu juga. Sementara disimpen di kantor polda buat barang bukti,“ ujar Haris pelan.
"Oh iya yaa. Kan rampoknya udah ketangkep. Hehe."
"Lu habis dirampok bukannya tambah pinter malah jadi lemot. Curiga pas kena gampar otak lo gesernya makin jauh. Ckck."
Geplak!
Kena gampar juga akhirnya Haris, tetapi bukan di pipi melainkan di lengan kirinya.
"Min, kalo lu kebanyakan mukul gue. Gue bakal laporan ke dinas perlindungan manusia, bahwa lu sudah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga!"
"Tapi serius deh... lo udah baikan, 'kan?" tanya Haris lagi, dia masih agak khawatir juga dengan Jasmin.
Jasmin pun akhirnya menanggapi Haris dengan ekspresi serius tanpa main-main seperti diawal obrolan mereka tadi.
"Udah kok. Lu ga usah khawatir. Kayak ga kenal gue aja."
"Hm, syukur deh. Oh iya, habis ini kita mau tinggal di mana? Apa lu mau tinggal di rumah nyokap lu dulu?"
Jasmin mengangguk. "Hmm. Mau gimana lagi. Rumah itu masih bikin gue ngeri."
__ADS_1
"Okay... habis ini gue harus bawain baju-baju lu sekalian pindahan sementara."
"Thankss... btw, cucian gue juga banyak Ris. Sekalian lo laundry in yaa."
"Dikasih hati minta jantung...."
"Hehe... liat dong, tangan adek sakit... pipi adek juga memar," kata Jasmin dengan pasang wajah sok imut. Jasmin juga menunjukkan keningnya yang terkena sedikit luka goresan.
"Tuh, kening gue juga kena goresan....“
Melihat kening Jasmin, Haris jadi ingat peristiwa semalam. Kilatan bayangan ketika satu kecupan Haris berikan di kening Jasmin tiba-tiba muncul dalam benak Haris begitu saja. Hal itu sukses membuat pipi Haris memerah dan cowok itu memalingkan muka ke arah lain.
"Iya bawel lu!" ujar Haris buru-buru.
"Semalem mimpi apa engga ya, gue mimpi ada papi gue ke sini. Dia peluk gue, terus cium kening gue. Ris, semalem lu di sini nggak? Apa gue ngigo?" tanya Jasmin dengan ekspresi bingung.
Haris agak gelagapan. "Lu mimpi kali....”
"Heem kali yaa. Papi gue jahat banget sih, apa nggak nonton berita kalo anaknya kerampokan!"
"Papi lu kan nggak di Indonesia Neneng!"
"Apa papi ga buka radar Jabar. Terakhir kan dia punya aplikasi itu buat mantau kehidupan gue"
Haris tertawa ngakak. “Kita liburan aja ke Belanda. Ketemu papi lu."
__ADS_1
Jasmin mengendikan bahunya kesal. "Nggak mau. Belanda negeri kompeni!"