Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 32


__ADS_3

Karena kehabisan napas, Haris melepas ciuman itu, kedua matanya nanar menatap Jasmin yang berusaha menyesuaikan oksigen dalam paru-paru dan rongga dadanya yang begitu sesak karena terkejut.


Blap!


Lampu mati sekaligus, terjadi pergerakan di atas ranjang ketika penerangan sirna. Haris segera turun dari ranjang begitupula Jasmin yang sibuk merapikan diri. Mereka sama sekali tidak bisa saling bertatapan atau berhadapan lagi setelah ini terjadi. Gila nggak sih ciuman?! Ciuman loh ini.


Karena gelap, Haris menyalakan senter dalam HPnya dan berhasil menerangi ruangan, ia berhasil menemukan Jasmin yang menatapnya, tetapi saat bertatapan Jasmin memalingkan wajahnya ke sana kemari dengan bingung.


"Gue... gue cari lilin dulu," ujar Haris gugup, dan keluar dari kamar untuk mencari lilin.


Sementara itu Jasmin menghela napas kasar dan kembali berbaring di atas tempat tidur dengan jantung yang tak bisa tenang, Jasmin memegangi dadanya yang seolah terjadi gempa di dalamnya. Begitupun Haris yang kini bersandar di balik pintu ditengah kegelapan yang menyelimutinya.


"***** gue *****!" umpat Haris sembari menepuk-nepuk dadanya yang bidang berulang kali.


Tak butuh waktu lama untuk lampu kembali menyala, hanya sepuluh menit listrik mati dan kini penerangan sudah kembali.

__ADS_1


Haris tak kembali ke kamar malam itu, dan Jasmin diam di dalam kamar dengan perasaan waswas. Menghubungi Haris pun Jasmin tidak berani karena malu dan gugup menguasai dirinya. Sementara Haris memutuskan untuk tidur di kamar tamu.


***


Pagi-pagi sekali sarapan dimulai di keluarga Jordan, Fany memasak sarapan sederhana, tetapi terlihat lezat sekali masakannya. Ada rolade, sup krim jagung, telur mata sapi dan juga waffle dengan saus cokelat. Jasmin dan Jordan sudah duduk di meja makan, diikuti Fany yang menyusul sembari membawa dua gela susu untuk Jasmin dan satu lagi untuk Haris.


"Duh, jadi malu nih dimasakin," ucap Jasmin dengan senyum gugup pada Fany.


"Engga apa-apa. Jasmin kan masih belum pulih. Haris mana?" tanya Fany pada Jasmin.


Jasmin menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ehmm... masih di kamar kayaknya Mah."


Aduh sial. Mana bisa Jasmin nyusulin Haris buat ngajak sarapan bareng. Tadi pagi aja waktu papasan habis salat subuh dua-duanya salting.


"Ehm... iya Mah, tunggu bentar ya." Jasmin dengan terpaksa akhirnya menurunkan gengsinya sebagai seorang wanita untuk menyapa Haris duluan pagi itu. Kisah persahabatan mereka tidak pernah secanggung ini sebelumnya. Tapi! Gara-gara insiden ciuman tidak jelas itu dua-duanya jadi kaku macam mummy firaun.

__ADS_1


Jasmin naik ke lantai dua, mencari Haris di beberapa kamar yang ada di sana, tetapi hasilnya nihil. Terakhir Jasmin membuka kamar mereka yang semalam dipakai buat cemewew sesaat, mengingatnya membuat pipi Jasmin berubah merah lagi, Jasmin jadi salting saat melihat seprai berantakan bekas semalam gara-gara Jasmin heboh banget waktu dicium.


Jasmin mendapatkan dua pesan WA.


Arnold: Gue pergi duluan.


Arnold: Mau ada pegawai baru di toko.


Jasmin menghela napas lega.


"Alhamdulillah dia nggak ada...." Jasmin bisa bersyukur juga akhirnya sejak semalam tidak bisa tidur karena kepikiran terus.


Jasmin tidak membalas pesan Haris, membacanya saja sudah cukup membuat Haris tahu kalau Jasmin mengetahui keberadaannya.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Eh, Sorry ternyata mati lampu....


Maaf kalau aku lama up, karena sibuk ulangan semester.


__ADS_2