
Haris dan Ravi serta Daniel memutuskan untuk menghentikan obrolan mereka, karena jarak dari warung Jefri menuju rumah Haris cukup jauh maka atas inisiatif Daniel si pemilik motor vespa memutuskan untuk cenglu alias bonceng tilu bersama Haris dan Ravi untuk mengantarkan Haris ke rumahnya.
Ketika hampir mendekati blok rumah Haris, terlihat sebuah kendaraan tidak dikenal terparkir di ujung komplek hal itu membuat kecurigaan timbul di benak Ravi yang merupakan ketua karang taruna.
"Eh, itu mobil sodara lu, Ris?"
Haris menggelengkan kepalanya. “Bukan, sodara gue nggak ada punya mobil mini van begitu."
Haris turun dari motor diikuti Daniel sementara Ravi masih memegang kemudi sambil menyelidiki mobil dengan pandangannya.
"Temennya Jasmin mungkin atau temen lu?" tanya Daniel.
"Temen Jasmin mah mobilnya bergambar hello kitty semua. Yaudah deh, gue masuk dulu. Thanks ya," ujar Haris pada kedua temannya.
"Bentar!" Ravi menahan bahu Haris. "Gue curiga, kita masuk rumah lu bareng-bareng."
Haris tidak menaruh curiga apa pun, sehingga dengan percaya diri cowok itu maju lebih dulu untuk mengajak Ravi dan Daniel masuk ke rumahnya.
Ketika sampai di depan pintu rumah, justru rumah terkunci dari dalam.. hal itu membuat Haris terkejut dan menaruh rasa takut sangat besar kalau kecurigaan Ravi terbukti.
Dengan satu tendangan, Haris mendobrak pintu rumahnya dan menerobos masuk ke dalam bersama Ravi dan Daniel.
"Ini. Rampoknya!" ujar Ravi saat melihat tiga orang tengah berkerumun di ruang tengah rumah Haris.
Apa yang Haris lakukan? Justru refleks mencari Jasmin yang tidak dapat ia temukan di mana pun.
Daniel dengan sigap menelepon polisi sementara Ong maju duluan setelah meraih vas bunga ditangannya untuk bersiap menghajar.
__ADS_1
Hati Haris diliputi rasa takut dan khawatir akan Jasmin, tanpa berpikir panjang dan resiko Haris langsung menyambar salah satu lengan perampok dan meninju wajahnya sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu satu rampok hendak mengeluarkan pistol, tetapi dengan cepat Ravi menepisnya menggunakan tendangan tinggi hingga pistolnya terlempar jauh entah ke mana. Satu perampok yang bertubuh besar berhadapan dengan Haris setelah bangkit dari pukulan Haris. Perampok itu membawa sebilah pisau lipat di belakang sakunya, tetapi Haris mengetahui taktik itu dan segera meninju ulu hati penjahat itu tepat sasaran membuat pria itu terjungkal ke belakang dengan geraman kesakitan.
Suasana tampak kacau perkelahian antara penjahat dan tiga pemuda penghuni Batu Mas terjadi begitu dramatis. Ditengah pertarungan Haris terus mencari Jasmin, Haris sangat takut Jasmin kenapa-kenapa.
Karena lengah, seorang penjahat berhasil menjatuhkan tendangan kuat pada bahu Haris. Haris tersungkur ke lantai merasakan sakit luar biasa pada bahunya, sebagai balasan Haris langsung berdiri dan meninju serta menendang dengan membabi buta.
Daniel yang selesai menghubungi kantor polisi terdekat langsung saja membantu kedua temannya, memberikan aba-aba pada Haris untuk mencari Jasmin terlebih dahulu. Sementara Ravi sudah berhasil menumbangkan salah satu penjahat dengan teknik bela dirinya.
Haris memegangi bahunya, napasnya ngos-ngosan dan tubuhnya cukup gemetaran. Dia mencari Jasmin ke segala sudut rumah, dan terakhir dia menuju dapur sebagai tempat terakhirnya.
Jasmin terlihat menangis dengan bibir ditutup menggunakan lakban, kedua tangan dan kaki terikat. Haris langsung berlari ke arahnya dan menangis melihat Jasmin tampak begitu ketakutan dengan wajah dihiasi luka.
Haris melepas lakban dari mulut Jasmin dengan lembut takut jika menyakiti Jasmin lagi.
"Minn...," ujar Haris lembut, tanpa pikir panjang Haris langsung membawa Jasmin ke dalam pelukannya. Hanya dua detik pelukan itu Haris lepaskan. Jasmin menangis tersedu-sedu tanpa suara, menandakan bahwa luka mentalnya sangat parah hingga gadis itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Jasmin menatap Haris membuat Haris memalingkan wajahnya ke arah lain, Haris diliputi rasa amat bersalah pada Jasmin. Setelah ikatan terlepas, Haris kembali memeluk Jasmin sekarang dua kali lebih erat dan berlangsung cukup lama. Sirine polisi berbunyi dari luar rumah, keadaan tidak seribut tadi, tetapi masih cukup untuk membuat Jasmin dan Haris diliputi rasa takut
***
Setelah pemeriksaan awal oleh dokter tidak ada pengunjung yang boleh menjengkuk Jasmin terlebih dahulu. Bahkan Hani dan Dimas tidak dapat masuk ruangan dan terpaksa menunggu di luar. Surya dan Airin bahkan Jordan dan Fany pun ada di rumah sakit untuk memastikan bahwa kedua anak mereka baik-baik saja.
Haris tampak baik-baik saja, dia hanya mendapatkan luka di sekitar bahu dan sudah ditangani oleh dokter. Sementara Daniel dan Ravi tengah melakukan wawancara ekslusif dengan media terkait penangkapan rampok yang selama ini selalu meresahkan warga perum Batu Mas.
Haris duduk didekat Hani dan Dimas, kedua orang tua itu tampak belum berani banyak bicara terutama Hani yang selalu menangis.
"Ris, gimana Jasmin?" tanya Dimas mewakili istrinya.
__ADS_1
"Jasmin masih butuh istirahat Om, Mih, tenang aja... Jasmin baik-baik aja kok, Mami sebaiknya pulang," ujar Haris pada Dimas dan Hani. Hani kembali terisak takut, dia mengeratkan pelukan pada Dimas.
Haris menatapnya khawatir, sedikit pelajaran juga baginya. Jasmin pasti membutuhkan sosok laki-laki sebagai pelindungnya sekarang. Tanpa banyak bicara Haris langsung masuk ke dalam ruangan Jasmin.
Haris menemukan Jasmin tengah terlelap dengan selimut menutupi sebagian besar tubuh mungilnya. Haris menghela napas lega, lalu duduk di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan tempat tidur pasien.
Haris menunduk, merasa amat bersalah, cowok itu kemudian menangis tanpa suara saat melihat lebam di pipi kiri Jasmin begitu parah, dan lengan kiri Jasmin juga diperban karena terkena minyak panas. Haris sudah salah sangka, ternyata Jasmin menuruti kemauannya untuk menggoreng sosis dan nugget kesukaannya.
"Maafin gue, Min," bisik Haris lembut.
Jasmin membuka matanya, lalu mengangguk. "Okay," balas Jasmin serak, membuat Haris kaget karena gadis itu mendengar ucapannya.
Haris tersenyum miris, mengusap kening Jasmin yang sedikit hangat dengan lembut. "Sakit?"
"Iyalah," jawab Jasmin jutek, membuat Haris tertawa dipaksakan.
"Ris?"
"Hmmm...."
"Gue kangen papi," ujar Jasmin menahan isakannya. Haris mengangguk, mengamini ucapan Jasmin dalam hati.
"Nanti kita ke rumah papi lu... gue anterin."
Haris kemudian naik ke atas tempat tidur milik Jasmin dan membaringkan tubuhnya di sana, memeluk Jasmin selayaknya suami pada istrinya. Jasmin menangis, diam tanpa kata, hanya isakan yang menguasai dirinya. Jasmin masih begitu takut, tubuhnya masih saja gemetaran dan dengan sangat nyaman gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Haris yang selama ini tidak pernah ia rasakan kehangatannya.
Tanpa sadar, Haris justru menjatuhkan kecupan dalam di kening Jasmin dengan mata terpejam. Hal itu sukses membuat isakan Jasmin berhenti, dan pelukan Haris mengerat.
__ADS_1