Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 74


__ADS_3

Jasmin membuka matanya saat alarm menyala di atas meja, dia bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bangun dalam keadaan sehat pagi itu. Ia menoleh ke samping, Haris masih memeluknya erat, tidur Haris masih lelap dan mulut Haris terbuka saat tidur, membuat Jasmin tertawa sambil menutupi bibirnya.


"Ris...," bisik Jasmin lembut, karena waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi Jasmin memutuskan untuk tidur lagi dan bangun saat pukul setengah enam saja. Entah mengapa pagi ini Jasmin sangat malas, ia ingin terus berada di atas tempat tidur dan berada dalam pelukan Haris. Wah apa jangan-jangan efek hamil sudah mulai terasa ya?


Merasakan sedikit pergerakan, Haris membuka matanya dan menutup mulutnya yang tadi terbuka, dengan muka bantal Haris meraih Hpnya dan melihat waktu sudah lewat subuh.


Haris melirik Jasmin yang masih berada dalam kukungan tubuh besarnya dan tersenyum.


"Tidur yang nyenyak ya bumil... unchh... kasian gak bisa tidur," ucap Haris dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Chup....


Satu ciuman dalam-dalam Haris berikan di kening Jasmin dengan mesra. Haris tidak tahu kalau sebenarnya Jasmin sudah terbangun dari tadi, tetapi istrinya itu sedang berpura-pura agar tidak perlu malu karena ketahuan sudah bangun. Kan gengsi.


***


Setelah sarapan singkat di kedai nasi uduk mang jahad sebelah kedai mie tektek bang baek, kini Haris dan Jasmin melanjutkan perjalanan mereka untuk mendatangi dokter kandungan. Haris dan Jasmin hanya berjalan kaki untuk ke dokter kandungan, karena lokasi rumah baru mereka yang sangat strategis dan dekat ke mana-mana maka tidak perlu kendaraan untuk ke dokter buat periksa kandungan. Sebenarnya Haris itu pengertian banget sama Jasmin, karena Haris tahu Jasmin tidak bisa bawa motor makanya Haris beli rumah yang deket ke mana-mana.


Jasmin berbaring di atas matras untuk diperiksa, perutnya yang masih rata diolesi gel agar dapat di USG, Haris di sisinya sudah siap sambil ikut melihat ke layar yang akan menampilkan sosok si jabang bayi.


Dokter Reza yang bertugas pun tampak tersenyum ramah pada Haris dan Jasmin. Apalagi setelah mengetahui kalo Haris adalah adik kelasnya sewaktu SD dulu, makin lah dokter Reza memberikan layanan yang sangat bersahabat.


Wajah Jasmin tampak pucat pagi ini, antara masih shock karena hamil atau efek hamil sudah mulai ia rasakan.

__ADS_1


"Tenang Min, habis ini kita bakalan tahu udah umur berapa janinnya," kata Haris dewasa, tumben benar Haris ngomong tidak asal libas pikir Jasmin dalam hati.


"Sudah dikasih gel, Sus?" tanya dokter Reza pada suster yang bertugas.


"Sudah Dok. Tinggal mulai saja," jawab si susteryang disambut acungan jempol dokter Reza.


"Nah kita mulai ya, Tuan dan Nyonya Airlangga," kata dokter Reza ramah, tangan lentik dan mulus milik dokter Rina mengambil alih alat USG dan mulai menempelkannya pada sisi kanan perut Jasmin, layar mulai menampilkan cahaya hitam putih yang hanya bergambar abstrak. Haris mengernyitkan dahinya.


"Nah, ini janinnya... sudah kelihatan," ujar dokter Reza sembari terus menggulirkan alat USG di atas perut Jasmin.


Jasmin melamun, ia memperhatikan gambar pada layar dan menatap pada Haris. Ya ampun, itu hasil si Haris! "Ini yang kecil, kelihatan?" tanya dokter Reza pada Jasmin.


"Kelihatan Dok... kecil, kayak tombol tamagochi," ujar Jasmin dengan mata berkaca-kaca.


Sejak tadi Jasmin terlalu fokus pada layar sampai ia tidak menyadari kalau Haris sudah nangis sesenggukkan sambil *******-***** tangan Jasmin yang digenggam erat olehnya.


"Huhuhu... itu anak gue, Bang? Huhuhu... anak gue kecil banget Bang...." Haris menggigit bibir bawahnya karena ia tidak kuasa untuk menahan haru dan sedih.


Melihat makhluk mungil yang berdetak cepat itu adalah darah dagingnya, yang ada dalam perut Jasmin.


Jasmin tersenyum, lama kelamaan Jasmin pun jadi ikut menangis karena melihat Haris menangis seperti itu.


"Iya iya, itu bayi kalian, haha... ada-ada aja."

__ADS_1


Dokter Reza meresepkan vitamin untuk Jasmin serta memberikan tips jika diwaktu yang akan datang Jasmin mengalami ngidam atau mual muntah karena efek hamil muda. Jasmin mendengarkan dengan baik semua saran dari dokter yang juga kakak kelas Haris sewaktu SD itu dengan baik.


Oh iya, satu hal lagi... Haris dan Jasmin sepakat untuk tidak memberitahu berita kehamilan ini pada orang tua mereka. Sebab, benar apa kata Jasmin pasti orang tua mereka rusuh kalau tahu Jasmin mengandung. Maka dari itu untuk menghindari kerusuhan, Haris memutuskan untuk menyimpan berita gembira ini berdua saja. Eh, bertiga sama dokter Reza.


***


Jasmin duduk di ayunan tepatnya di teras belakang toko mebeul Haris yang pada hari itu cukup ramai pengunjung. Haris bahkan sampai keteteran karena harus ikut melayani pengunjung yang memilih segala macam furniture yang ada di sana. Tiga pelayan pun bahkan tidak cukup untuk menghandle toko siang itu.


Wajah Jasmin benar-benar pucat dan tidak bersemangat, badan Jasmin juga jadi gampang lemes setelah tahu kalau dirinya hamil. Haris yang berada di dalam toko sesekali melirik ke arah teras untuk memastikan kalau Jasmin baik-baik saja.


Setengah jam kemudian, Haris pamit pada Chen untuk menemui Jasmin yang masih setia di ayunan. Sambil membawa segelas jus jeruk dengan sedikit es di dalamnya.


"Ngelamun aja?" tanya Haris sambil duduk di hadapan Jasmin, Haris menarik bangku kayu yang tersedia di sana dan menyerahkan jus jeruknya pada Jasmin.


Jasmin tersenyum kecut dan menerima jus jeruk itu. "Aa," panggil Jasmin tak biasa.


"Kenapa?"


"Jangan jauh-jauh... temenin di sini. Aku kesepian."


"Lah...."


Bersambung ....

__ADS_1


Masih belum terbiasa mereka bilang "aku-kamu" ah, efek "gue-lu" nih.


__ADS_2