
Belanja bulanan pertama sebagai suami istri membuat Jasmin dan Haris sedikit kerepotan saat berada di supermarket. Dua anak manusia itu tampak masih mendorong troli kosong menyusuri rak demi rak memilih sembako untuk mengisi dapur.
Masalahnya adalah, Jasmin tidak bisa masak, dan Haris yang enggak sabaran, tentu saja belanja menjadi hal yang paling jadi masalah besar-besaran buat keduanya. Kini Jasmin dan Haris berada di rak sepanjang enam meter dengan tinggi dua meter, berisi kecap dan saus.
Jasmin menyusuri rak dengan kedua matanya.
"Lu biasa pake kecap apa?"
"Kecap apa aja deh, lagian lu paling masak apaan sih. Gue ga begitu doyan kecap, kalo partner nya bukan telor dadar."
"Nah itu dia, gue rencananya mau masak telor
dadar terus buat lu. Wkwkwk, makanya gue mau
tahu kecap apaan yang paling lu suka.“
Haris menghela napas lembut, kemudian mengambil dengan asal kecap dari rak untuk masuk ke dalam trolinya.
“Dahlah yang itu aja.“ Haris mengalah, karena ia ingin segera mabar bersama Ardi.
"Bagus, suami yang sangat pengertian!"
"Tinggal beli apa lagi?" tanya Haris jengkel.
"Beli telor doang, kan kecapnya udah," jawab Jasmin enteng dan santai. Memang paling enak disambat kalau punya istri macam Jasmin ini. Untung Haris sabar dan sudah mengenal Jasmin lebih dari 20 tahun.
"Ck, aturan beli telor di warung aja sih. Nggak usah ke supermarket begini. Emang lu ga butuh susu, sereal, roti sama minyak goreng?"
Jasmin menepuk jidatnya. "Oh ya ampun. Gue lupa Ris. Hahaha... kita juga belum beli nugget sama sosis. Siapa tahu kan gue males dadar telor, kuyy...," ajak Jasmin dengan semangat menuju jejeran nugget dalam box es.
"Pilih deh Ris, lu suka yang mana,” ujar Jasmin sambil membuka box berisi aneka ragam nugget dan sosis.
Haris mengambil nugget alfabet yang tinggal satu-satunya, Haris hendak menaruhnya ke dalam troli, tetapi seorang anak kecil dengan wajah mungil dan cantik menyela Haris.
"Om, nuggetnya yang itu boleh buat Nela nggak?" tanya si anak kecil sambil menarik ujung kemeja yang dikenakan Harus.
__ADS_1
Jasmin yang mendengarnya ikut memperhatikan. "Enggak boleh, Dek. Om suka banget sama nugget ini. Adek ambil nugget lain aja yaa," kata Haris dengan logat menyebalkan.
Terlihat anak itu cemberut. "Tapi Nela lagi belajar baca, Om. kata papa kalo pengen pinter baca harus makan nugget huruf."
Jasmin cekikikan mendengar celoteh pintar si anak yang mengaku bernama Nela itu, sementara Haris tampaknya senang main-main dan iseng terhadap anak kecil.
"Adek, kalo mau pinter baca jangan makan nugget, tapi makan buku aja."
"Yaudah, nugget ini buat Om ya, adek nugget nya yang bentuk abstrak aja," jawab Sehun tidak mau kalah..
"Ris udah kasih aja, ntar ada emaknya lu kena semprot!" beritahu Jasmin.
Haris menggelengkan kepalanya. “Gue kan
punya elu, kalo ada yang nyemprot gue, lu semprot baliklah“
Tiba-tiba....
"Nela gimana, nuggetnya udah dapet?"
Sementara itu, Jasmin dan Haris seketika mematung ketika seorang laki-laki yang dipanggil oleh Nela dengan sebutan Papa itu terlihat sangat tidak asing. Cowok itu adalah Kai. Mantan pacar Jasmin sewaktu SMA.
Kai terlihat mengenakan kemeja hitam dan jeans biru pudar, rambut lurusnya di sisir rapi bak pegawai kantoran yang sopan dan idaman. Nela si gadis kecil langsung menghampiri Kai dan menggandeng tangan Kai ke dalam genggamannya.
"Pah, omnya nyebelin!" adu Nela pada Papanya.
Jasmin dan Kai saling memandang, dan Haris seperti roda bajay yang tidak berpasangan.
"Nela, kalau nugget nya udah abis, ga apa-apa ambil yang lain aja, ya?" ujar Kai lembut pada putrinya.
Jasmin mencelos dan terkejut. Kai udah jadi Papa? Mantannya yang dulu semanis gula jawa itu sudah menjadi sosok papa dengan seorang anak perempuan yang cantik dan lucu?
Sebenarnya bukan hanya Jasmin yang kaget, melainkan Haris juga.
"Ris... apa kabar? Jasmin juga...," sapa Kai dengan lembut, mengulang senyum masa lalu ketika pertama kali bertemu dan berkenalan.
__ADS_1
Jasmin merasakan jantungnya berdebar amat kencang. Ini kedua kalinya ia bertemu dengan Kai. Sore itu, dan hari ini di sebuah supermarket.
"Sehat," jawab Haris singkat, seperti enggan menanggapi Kai yang jelas-jelas dulu adalah kawan sekelasnya.
***
Di dapur Jasmin merapikan belanjaan, Haris merapikan telur untuk masuk ke dalam kulkas. Mulut mereka sama-sama tidak mengeluarkan satu kalimatpun sejak tiba. Tidak ada obrolan, tidak ada ejekan.
Kai sudah punya anak. Adalah tema dalam pikiran mereka masing-masing. Namun, tidak ada satupun yang mau mencetuskan satu kata pertama untuk memulai gibah rumah tangga.
"Dia kerja di Bank. Lama ga kedenger kabarnya, dia udah punya anak," ucap Jasmin dengan senyum kecut, gadis itu duduk di kursi meja makan, Haris selesai memasukkan telur ke dalam kulkas pun ikut menanggapi ucapan sahabatnya.
"Terus gimana?" ucap Haris.
Jasmin tentu tidak harus gimana-gimana kan?
"Lu belum move on juga sama dia? Dia cowok terakhir sebelum lu suka sama Surya."
Jasmin menutup wajahnya, "Gue bingung. Gimana masa depan kita! Kita udah kejebak sama permainan sendiri."
"Kai mantan gue, udah punya anak. Kak Airin yang lu sukai sejak SMP, justru harus nikah sama gebetan gue dan mereka bakalan punya anak. Dan kita Ris?"
Segera Haris menggigit bibir bawahnya. "Min...."
"Apa lu nyerah?"
Jasmin yang semula tertunduk dengan terpaksa mengangkat wajahnya untuk menatap Haris.
"Iyaa... gue pikir, susah buat kita dapetin apa yang mustahil. Tapi, gue bingung gimana caranya untuk nyerah disituasi sekarang."
"Kak Surya keliatan bahagia banget sekarang sama kak Airin. Gue baru sadar, kalo selama ini kita udah kayak wujud setan buat mereka.“
Haris menatap Jasmin dengan serius, lebih serius dari biasanya.
"Lu inget apa omongan kita waktu lulus SMA?"
__ADS_1
"Gue rasa bener, ucapan adalah doa," tambah Haris, membuat Jasmin memejamkan kedua matanya dengan senyum konyol.