Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 83


__ADS_3

Surya dan Dimas kini berada di luar ruangan bersalin, sementara Airin sedang bersama Fany tengah melakukan pemeriksaan awal oleh dokter dan bidan untuk melaksanakan prosedur persalinan.


Surya beberapa kali terlihat bolak-balik di depan ruang bersalin, dahinya berkeringat dan ia juga menggigit-gigit kuku jarinya karena gugup. Dimas yang duduk di depan putranya itu hanya bisa berdoa agar Airin bisa melahirkan dengan selamat tanpa gangguan apa pun.


Fany keluar dari dalam ruang bersalin, terlihat wajah paniknya sudah mulai tenang saat ini. "Gimana Mah?" tanya Surya pada Fany, ada dokter juga yang keluar bersama Fany saat itu.


Fany menghela napasnya. "Masih belum waktunya melahirkan, pembukaannya baru sampai lima. Paling tidak harus tunggu 3 jam lagi," jelas dokter yang mewakili Fany.


Surya mendesah pelan. “Ya ampun... tapi, isteri saya baik-baik saja kan, Dokter?"


"Ya, Bu Airin baik-baik saja. Jadi tidak perlu panik, tenang saja ya, Pak," beritahu dokter dengan lembut dan tenang.


"Ah, syukurlah. Saya boleh masuk ke dalam, Dok?"


"Tentu, ada baiknya ajak Bu Airin untuk berjalan kecil agar ada dorongan bayi," saran dokter sebelum akhirnya pamit dan meninggalkan keluarga Airin di sana.


Surya memasuki ruang bersalin, dan menemukan Airin sedang terduduk di atas tempat tidur. Surya tersenyum lemah saat menyaksikan betapa pucatnya wajah Airin saat ini.


"Ya...," panggil Airin dengan cemberut, Surya cepat-cepat menghampiri istrinya sambil tersenyum lebar-lebar. "Sakit, ya?" tanya Surya perhatian, Surya juga mengambil selembar tisu dan menyeka keringat di dahi Airin, Airin mengangguk kecil.


"Hmmm... mules Mas, bayinya gak mau keluar ya?"


Surya memeluk Airin dengan lembut tidak begitu erat, tetapi membuat Airin sangat tenang. "Iya, katanya belum mau keluar sekarang. Kamunya harus jalan-jalan dulu biar ada dorongan... sini, aku bantu."

__ADS_1


Airin menuruti keinginan Surya dan mencoba untuk turun dari ranjang atas bantuan suaminya. Perlahan-lahan Airin berdiri dengan hati-hati, kemudian Surya menuntunnya untuk berjalan selangkah demi selangkah.


"Kamu pasti buru-buru ke sini, ya? Kebut-kebutan di jalan?!" tanya Airin dengan raut marah.


Surya nyengir, "Hehe... engga kok, kebetulan di gerbang tol lagi macet. Jadi bisa cepet," jawab Surya menyembunyikan kebohongannya.


"Ya, habisnya aku panik Rin... Mama sama Papa telepon katanya kamu kontraksi... aku juga puter balik di jalan tol... lagian kan Alhamdulillah aku selamat," tambah Surya dengan tegas, Airin meringis karena merasa perutnya kembali mules, tetapi dia tersenyum kecil dengan sikap Surya.


Surya yang pengertian dan dewasa, padahal usia Airin 1 tahun lebih tua dibandingkan suaminya, tetapi ternyata Surya sangat bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Padahal siapa yang sangka kalau bapaknya Surya ini adalah Dimas.


Sementara itu, Jasmin kini berbaring mengenakan baju pasien atas permintaan dokter Reza yang bertanggung jawab atas dokter kandungannya sejak beberapa bulan yang lalu. Haris yang tidak bisa diam sejak tadi menatap Jasmin dengan sorot mata ultraman, tidak kedip dan tidak santuy. Jasmin yang berbaring di ranjang beberapa kali menghindari tatapan suaminya itu.


Dokter Reza kemudian melakukan prosedur pemeriksaan dan tersenyum tipis. "Gimana, Dok?" tanya Jasmin sambil duduk di atas ranjang.


"Bayinya baik-baik aja kok... sehat,” jawab dokter Reza dengan santai.


Jasmin menyebikan bibirnya ke arah Haris yang kebetulan melirik ke arahnya, "TUHKAN APA GUE BILANG?! Nggak usah parno deh lu jadi bapak!" omel Jasmin di depan dokter Reza, tentunya semangat dong kalau udah omelin Haris.


Dokter Reza tertawa kecil, Haris melengos dengan tampang polos menghindari tatapan Jasmin.


"Tapi, pendarahannya banyak banget Bang, apa oke-oke aja?" tanya Haris pada dokter Reza.


"Itu pendarahan biasa. Di Beberapa kasus kehamilan, beberapa ibu hamil mengalami menstruasi di trisemester kehamilan pertama. Ini juga sama halnya dengan yang dialami Jasmin. Kalau disertai kram perut, baru berbahaya," jelas Dokter Reza dengan tenang.

__ADS_1


"Perut lu kram, nggak?!" tanya Haris jutek pada Jasmin.


Jasmin menggelengkan kepalanya. "Kagak! Makanya lu gak usah panik!" balas Jasmin tak kalah ketus pada suaminya.


"Haha... udah-udah jangan berantem. Tapi lainkali Ibu hamilnya jangan terlalu banyak bergerak. Tahan dulu sampai usia kandungannya menginjak 20 minggu ya, kalau masih 17 minggu itu kondisinya belum stabil. Janin dalam perut belum bisa menyesuaikan dengan aktivitas luar ibu," beritahu Dokter Reza lagi.


"Tuhkan... lu nya sih petakilan. Nih Bang, masa semalem dia mau naik kincir di pasar. Mana minta naik kora-kora juga... duh, gak kebayang kalau diturutin naik kora-kora. Anak gue ntar kalo pas lahiran maunya jadi bajak laut gimana?!" cerita Haris pada dokter Reza.


Jasmin memalingkan wajahnya, jengkel banget sama Haris yang udah pamer kedisplinan depan orang.


"Tapi kan si bayi yang mau, emang lu mau anaknya ntar lahir ileran gara-gara ngidamnya gak diturutin?!"


Haris diam dan kini giliran dia yang menyebikan bibirnya.


"Eh... kalian ini... sebaiknya sekarang Ibu hamil istirahat di ruang intensif, saya akan menuliskan resep, nanti vitaminnya diantarkan oleh suster ke ruangan ya. Sudah Ris, bayi sama isteri kamu baik-baik aja kok. Sana... balik," peringat Dokter Reza akhirnya bisa menuntaskan pertengkaran kecil dua sejoli calon orang tua tersebut.


"Bang, mau tanya," ujar Haris tiba-tiba. Jasmin yang masih duduk di atas tempat tidur ikut menguping suara bisik-bisik suaminya itu.


"Masih boleh 'itu', sampe berapa bulan kandungan?" tanya Haris pada dokter Reza, sambil tersenyum geli.


"Boleh kok, sampai 9 bulan. Atur saja posisi yang nyaman buat Ibu hamilnya. Inget, jangan di tindih-tindih, ya."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Maaf ya, aku lama upnya. Oiya, Jasmin nggak apa-apa kok.


__ADS_2