
Ayah mertua akhirnya memberikan handphone itu kembali kepadaKu, nyatanya mas Satria ingin ngobrol lagi dengan Ku.
'iya mas, Sarah harus ngapain?'
'ngak perlu, kalau mau pulang silahkan, kalau masih ingin melihat Lyra silahkan juga, terserah kamu aja ya.
Satu hal yang kamu harus ingat, keluarga ku adalah urusan Ku, jangan pernah memberikan apapun tanpa ijin dari Ku.
Keluarga mas bukan keluarga biasa, jika mereka meminta sesuatu, sampaikan aja kalau kamu harus minta izin terlebih dahulu kepada Ku.
paham ya.....'
Seperti biasa, mas Satria selalu mengakhiri sambungan telepon tanpa penjelasan darinya.
"sudah puas kamu melihat Lyra sengsara seperti ini? dasar wanita mandul."
Aku lagi yang salah, dan gelar wanita mandul itu bergema lagi.
"Sarah pulang ya."
"bagus kau pulang, kehadiran disini hanya sebagai pengacau."
"cukup ma, di rumah sakit ini. Sarah pemegang saham mayoritasnya, dan ayah tidak punya saham satu persen disini.
Jika Sarah menolak memberikan diskon untuk biaya pengobatan Lyra, kamu bisa apa?
Tolong jaga omongan mu ya, kali ini aja. demi Lyra putri kita."
Jawaban itu yang aku dengar dari ayah mertua, tidak tahu apakah itu pembelaan atau hinaan.
Sepertinya air mata ini sudah kering, sudah tidak mengalir lagi ketika gelar wanita mandul itu disematkan kepadaKu.
Berjalan keluar ruangan dan terus berjalan dengan langkah yang pasti, belum selesai melewati lorong lantai VIP ini, dan aku berpapasan dengan Rizal.
"kak..."
Dia memanggil Ku tapi sangat malas untuk menyahutnya, karena etikanya yang minim dan aku membenci tatapannya yang genit.
Pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan.
"kak..... kak Sarah, tolong bantu Rizal kak."
Ucapnya dan Rizal sudah berada di hadapan Ku sekarang.
Tumben anak tengik berkata sopan, pasti ada maunya.
"tolong bujuk mas Satria ya, tolong ya kak. Rizal ngak mau tinggal di rumah orang tua Desi."
Dari pantulan kaca yang ada dihadapan Ku saat ini, terlihat ibu mertua seperti merekam kejadian saat ini.
"lepas Rizal, saya ini kakak ipar mu. lepas......
security...... security......"
Rizal memegang tangan ku dengan kuat, dan untungnya security langsung bertindak dan mengamankan Rizal.
__ADS_1
"tolong bantu Rizal kak, dan Rizal janji akan membantu kakak supaya bisa hamil."
Terus berjalan dan berjalan dengan langkah yang cepat, saya tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini.
Malu, sakit hati dan emosi yang bercampur menjadi satu. harga diri yang terluka karena manusia biadab ini, manusia yang tidak pernah mendapatkan didikan yang layak.
"mbak namanya Sarah ya?"
Siapa lagi pria ini, tapi jika dilihat sekilas sangat mirip dengan ayah mertua.
"iya, maaf anda siapa?"
"kenalkan nama saya Ferdinand, panggil aja Ferdi, saya adik tirinya Satria."
"oh...
berarti kamu anak pertama dari ibu Friska?"
"tidak mbak, saya lahir dari seorang perempuan yang bernama Rere.
Mama ku sudah almarhumah, saya Ferdi datang kemari untuk sekedar menyapa ayah."
"ya sudah silahkan, ayah sekarang di ruang rawat nomor 73, lantai VIP."
"Ferdi sudah tahu kok, oh iya. aku dengar-dengar mbak menjadi pemegang saham mayoritas di rumah sakit ini, selamat ya."
"ada lagi yang mau disampaikan? karena saya mau pulang."
"buru-buru amat mbak, ngopi yuk."
Tanpa mengubris nya, langkah aku lanjutkan kembali dengan setengah berlari agar terhindar dari pria yang sok akrab ini.**
Akhirnya sampai juga di rumah, dan langsung di sambut oleh Adam, dan senyuman itu mampu membuat jiwa ku tenang.
Adam mengerjakan PR di dalam kamarnya, lalu aku menuju ke kamar.
Sesampainya di dalam kamar dan langsung ke kamar mandi, untuk membasuh tubuh dan pikiran yang penat.
Selesai mandi dan berpakaian lalu duduk di kursi rias.
"apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini? dan kenapa almarhumah ibu Lila terlihat kritis lalu meninggal?
Pemakaman ibu Lila pun sangat beda dari yang lain, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh ibu Lila, mendiang ibu kandungnya mas Satria.
Pria yang tadi dan mengaku sebagai adik tiri dari mas Satria, katanya anak dari istri ketiga ayah mertua.
Apakah masih ada anak yang lainnya?
Sangat-sangat banyak pertanyaan yang terjawab, pertanyaan tentang keluarga ini.
Dulu saya sering mendengarkan Lila group, sebuah grup perusahaan yang memiliki banyak anak perusahaan yang benefit dan bergengsi.
Bergerak di bidang usaha perhotelan, tempat wisata, pabrik farmasi, rumah sakit, klinik kecantikan, produk kecantikan dan pemilik beberapa gedung pencakar langit.
Ladang pundi-pundi keuangan yang melimpah ruah, akan tetapi menyimpan sejuta rahasia.
__ADS_1
Rahasia yang amat terisolasi, mereka semua seolah-olah sepakat untuk menutupi semua rahasia ini serapat mungkin agar terdengar sampai ke publik.
Ketika mencari informasi mengenai Lila group, yang tampil hanyalah informasi tentang anak usaha group.
Sebegitu CEO nya adalah mas Satria, dan pimpinan utamanya adalah almarhumah bu Lila, ibu kandung dari mas Satria.
Ayah mas Satria yang memiliki istri yang lain, dan anak-anaknya yang lain tidak pernah terekspose ke publik.
Semuanya rapi tanpa cacat cela, dan orang-orang hanya mengetahui kalau almarhumah bu Lila adalah wanita yang luar biasa.
Hanya almarhumah bu Lila dan mas Satria yang pernah muncul ke publik, dan itu sangatlah jarang.
Jika ada hal penting yang disampaikan ke publik, itu biasanya menggunakan juru bicara perusahaan.
tok.... tok..... tok.....
"non....
ada tamu yang ingin bertemu dengan non."
Itu suara milik mpok Surti, dan segera berjalan ke arah pintu dan kemudian membukanya.
"laki-laki atau perempuan mpok?"
"laki-laki non, namanya Ferdinand. tamu itu ngobrol dengan non."
"mpok Surti, pastikan dia tidak masuk sampai ke arah kamar ini.
Tolong panggilkan pak Imran untuk berjaga-jaga di depan ruang keluarga ini, pria itu mesum.
Maaf mpok, Sarah ngak mau bertemu dengannya.
Panggil pak Imran, biar Sarah menghubungi mas Satria."
"siap non."
Nekad juga itu pria, untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu hal, lebih baik meminta pak Imran untuk berjaga-jaga di ruang keluarga.
Ruangan yang menjadi akses ke kamar ini, lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam, dan langsung menghubungi mas Satria.
'halo mas....'
'tenang dulu, bicara pelan-pelan dan jangan panik.'
'iya mas...
tadi di rumah sakit, Sarah bertemu dengan Ferdinan, katanya adik tirinya mas.
Sarah ngak suka melihatnya, aneh dan terlihat kurang ajar.
Saat ini dia datang ke rumah ini mas, ntah dari mana dia tahu alamat rumah ini.'
'tenang ya, ntar mas perintahkan semua security di rumah untuk menyeret si bangsat itu keluar dari rumah, tunggu sebentar ya.'
Panggilan telepon berakhir, sejujurnya aku cemas dan merasa was-was terhadap pria itu, itulah sebabnya aku menghubungi mas Satria.
__ADS_1