PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Penyesalan Seorang Ayah.


__ADS_3

POV Satria.*


Satria tidak memercayai istrinya dan juga Findon serta orang-orang disekitarnya, terlihat dirinya menghubungi seseorang.


"tanpa kalian saya bisa melakukannya, anak yang di kandung oleh Neni adalah anak kandung Ku dan dialah yang mewarisi seluruh harta ku ini.


Jika anak yang di kandung oleh Sarah berhasil, nantinya akan ku bagi dua."


Ujarnya dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi, tidak berapa lama kemudian Satria keluar dari kamar mandi dan....


"mana pakaian ku Sarah?...."


Tidak ada yang menyahutinya, dan beberapa saat kemudian dia baru sadar kalau istrinya sudah pergi meninggalkan nya.


Krukk.....kruk......


Terdengar suara dari perutnya, mungkin karena lapar.


Perlahan Satria keluar dari kamarnya, dan menuju ke arah dapur.


"jorok benar.....


kenapa ngak di beresin? mpok....... mpok......


Mpok...... mbak Tika.......


pak Muklis...... mpok......."


Satria terdiam seketika, lagi-lagi dia baru sadar bahwa semua orang di rumah itu sudah pergi.


Mereka takut membersihkan piring kotor bekas makan dari Lyra dan ibunya, serta Neni.


Penghuni rumah takut tertular virus HIV-AIDS karena dari ketiga perempuan itu.


Mungkin saja dari bekas piring kotor bisa menulari mereka.


"okey....


besok aja ku panggil jasa kebersihan rumah, lebih baik makan di luar aja lah."


Ucap Satria dan kemudian melangkahkan kakinya ke kamarnya, setalah mengambil dompetnya dan juga kunci mobil dan juga handphone.


Kemudian Satria keluar dari kamarnya, lalu perlahan-lahan dia keluar dari kamar itu.


"Satria....


ayah mau bicara, duduk dulu."


"kita ngobrol di cafe aja, karena Satria lapar."


"disini aja, ayah dah membawa makanan kesukaan mu."


Ujar ayah nya dan membuka plastik yang dibawa nya, lalu diberikannya kepada Satria.


Selama Satria makan, ayahnya itu diam tapi matanya terlihat berkaca-kaca dan pada akhirnya meneteskan air matanya.


"saya adalah pria dan ayah yang bodoh di dunia ini, almarhumah ibu mu adalah wanita, istri dan ibu yang luar biasa."

__ADS_1


"maksud ayah apa?"


Pertanyaan dari Satria, membuat ayahnya menatap nya seraya menghapus air matanya yang mengalir.


"Friska telah mengacaukan dan menghancurkan pernikahan adik mu, dan sekarang pernikahan mu diambang kehancuran jika tidak segera kau perbaiki.


Kejar istrimu dan bujuk dia kemari, Sarah ada istri yang tepat untuk mu.


Mama mu tidak salah memilih Sarah untuk jadi istri mu.


Sarah perempuan hebat dan tangguh yang sudah dipilih mama mu untukmu.


Ayah bersedia bersujud di kaki Sarah, agar kembali menjadi istri mu."


"ngak ayah, Sarah itu egois."


"dari seratus perempuan yang berkumpul, hanya satu diantara mereka yang rela di madu Satria.


Kamu hendak menyuruh Sarah untuk akur dan serumah dengan Neni, perempuan pelacur yang hendak menjadi madu.


Mimpi kamu Satria."


"Neni bukan pela*ur ayah."


"d....i...a...m........"


Satria di bentak oleh ayahnya, dan air matanya yang sudah mengalir itu menatap Satria dengan tajam.


"bukan hanya orang lain yang sudah menikmati tubuh Neni, tapi ayah mu ini juga sudah tidur berkali-kali dengan perempuan itu.


Itu sebabnya mama kamu melarang mu untuk menikahinya Satria."


"Neni sedang mengandung anakku?"


haaaaa......


Sanggahan dari Satria hanya ditanggapi sinis oleh ayahnya.


"kamu yakin itu anak mu? kalau kamu yakin itu anak mu, berarti ayah juga harus yakin kalau anak itu adalah anak kandung ayah.


Kan kita sama-sama memakai perempuan itu, mungkin aja itu anak kita bersama.


Mungkin spe*ma kita berdua berkumpul di rahim nya, dan pada waktu tertentu kemudian membuahi sel telur pela*ur itu."


Satria menanggapi ucapan ayah nya dengan sinis, karena dianggap itu hanya candaan.


"saya tau kalau ayah sekarang berpura-pura di pihak Sarah, agar mendapatkan keringanan hukuman."


"kamu salah Satria, bentar lagi Polisi akan menjemput ayah dari sini.


Di paha kirinya Neni terdapat dua tanda lahir, buah dada kirinya sedikit lebih besar dari yang kanan.


Neni lebih suka main diatas paha, dan dia selalu memberikan servis yang maksimal.


Neni suka juga suka mengisap anu ayah, dan ketika puncak buah dada digigit dia akan menjerit seperti orang yang sudah puas.


Diantara kedua belahan dadanya, ada seperti noda hitam sekitar dua sentimeter gitu.

__ADS_1


Paha kanannya seperti ada memar dan bulu di area ************ itu tebal dan terasa empuk."


"cukup...... cukup..."


Mereka berdua saling bertatapan, dari sorot matanya Satria yang menggambarkan bahwa semua ucapan ayah tentang deskripsi tubuh Neni benar adanya.


"kamu akan menyuruh Friska tinggal disini, perempuan yang telah membunuh mama kandung mu sendiri.


Lalu Neni yang akan menguras harta kekayaan mu kelak nantinya, siap-siap untuk jatuh miskin seperti ayah.


Sebenarnya kamu ngak apa-apa disini, semuanya milik mama Mu.


Sebentar lagi kamu akan membiarkan pembunuh mama mu tinggal disini.


Dasar anak durhaka."


Seketika suasana hening, tapi sepertinya Satria masih tetap pada pendiriannya.


"ayah sudah membuat pengakuan di kantor polisi, mengakui semua kesalahanku terhadap mama Mu.


Lalu meminta waktu sebelum penahanan, untuk mengingatkan mu.


Waktu ayah terbatas Satria, jika kita berdua datang ke Sarah dan memohon agar Sarah tetap menjadi istri mu.


Ayah bersedia bersujud di kakinya, dan hanya ini yang bisa ayah lakukan untuk mu.


Ayo nak, ayo kita jemput istrimu. ayah akan menemani mu.


ayo kita jemput istrimu."


"ayah kenapa sih? kok tiba-tiba baik seperti ini?"


"karena Sarah adalah istri yang baik untukmu, mama mu tidak salah memilih nya.


Jangan ulangi kebodohan ayah, kamu berpendidikan tinggi dan seharusnya jauh lebih bijak dari ayah mu yang bodoh ini.


Ayah sudah mendapatkan karma dari semua ini, karma akan perbuatan ayah yang salah.


Lyra dan Ferdinand bukan anak kandung ayah dan Rizal bisa lahir ke dunia ini karena proses bayi tabung seperti kamu.


Hanya saja Rizal bukan dari mama mu tapi dari Friska.


Ayah mengkhianati mama mu, mengkhianati cinta suci nan tulus dan lebih memilih para pela*ur.


Ayah salah dan sangat-sangat salah, dan segera menebus semua kesalahan ayah dan hanya ini yang bisa ayah lakukan.


Ayo kita jemput istri mu, dan jadikan Sarah menjadi ratu di hati mu dan nyonya di rumah ini, rumah yang dibeli oleh mama mu.


Ayo nak kita jemput istrimu."


"ayah....


pergilah ke neraka dan semoga ayah abadi disana, dan saya akan tetap pada pendirian ku sendiri."


"baiklah Satria, ayah pergi ke neraka, dan semoga kamu sadar dari segala kebodohan mu dan semoga kamu berbahagia dengan pilihan mu."


Ayahnya melangkah kakinya dari rumah itu, dan kemudian pergi dari hadapan Satria yang masih tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


__ADS_2