PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Penghargaan.


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi hari dan beraktivitas, setelah semuanya selesai dan kembali ke kamar untuk membangunkan mas Satria.


"jadi hari ini kita ke klinik Indah? jam berapa mas?"


"bukan sekarang Sarah, tapi besok. kan mas berkata lusa, itu artinya besok."


"maaf ya mas, karena sudah bawel. mas bangun ya, mandi dan kita sarapan."


Mas Satria hanya mengangguk, lalu beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah mandi.


Segala keperluan segera aku siapkan, kemudian duduk di meja rias untuk merias wajah ini, berhubungan baru selesai mandi.


Seperti biasa mas Satria keluar dari kamar dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya, dan menatapku dengan tatapan yang rada aneh.


"kenapa mas?"


"sudah dandan aja, emangnya mau kemana?"


"memang Sarah setiap hari ini mas, sengaja berdandan untuk mas.


Suami berangkat kerja dan istri harus cantik, begitu juga saat suami pulang.


oh iya nanti Sarah mau PT Insani, karena Sarah menang lomba mendesain kemasan produk kecantikan.


Nanti Sarah ke sana ya mas, dan pak Imran tahu kok tempat Nya."


"terserah kamu aja."


Jawab mas Satria seadanya, dan aku sudah terbiasa dengan jawaban atau tanggapan yang ala kadarnya dari mas Satria.


Entah kenapa aku sangat bergairah melihat bentuk tubuh mas Satria, lalu mendekati nya lalu mengelus perut yang tidak terlalu sixpack itu.


"Sarah sangat menyukai kulit mu ini mas, bulu nya yang tipis dan kulit yang halus."


Mas Satria langsung menangkap tanganku yang hendak meraba gundukan dari balik handuk itu.


"ntar malam, mas mau berangkat kerja."


Mas Satria berbalik badan dan meraih pakaian yang sudah aku siapkan dan kemudian mengenakan pakaian itu.


Ekspresi cetus dari mas Satria langsung membuat hasrat turun.


"sarapan yuk."


Mas Satria mengganguk dan aku langsung meraih tangan besar itu dan melangkah ke arah luar kamar.


Adam tersenyum ketika melihat kami bergandengan, dan kami pun sarapan secara bersama-sama.


Selesai sarapan, Adam dijemput oleh bus sekolah nya sementara mas Satria berangkat ke kantor yang di setir oleh Findon yang sekaligus asisten pribadinya.

__ADS_1


"maaf non, setengah sembilan. kita berangkat ke PT Insani, takutnya macet di jalanan."


Ucap pak Imran yang mengingatkan Ku untuk pergi ke PT Insani.


Berlalu ke kamar untuk mengambil tas, dan kemudian berangkat bersama pak Imran.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan sudah berada di jalanan.


"jika ada sikap istri bapak yang berkenaan di hati non, bapak mintak maaf ya."


"santai aja kali pak, ngak salah kok. rasanya plong setelah bertemu dan curhat dengan ibu pak.


Sarah yang mintak maaf jika ada salah di perkataan Sarah pak.


terimakasih ya pak sudah memperkenalkan Sarah dengan ibu."


Pak Imran menjawabnya dengan senyuman dan itu terlihat dari kaca spion itu.


Jalanan agak macet sesuai dengan prediksi pak Imran.


Akhirnya sampai juga di kantor PT Insani, dan langsung ke menuju ruang informasi.


Seperti biasa pak Imran selalu mengikuti ku dari belakang dan hal itu membuat pegawai informasi itu sedikit bingung seraya menatap pak Imran.


"ini bapak ku mbak, takut anak gadisnya di culik orang."


Pegawai itu tersenyum begitu juga dengan pak Imran yang berada di sampingku.


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami tertawa lepas karena guyonan dari pegawai itu.


Aula kantor ini tidak terlalu besar, tapi sudah banyak orang di dalamnya dan benar kata mbaknya kalau banyak cowok ganteng.


Lalu aku dan pak Imran duduk dan pak Imran berada dibelakang Ku.


Secara acak melihat orang-orang yang ada dalam aula ini, dan mataku tertuju kepada sekelompok orang yang datang.


Mengucak mataku dan aku lakukan untuk kedua kalinya.


"pak e....


itu yang didepan mas Satria kan?"


"iya non."


Jawab pak Imran dengan santainya dan kembali fokus melihat orang-orang yang dihadapan kami.


Akhirnya tibalah acara yang aku tunggu-tunggu, satu persatu juara harapan dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan.

__ADS_1


Tibalah saatnya pemberian penghargaan kepada dua orang desain produk yang terpilih.


Namaku di panggil dan diminta maju ke depan untuk menerima penghargaan.


"baik ibu Sarah, sebelum menerima penghargaan terlebih dahulu kami ingin mendengarkan slogan atau kata mutiara yang tertulis di desain kemasan ibu Sarah.


Silahkan ibu?"


Ini pertama kali bagiKu untuk bicara dihadapan banyak orang, ditambah lagi mas Satria yang duduk samping ku, di meja yang terlihat mewah itu.


"Cantik itu milik setiap perempuan, buat dirimu menjadi cantik dan hargai dirimu.


Setiap perempuan yang lahir adalah cantik, jangan pedulikan apa penilaian orang terhadap mu.


Kami cantik dan sempurna sebagai perempuan."


Prok.....prok.... prok.....


Tepuk tangan yang meriah yang menyambut akhir dari ucapan ku dan betapa berdebar hati ini ketika mas Satria tersenyum saat memberikan penghargaan itu.


"setiap perempuan itu cantik, jika seandainya ibu Sarah diberi kesempatan untuk mempromosikan produk ini.


Apa yang akan ibu lakukan agar produk kecantikan ini bisa dikenal dan diterima oleh perempuan cantik?"


Ucap pembawa acara, seorang perempuan cantik nan muda.


"dulu saya hanya menggunakan produk kecantikan Insani berupa pencuci wajahnya saja.


Dikarenakan keterbatasan ekonomi, dan walaupun hanya menggunakan pembersih wajah nya, kini wajah ku mulus tanpa jerawat dan flek hitam.


Saya adalah seorang pedagang pulsa dan paket data eceran yang sudah terbiasa menjual produk secara online.


Tidak ada salahnya mencoba memperkenalkan produk kecantikan dari Insani lewat media sosial.


Zaman sudah semakin canggih, dan dunia media sosial sangat berpengaruh besar terhadap masyarakat luas.


Bermodalkan media sosial saya menjual paket data internet, serta produk kecantikan berupa pencuci wajah dari produk Insani.


lagi-lagi karena keterbatasan ekonomi, sehingga saya tidak bisa membuat paket lengkap produk nya yang menghambat pertumbuhan penjualan.


Akhirnya start di jalan, jika ada kesempatan untuk menjalankan produk kecantikan Insani dengan paket lengkap, mungkin akan membuka peluang usaha bagiku dan bisa memperkenalkan produk Insani yang luar biasa untuk perempuan cantik."


Lega rasanya setelah merasa berhasil merangkai kalimat yang tepat untuk disampaikan di hadapan mereka yang sangat profesional.


Tepuk tangan yang meriah lagi, dan perasaan yang tidak bisa aku ekspresikan saat ini.


Lalu aku meraih handphone milik ku, dimana aku media sosial dengan pengikut yang hampir seribu akun.


Dulu aku sempat menjajakan produk kecantikan Insani, dan itu lebih dari cukup. akan tetapi karena terkendala ekonomi yang membuat start di jalan.

__ADS_1


Waouuuuu.....


itulah yang diucapkan perempuan cantik itu, setelah melihat riyawat penjualan melalui media sosial itu.


__ADS_2