PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Memilih Meninggalkan mas Satria.


__ADS_3

Lalu mas Satria menoleh ke arah mpok Surti, walaupun Ia terlihat menahan malu.


"berapa mpok di bayar Sarah untuk mengatakan kebohongan ini?"


Lantas mpok Surti mengangkat pandangan Nya dan menatap wajah mas Satria.


"Mpok dan mendiang mama mu itu bersahabat sejak kecil, mpok disini bukan hanya sebagai asisten rumah tangga tapi sekaligus sahabat mama mu.


Hanya karena suamiku meninggal dan saya tidak punya keahlian selain memasak dan akhirnya mendiang mama mu mempekerjakan mpok disini.


Mendiang Lila itu sering curhat kepadaKu, dan kami berdua tidak segan-segan mengutarakan apa yang meresahkan dalam pikiran kami.


Mpok duluan menikah dan sudah punya anak, barulah mama menikah dengan pria si modal telor itu.


Apa yang dikeluhkan oleh neng Sarah mengenai kejantanan mu, persis seperti yang dikeluhkan oleh mendiang mama mu terhadap ayah mu.


Tapi karena cintanya sehingga enggan untuk selingkuh seperti si Neni perempuan birahi itu.


Mpok juga mengetahui kenapa si Lila tidak merestui mu nikah sama perempuan ****** itu.


Bukan hanya Lila yang memergoki perempuan itu bersama laki-laki lain, tapi mpok juga melihatnya dengan mata mpok sendiri.


Neni itu tidak lebih dari seorang pela*ur, ibu mana yang mau menikahkan putranya dengan pela*ur.


Bukan hanya mpok saksi nya, ini pak Imran juga melihatnya dan juga mengetahui kalau kau Satria adalah hasil bayi tabung.


Anak sama bapak sama aja, terserah kau percaya atau ngak."


Raut wajah mas Satria menggambarkan amarah yang memuncak karena ucapan dari mpok Surti.


"mau kalian apa sekarang?"


Lagi-lagi mpok Surti seperti menantang mas Satria.


"jika perempuan-perempuan binal itu tinggal di rumah ini, mpok pergi dari sini karena ngak sudi tinggal sama manusia-manusia pembawa penyakit haram.


najis hukum nya....."


"saya juga...."


"ya saya juga...."


"ya saya juga....."


Mpok Surti, mbak Tika, pak Imran dan juga pak Muklis yang tiba-tiba datang ke ruangan ini mendukung mpok Surti.


"saya juga."


Lalu datanglah Findon yang sedari tadi entah kemana.

__ADS_1


"Findon akan berhenti kerja jika mas Satria menikahi perempuan binal itu, saya enggan tertular virus jahanam itu.


Masa depan ku masih panjang dan tidak mau di rusak karena keegoisan mu mas.


Jika mas menikah lagi dengan perempuan itu, otomatis mas pasti berhubungan suami-istri dengan nya, lalu akan menularkan virus itu.


Ditambah lagi si Lyra perempuan liar itu, yang akan segera tinggal disini dan kemungkinan si Rizal juga akan tinggal disini.


Fix kalau rumah ini akan menjadi sarang virus jahanam pembawa penyakit haram.


najis......


Pria lemah syahwat..."


"cukuuuuup......


aku kira kau di pihak ku Findon, ternyata kau penghianat....."


"diaaaaam......"


Findon membalas teriakan mas Satria dan susana begitu kaku di kamar ini.


"bukan bude yang mandul seperti kata keluarga mu itu, tapi ayah mu yang mandul Satria.


Bukan mbak Sarah yang mandul seperti kata keluarga mu itu, tapi kamu sendiri yang mandul Satria.


Mas ingat ngak ketika di Jepang itu, dimana perempuan malam itu menampar mu karena anu mu langsung muncrat sebelum masuk ke lubang Nya.


Dua kali dibedah setelah mendapatkan bantuan medis, dan embrio berhasil ditanamkan ke rahim mbak Sarah.


Perjuangan yang sangat panjang sampai kesana, menguras tenaga, uang, waktu dan emosi.


Lalu begitu mudahnya kau percaya kalau kau bisa menghamili perempuan binal itu?


sadar Satria, kau hanya ATM berjalan baginya. jika memang perempuan itu perempuan baik-baik.


Seharusnya dia jujur kalau kau itu mandul dan berusaha mencari jalan keluar agar bisa mempunyai keturunan seperti yang dilakukan oleh mbak Sarah dan bude.


Tapi lihat sendiri lah kenyataannya, dia selingkuh dengan laki-laki lain karena kau......


Lemah syahwat yang bisa memuaskan nya, lalu kenapa dia mempertahankan kamu?


Karena perempuan binal itu membutuhkan uang mu, dan melayani nafsu mu yang hanya muncrat di luar hanyalah masalah kecil baginya.


Mbak Sarah dan juga bude masih berusaha untuk membuat mu perkasa dan mencari jalan terbaik agar bisa memiliki keturunan.


Sekarang mas memilih perempuan binal itu atau mbak Sarah?


Jika mas memilih perempuan binal itu, maka saya akan pergi dari mu."

__ADS_1


"saya juga...."


Mereka kompak mendukung Findon dan terlihat mas Satria menunduk, dan kemudian menatapKu lalu menatap yang lain secara bergantian.


"saya memilih Neni, karena sudah jelas-jelas dia mengandung anak ku."


Findon lantas tersenyum sinis, dan menatap wajah mas Satria dengan tatapannya seperti orang yang ingin menghina.


"bego kok dipelihara, mandul kok yakin menghamili menghamili orang."


Ujar Findon yang menghina mas Satria, lalu mendekati Ku yang disusul oleh yang lainnya.


"mbak Sarah....


ngak ada lagi yang bisa mbak pertahankan, jika mbak ..."


"iya Findon, mbak ngerti kok. pak Imran......


tolong bantu Adam beres-beres ya."


Mereka langsung bergerak dan perlahan-lahan aku mengambil koper dan juga tas ransel serta tas tenteng dari lemari besar itu lalu mulai menyusun pakaian dan barang-barang yang lain.


"mas mencintaimu dan mencintai Neni, mas tidak mau bercerai dari mu dan tidak akan pernah menceraikan mu."


"percuma jika masih keegoisan mu bertahan mas, karena Sarah akan tetap menggugat cerai.


Saya ngak sudi menerima virus jahanam itu dari perempuan itu yang di tularkan kepada mu kelak nanti."


Mas Satria terdiam dan tidak terdengar lagi ocehan nya.


"jika pun kita bercerai nantinya, hak mama akan tetap milikmu."


Tanpa menggubrisnya dan aku tetap menyusun semua barang-barang ku, dan selesai juga.


"ayo kak kita pulang."


Suara dari Adam yang terdengar bergetar dan berdiri di depan pintu kamar ini, yang menenteng koper dan juga tas ransel nya.


Aku keluar dari kamar tanpa menoleh mas Satria, dan pak Imran membantu kami membawa barang-barang kami masuk ke mobil.


Mpok Surti, mbak Tika dan pak Muklis sudah berada di depan rumah dengan menenteng koper dan juga tas besar.


Tiga taksi sudah berada di depan rumah ini, dan kami pun mengucapkan salam perpisahan satu sama lainnya.


"tali silaturahmi kita janganlah putus karena perempuan itu, kita tetap keluarga."


Ucap mpok Surti dan lagi-lagi kami berpelukan.


Mereka bertiga sudah naik ke taksi nya masing-masing dan kami berdua juga sudah naik taksi yang di susul oleh mobil milik Findon yang sudah jalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Duduk disampingnya pak Imran dan Adam memegang pundak ku dari belakang, mobil terus berjalan dan tanpa suara.


__ADS_2