
POV Friska.*
Tinggal di rumah susun yang sederhana yang disewakan oleh seorang laki-laki, untuk Friska dan kedua anaknya tapi sang ibu masih terus bertanya-tanya siapa laki-laki yang memberikan rumah susun itu untuk mereka bertiga.
"dari mana aja kau Lyra?"
"cari duit ma, biar kita bisa makan."
"cari duit kemana? dan kenapa baru subuh seperti ini pulang?"
"melayani nafsu laki-laki yang menyewakan rusun ini untuk kita ma."
Wajah Friska terlihat geram, akan jawaban dari putrinya.
"apa dia tau kalau kamu itu mengidap virus itu?"
"tau, karena Lyra mendapatkan virus itu dari dia dan pria itu yang menghamili Lyra."
"apaan sih pagi-pagi dah ribur seperti ini?"
Ujar Rizal yang baru keluar dari kamar, dia mengusap-usap kedua matanya.
Kemudian Lyra melemparkan uang beberapa lembar nominal lima puluh ribu rupiah ke hadapan mama nya.
"totalnya dua juta, untuk biaya makan kita disini, Lyra mau tidur ya ma."
Rasa geram itu seketika terlihat bahagia ketika melihat uang yang bertaburan di lantai dan segera mengutip uang tersebut tanpa memperdulikan Lyra.
Uang sudah terkumpul ditangannya dan kemudian menatap Rizal yang masih mengacak-acak rambutnya.
"jadi laki-laki berguna dikit kau, cari duit yang banyak."
"mau cari duit gimana ma? hanya orang tua Desi yang mau menerima Rizal kerja tanpa memandang tamatan dan keahlian yang Rizal miliki.
Mama tau sendiri kan kalau Rizal hanya lulusan SMP, dan keahlian ku hanya bersenang-senang."
"dasar anak ngak berguna, percuma aja kau punya wajah yang tampan. pergunakan lah itu, dasar bego."
"hadehhh......
kita ini pengidap virus HIV AIDS mama..... memang ada wanita yang mau menjadikan Rizal sebagai pemuasannya?"
"bego.....
kalau ngak ada wanita, laki-laki pun jadi dan yang terpenting itu uang Rizal..... uang ......."
"Satria mau-mau aja ma, tapi emangnya ada laki-laki yang suka sama laki-laki? terus Rizal harus ngapain ma?
Kan sama-sama punya rudal, terus kami mau ngapain?"
"sama aja bego, kamu pakai rudal itu untuk lubang yang satunya.
Pokoknya Rizal tenang aja, mama kenal dengan banyak laki-laki seperti mereka asal kamu jangan cerita kalau kamu itu mengidap virus itu."
"atur mama disitu."
Rizal hendak berbalik ke kamar itu lagi dan langsung di tarik oleh mamanya.
__ADS_1
"mau molor lagi?"
"iya iyalah ma, kan belum ada yang harus Rizal layani."
"ngak usah banyak bacot, kamu mandi dan berpakaian rapi.
Mama sudah menyediakan perlengkapannya, dan Rizal hanya perlu nurut sama mama."
Rizal hanya bisa mengganguk dan kemudian beranjak ke kamar mandi.
Pakaian baru yang bagus dan juga parfum sudah terletak diatas meja, dan Rizal mengenakan semua itu.
Selesai berpakaian Rizal kemudian menemui mama nya yang duduk di ruang tamu minimalis itu.
"terus Rizal mau ngapain ma?"
"sini sarapan dulu, habis sarapan mama akan mengajak mu ke suatu tempat yang dipenuhi oleh banyak uang.
Ingat.....
Rizal harus nurut sama mama, dan jangan membantah, ini demi kelangsungan hidup kita ya."
Rizal lagi-lagi hanya bisa menuruti perintah mama nya dan selesai sarapan, sang mama memerintahkan Rizal untuk menggosok gigi lagi.
Taksi online sudah di pesan dan mereka berdua segera turun.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam dan kemudian Friska menatap wajah putranya itu.
"nanti jangan panggil mama ya, panggil aja tante."
"nurut aja, nanti mama jelaskan."
Suara hujan yang turun yang mengenai kaca jendela mobil dan itu meredam suara yang semakin sunyi.
Tidak berapa lama kemudian, taksi itu berhenti di dropship sebuah hotel yang lumayan mewah.
Turun dari mobil dan Friska membenahi penampilan anaknya.
Setelah anaknya cukup rapi menurutnya dan langsung menuju meja resepsionis.
"kami bertemu dengan pak Basil, di kamar 310 dan sampaikan tante Friska mau menghadap."
"iya ibu, sudah di tunggu kok. ibu dan mas nya akan di pandu oleh staf hotel kami menuju kamar pak Basil."
Ucap resepsionis itu dan staf laki-laki nan muda langsung menuntun mereka berdua untuk naik lift.
Tiba juga di kamar yang di tuju, dan staf hotel itu menekan bel.
Terdengar sahutan dari seorang pria dan tidak berapa lama kemudian keluar laki-laki yang berbadan kekar, mungkin seusia ayahnya Rizal.
Kemudian mempersilahkan Friska dan putranya untuk masuk ke kamar hotel tersebut dan duduk di sofa mewah.
"ini yang tante janjikan, namanya Rizal dan masih fresh."
"okey.....
sesuai tipe ku, dah pernah di bobol?"
__ADS_1
"belum dong mas Basil, ini masih fresh. tante jamin pokoknya.
emangnya tante pernah bohong sama mas Basil?"
Pria yang berbadan kekar itu dan sedikit agak seram, langsung berdiri dan meraih sesuatu di lacinya.
Kemudian mengambil plastik berwarna hitam dan diserahkan nya kepada Friska.
"sesuai perjanjian kita ya, dan nanti sisa nya akan aku berikan kepada brondong manis ini."
Friska langsung keluar dari kamar hotel tersebut dan kemudian pria yang bernama Basil itu langsung menuju sofa dan menatap wajah Rizal.
"kamu manis juga, saya sudah membayar mu mahal dan sekarang buka pakaian mu."
Rizal berdiri dan melepaskan pakaiannya hingga tidak satu pun tersisa di tubuhnya.
"waouuuuu.....
gede juga, yuk kita senang-senang untuk menikmati pagi yang mendung ini."
Pria berbadan kekar itu menyusul melepaskan seluruh pakaiannya dan kemudian menuntun Rizal ke ranjang.
"punya mas jauh lebih gede, terus kita ngapain?"
Pria itu tersenyum seraya memainkan anu nya yang sudah tegak sempurna.
"nungging sayang."
Antara ketakutan dan harus nurut, Rizal melakukan perintah pria itu.
"kok dingin mas, itu apa yang di taruh di lubang itu mas?"
"kamu tenang aja sayang, pokoknya nikmat aja."
"ahhhhhh......"
Rizal menjerit sejadi-jadinya ketika lubang itu di gagahi oleh pria berbadan kekar itu.
Pria melakukan apa saja yang di inginkan, dan berulangkali menampar pipi Rizal dan pada akhirnya pria itu terpuaskan.
"waouuuuu......
Friska memang selalu membawa barang-barang yang segar, kamu itu sangat seksi sayang."
Ucap pria itu lagi dan kemudian melakukan hal sama terhadap Satria.
Terlihat bercak dari keluar dari lubang milik Rizal dan derai air mata mengalir begitu derasnya.
"itu bagian mu sayang, totalnya dua puluh juta lagi dan mas punya hadiah untuk mu."
Ujar pria itu setelah memberikan uang kepada Rizal di dalam tas kecil dan menunjukkan sebuah kartu kredit kepada Rizal.
"kartu kredit?"
Tanya Rizal yang terlihat masih meringis kesakitan dan berusaha menatap pria itu dengan sisa kekuatannya yang terakhir.
Pria berbadan kekar itu merangkul bahu nya Rizal dan kemudian mencium bibirnya.
__ADS_1