
Mas Satria tidak langsung menanggapinya, dan tanpa terasa air mata ini sudah mengalir, ternyata itu yang membuat mas Satria menolehku tanpa menolong ibu tirinya yang terjatuh.
Findon yang akhirnya menolong betina iblis itu untuk berdiri, sementara mas Satria menghampiriku yang masih memegang ember.
Mbak Tika langsung membawa handuk untuk menutupi tubuh ibu mertua yang basah kuyup.
"apaan ni babu, ini handuk dari mana?"
"handuk ibu, dari jemuran. tadi Tika menyetrika handuk ini dan langsung kemari ibu."
Betina iblis itu diam setelah mbak Tika menjelaskan tentang handuk yang dikenakannya.
Mas Satria mengarahkan untuk duduk di ruang tamu, tapi ibu tirinya berkata untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
Sembari menunggu betina iblis itu berganti pakaian, mpok Surti membuat kopi untuk mas Satria dan Findon.
Tidak berapa lama yang ditunggu sudah tiba di ruang tamu ini dengan wajahnya yang cemburut.
"istrimu ini benar-benar keterlaluan Satria, berani-beraninya dia menyiram ibu dengan air. ibu hanya meminta Sarah untuk makan bersama dengan ibu, tapi dia malah membentak ibu dan kemudian mengirimkan air.
Keterlaluan kan?"
"bohong mas, tadi sang nyonya ini memintak uang ke kakak. tapi dengan nada yang marah-marah, kakak dikatain perempuan mandul sama nyonya ini.
Pintu kamar digedor-gedor kuat, dan mengatai kakak perempuan mandul lagi.
Adam merekam perbuatan nyonya ini, kakak ku ngak salah mas."
Ucap Adam yang tiba-tiba menghampiri kami yang duduk di sofa ruang tamu ini, dan kemudian menyerahkan handphonenya kepada mas Satria.
Rekaman itu terdengar jelas ketiak video rekaman itu di putar, dan berbanding terbalik dengan pengakuan wanita iblis itu.
Adam sudah duduk didekat ku, ternyata Adam terbangun karena mendengar suara ibu mertua ini menjerit-jerit.
Kemudian mas Satria menyerahkan handphone Adam, lalu menatap ibu tirinya dengan tatapan yang tajam.
"ibu maunya apa? sudah bosan tinggal di rumah ini?"
"bukan begitu Satria, mereka berdua ini sekongkol untuk menyerang ibu.
Ibu dianiaya disini, kenapa kamu percaya dengan ucapan mereka berdua?"
Kami terdiam sejenak itu karena kebohongan dan drama yang selalu di ucapan iblis betina ini.
"sudah jelas-jelas ada bukti, tapi ibu masih berdalih mas. bagaimana jika tidak ada bukti?"
"diam kau perempuan mandul."
slurrr......
"ah........
__ADS_1
kurang aja, dasar anak iblis. kurang ajar, dasar dedemit."
Sang ibu mertua teriak dan sumpah serapah yang keluar dari mulut sadisnya, itu karena disiram oleh Adam dengan kopi segelas yang dibuat untuk Findon.
"Sarah ngak sanggup lagi jika harus serumah dengan ibu mas, Sarah masih rumah yang nyaman untuk ditinggali.
Rumah peninggalan kedua orang tua kami dan itu jauh lebih nyaman dari istana ini.
Kata dokter Supriadi, kita membutuhkan ketenangan agar demi program kita.
Mungkin masalah biaya program itu tidak masalah bagi mas, tapi untuk Sarah ketenangan jiwa sangat di perlukan.
Program yang kita laksanakan bukanlah perkara mudah, tapi butuh kerja sama dan ketenangan mas.
Ibu masih berdalih dan menyalahkan Sarah, walaupun sudah jelas-jelas ibu yang bersalah.
Salah ngak bermasalah hidup serumah dengan siapapun, asal jangan ibu mas.
Kali ini, Sarah harus mengambil tindakan. demi kesehatan jiwa Sarah, program kita dan juga Adam."
Aku langsung berdiri dan meraih tangan Adam, untuk segera ke kamarnya. niatnya untuk mengemas pakaiannya.
"Sarah duduk, mas mau bicara."
Pinta mas Satria, yang memintaku untuk kembali duduk.
Sebagai seorang istri yang tentunya harus nurut kepada suaminya, dan Adam menarik tangan Ku untuk meminta ku duduk kembali disamping mas Satria.
Kemudian mas Satria meraih handphonenya dan terlihat menghubungi seseorang, setelah terhubung dan menyuruhnya untuk datang segera ke rumah ini.
"rumah ini milik almarhumah mama, dan mama sudah memilih Sarah, itu artinya rumah ini milik Sarah.
Sarah juga istriku, dan istriku pilihan mama yang akan menentukan siapa yang pantas pergi dari rumah ini dan bukan sebaliknya."
"ngak bisa begitu Satria."
Ucapan mas Satria di sahut oleh ayahnya yang sudah tiba di ruang tamu ini.
"kenapa ngak?
antara ayah dengan mama sudah membuat perjanjian pra nikah sebelum terjadi pernikahan, serta pemisahan harta kekayaan dengan perusahaan.
Ayah menyanggupi semuanya dihadapan kakek dan nenek dan itu tertulis yang dibuat dihadapan notaris.
Tidak sepersen pun harta ayah ada disini, semuanya milik mama."
Ayahnya langsung terdiam dan kemudian duduk di dekat istrinya itu.
"perempuan mandul sangat jahat mas, aku hanya memintanya untuk makan bersama tapi dia menyiram air ke wajahku."
"apa ibu terus-menerus untuk berbohong? apa salah ibu memintak baik-baik, orang meminta itu tangannya di bawah bukan di atas.
__ADS_1
Ibu adalah orang tua, selayaknya mengajari yang lebih muda untuk lebih bijak.
Jelas ada buktinya, tapi ibu masih bisa berbohong."
"diam kau perempuan mandul."
"kau yang diam."
plak....plak.....
Ayah mertua menyuruh istrinya untuk diam dengan membentak nya lalu menampar dua kali.
Susana menjadi tegang, dan kami hanya terdiam.
"Sarah....
Satria.....
berikan kami kesempatan sekali lagi, rumah warisan ayah memang ada, tapi kondisinya tidak layak lagi untuk ditempati.
Ayah memang masih ada tabungan jika ditambah dengan uang pemberian Sarah kemarin itu untuk mahar istri Rizal dan itu masih cukup untuk renovasi rumah warisan ayah.
Tapi bagaimana dengan Lyra yang masih harus membutuhkan perawatan medis?"
"Nanti saya transfer untuk biaya renovasi nya serta membeli keperluan dapurnya, yang penting kalian berdua pergi dari rumah ini.
Malam ini juga kalian berdua pergi dari sini, sebelum rumah renovasi, kalian berdua tinggal losmen dekat rumah sakit selama seminggu."
"jangan gitu Satria."
"makanya, urus istrimu dengan benar. sudah enak tinggal disini tapi bertingkah, ngak ada tawar menawar, sekarang juga kalian pergi dari sini.
Mpok Surti dan mbak Tika, tolong bantu mereka beres-beres."
Sang mertua hanya terdiam, dan mpok Surti serta mbak Tika langsung bergerak ke arah kamar mertua.
"Uang baru ku transfer ke rekening mu, dan juga baru ditransfer istri Rizal untukmu.
Sarah sudah memberikan biaya pengobatan Lyra dan juga mahar istri Rizal, serta uang pegangan kita selama menjaga Lyra di rumah sakit.
Terus untuk apa kamu memintak uang pada Sarah?"
"Sarah....
Sarah memberikan produk kecantikan lengkap untuk Sinta, katanya untuk membuat video.
Aku juga ingin membeli produk kecantikan itu, karena produk itu bagus."
"tapi ngapain harus ngatain Sarah yang nggak-nggak?
jika kamu ingin produk itu, lalu kenapa kau mintak uang?
__ADS_1
Kenapa bukan produk kecantikan itu yang kamu mintak langsung dari Sarah?"
Sang mertua terdiam dan akhirnya di tarik paksa oleh suaminya untuk masuk ke kamar mereka.