
Lalu Desi menatap Rizal yang hanya diam saja tanpa membela nya dihadapan ibu nya. sepertinya Desi berharap kalau suaminya berdiri untuk nya.
"mas Rizal....
tolong jelaskan apa yang di maksud ibu, apakah Desi bersikap semena-mena terhadap mas Rizal?
Apakah aku pernah merendahkan kamu mas?
Bukankah kita sudah sepakat untuk saling berbagi, bekerja sama dan saling mencintai. bahkan kita sudah sepakat untuk memulai dari awal.
Tapi kenapa ibu bisa bicara seperti itu mas?
Apa yang telah kamu ucapkan ke ibu mas? dan.....dan ...... kenapa mas Rizal langsung berubah drastis setelah bertemu dengan ibu?"
"maaf Desi......
mas hanya ingin berbakti kepada ibu, mantan istri ada, tapi mantan ibu itu tidak akan pernah ada."
Lagi-lagi Desi menghapus air matanya yang mengalir dan kemudian menoleh ayah mertuanya.
"ayah lihat sendiri kan? bukan Desi dalang dari semua ini.
Desi dan mas Rizal awalnya baik-baik saja, tadi kedatangan ibu ke rumah tadi malam membuatku harus menggugat cerai mas Rizal."
Kemudian Desi menatap Satria lalu ke istrinya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"mbak Sarah....
jangan biarkan ibu masuk ke dalam rumah tangga mbak Sarah, nantinya akan berakhir seperti Desi."
Ujar Desi kepada kakak iparnya itu, dan kemudian menatap Rizal suaminya seraya menghapus air matanya yang sudah mengalir.
"sekali lagi Desi tanya mas, apakah hati dan pikiran mas sudah bulat untuk tetap berbakti seutuhnya ke ibu?"
Lalu Rizal berdiri dan kemudian menghampiri istrinya yang sedang hamil tua.
"Desi Rara Binti Ilham, saya jatuhkan talak satu kepada mu dan sejak hari ini, kamu bukan lagi istriku."
Dan lagi-lagi Desi menghapus air matanya, ternyata dirinya tidak menahan air mata itu untuk tidak jatuh ke pipinya.
"saya terima talak mu, dan tetaplah berbakti kepada mama Mu.
Telah kamu ketahui sendiri berdasarkan perjanjian pranikah kita, rumah yang kita tempati adalah milik Desi.
Dengan talak yang kamu jatuhkan terhadap saya, maka dari hari ini dan detik ini juga. angkat kaki dari rumah itu.
Motor yang kamu kenakan harap di kembalikan, nantinya saya mengeluarkan barang-barang mu dari rumah.
Saat ini juga sesuai dengan perjanjian pranikah kita, kamu di pecat dari pekerjaan kamu.
__ADS_1
Jangan pernah berharap melihat anak ini, karena saya tidak mau anak ini meniru sifat buruk mu.
sampai ketemu di pengadilan."
Ucap Desi dengan amarahnya yang tahan dan hanya bisa meneteskan air matanya, terlihat sesekali Desi cegukan karena menangis.
"tunggu nak..... tunggulah sebentar Desi...
ayah ngak mau kalian bercerai.
Desi..... tunggu nak......
Istighfar nak..... istighfar nak......"
"seharusnya anak bapak yang di ingatkan untuk istighfar, bukan Desi.
Terimakasih atas semua perhatian bapak, maaf Desi harus pergi."
Sang ayah mertua berhenti bicara ketika Papa nya Desi yang di kawal lima orang laki-laki datang ke rumah tersebut.
Dua orang pengawal itu membawa tiga tas dan langsung dilemparkan ke arah Rizal dan mama Nya.
Lalu salah satu diantara pengawal itu merampas tas Friska dan satu nya lagi menggeledah tubuh Rizal.
"apa-apaan ini? mau ngapain kau bangsat...."
Teriakan Friska tidak dipedulikan oleh pengawal itu, dan dari dalam tas di peroleh uang satu gepok dan juga beberapa perhiasan yang di ambil Friska dari laci meja rias dan lemari Desi.
"bagus, sita barang laki-laki yang tidak tahu diri itu."
Perintah Papa nya Desi ke pengawal nya, lalu mengambil barang-barang milik Rizal.
Mulai dari jam tangan, handphone, dompet bahkan sampai sepatu dan kemeja serta celana di ambil paksa dari Rizal.
Rizal hanya mengenakan koas oblong dan celana pendek berbahan dasar kain, wajahnya yang menahan malu dihadapan mama nya, Sarah dan juga penghuni rumah lainnya.
Terlebih-lebih dihadapan istrinya yang baru saja di talak nya.
"mari kita bicarakan secara baik-baik pak, semua masalah ini pasti ada jalan keluar."
"tidak ada yang perlu di bicarakan lagi pak Diman, anak kamu memang tidak bisa di andalkan.
Desi adalah putri semata wayang ku, tangisannya adalah pilu bagiKu.
Cukup sampai disini aku mengenal keluarga kalian."
Ujar Papa nya Desi dan menarik tangan putrinya, lalu menoleh Rizal.
"jangan pernah kau datang rumah itu dan ke rumah Ku, jika kau masih nekat itu artinya kau mengantarkan nyawa."
__ADS_1
Lalu Desi melangkahkan kakinya yang di ikuti oleh Papa nya serta para pengawal itu.
Papa nya Rizal langsung menatap tajam anak dan istrinya itu, tatapan yang penuh amarah serta menahan emosi yang sudah memuncak.
"puas kamu Friska, puas kau menghancurkan rumah tangga anak mu? sekarang siapa lagi yang menjadi target mu."
Friska hanya terdiam, begitu juga dengan Rizal yang hanya mengenakan kaos oblong dan juga celana pendek yang sebenarnya itu kolor.
"habis sudah kau Rizal, kau ikuti mama Mu yang luar biasa ini.
Sekarang apa? dan kau mau tinggal dimana?
Sesuai dengan ucapan mu, untuk berbakti kepada mama mu.
Sekarang bawa mama pergi kemanapun pun kau mau, karena itu yang kau kehendaki."
"ngak usah berlebihan gitu mas, kasihan Rizal jika terus menerus mas marahin.
Lihat aja Desi pasti menyesal mintak cerai dari Rizal, anakku yang tampan rupawan ini akan mudah untuk mendapatkan perempuan cantik dan kaya raya."
"ngak usah banyak bacot, sekarang kalian pergi dari sini. malu saya melihat kalian berdua."
Friska membawa anaknya pergi dari rumah itu, begitu juga suaminya yang pergi ke losmen tempat tinggal nya sementara.
"kemana kita sekarang ma....
Rizal tidak punya uang sepersen pun ma ..."
"tenang nak, kamu kan punya pacar, si Dona kalau ngak salah."
"Dona itu perempuan ngak benar ma, dia itu maniak ****."
"bagus kalau begitu, mangnya kamu ngak sanggup melayaninya?"
Rizal tersenyum menanggapi mama nya, dan tidak kesedihan atau rasa kehilangan dari pikirannya.
"Lihat nih, mama sudah memisahkan uang nya, jadi kita masih punya modal untuk mendekati si Dona."
"baiklah ma, sekarang kita gerak."
"tunggu dulu, sebelum kita beraksi terlebih dahulu kita makeup over kamu deh, biar jauh lebih macho dan terlihat jantan."
Rizal bersama mama nya pergi ke salon, untuk mendandani Rizal.
"lihat dong....
anak mama sudah oke punya, show time now. tunjukkan pesona mu kepada Dona."
Kemudian mereka memesan taksi online dan pergi menuju rumah perempuan yang bernama Dona itu.
__ADS_1
Friska sudah muncikari atau germo untuk anak-anaknya, seharusnya Friska ikut andil membuat anaknya bahagia dan bukan untuk mendukung anaknya menceraikan istri anaknya.