PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Melabrak.


__ADS_3

POV Friska.*


Friska berhenti di depan tenan pakaian, dan ternyata itu adalah toko pakaian yang lumayan mahal.


"Desi....


belikan ibu sepasang pakaian, karena pakaian ini sudah lusuh."


Lagi-lagi Desi mengabulkan permintaan ibu mertua nya dan langsung menggesek kartu debit milikinya.


Friska sudah berganti pakaian dan pakaian lama yang dikenakan olehnya langsung di buang.


Lalu berjalan sebentar dan ketemu lagi dengan salon, sang ibu mertua langsung melirik menantunya.


"ngak bu, sisa di rekening Desi ini untuk persiapan lahiran nantinya."


"pelit amat, kedua orang tua mu kan kaya raya. tinggal mintak aja."


"kedua orang tua Desi, saat ini tahap mempercayai kami. jangan gara-gara ibu rumah tangga yang baru kami bina menjadi hancur."


"kurang ajar kamu ya Desi, beruntung Rizal anakku ini mau menikahi mu."


"ngak usah debat bu, jadi ngak kita melabrak mbak Sarah? ntar set perhiasan itu di jual loh."


Friska baru sadar akan tujuannya, dan segera menarik tangan anaknya yang di ikuti oleh Desi dari belakang.


Pesan taksi online dan tentunya dibayar oleh Desi, berhubungan jalanan tidak terlalu macet dan mereka tiba di rumah kediaman Satria dan istrinya yang merupakan anak tiri Friska.


"mbak Sarah ada pak?"


Dengan sopan santun nya, Desi bertanya kepada pak Muklis. tukang kebun rumah yang menyerupai istana tersebut.


"ada non, tapi bapak harus izin dulu kalau ada tamu yang hendak masuk."


Friska dan anaknya serta menantu nya, masih berdiri di depan gerbang.


Sementara pak Muklis terlihat melakukan panggilan melalui interkom kepada penghuni rumah.


"silahkan masuk non."


Pada akhirnya mereka dipersilahkan masuk oleh pak Muklis dan tentunya itu sudah mendapatkan izin dari penghuni rumah.


Begitu sampai di ruang tamu, Friska langsung duduk di sofa layaknya pemilik rumah begitu juga dengan Rizal sementara istri Rizal masih berdiri.


"Desi....


duduk aja Des, ngapain berdiri? kasian kamu nya, silahkan duduk."


Akhirnya Desi duduk setelah dipersilahkan oleh Sarah yang datang menghampiri mereka.


"ada apa ini?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Sarah, membuat Desi berpindah duduk tepat di samping ibu mertua nya.


"ibu diam aja ya, biar Desi yang membereskan semua ini.

__ADS_1


mbak Sarah, mas Satria ada di rumah?"


"ada Des...


lagi mandi, bentar lagi kemari?"


"bagus kalau begitu....


begini mbak, apa mbak mencuri set perhiasan ibu mertua kita ini?"


"set perhiasan? ngak....


lebih tepatnya membeli dari ibu, dan mbak ada kwitansi nya kok.


bentar ya, biar mbak kirim ke Desi."


Seketika itu juga Sarah mengirimkan bukti kwitansi pembayaran set perhiasan itu, lalu Desi menunjukkan photo bukti pembayaran serta bukti transfer set perhiasan ke mertua nya


"ibu mau ngomong apa lagi? .....


jelas-jelas ibu menjual set perhiasan itu ke mbak Sarah.


Mbak Sarah.....


ingin klarifikasi, apa benar mbak Sarah menyiram wajah ibu, hanya karena ibu mengajak mbak untuk makan malam?"


Tanpa bicara Sarah mengirimkan video kejadian malam itu, kejadian dimana peristiwa itu terjadi.


Desi menghela napasnya dan kemudian memberikan handphone nya kepada Rizal.


"apa bu? ibu mau ngomong apa lagi?"


Suara mertuanya sudah mulai meninggi kepada Desi.


"ibu bersalah tapi merasa di tersakiti, sekarang serahkan uang ibu ambil dari laci Desi itu, uang sepuluh juga dan juga perhiasan yang ibu ambil.


Desi tidak pernah meminta apapun ke ibu, dan saya berusaha baik sama ibu."


"kamu apa-apaan sih Desi..


kamu menuduh mama ku mencuri?"


"iya Rizal, ini buktinya...."


Desi menunjukkan rekaman sisi TV, dimana ibu mertua nya melakukan aksinya.


Tidak berapa lama, Satria duduk disamping istrinya lalu meraih handphone miliknya.


"mas Satria dan mbak Sarah, adalah keluarga mas Rizal, disini Desi sengaja ikut ibu kemari untuk memperjelas keadaan keluarga yang baru kami bina."


Lalu Desi menunjukkan video rekaman sisi TV kamar nya.


"Desi sudah berusaha menerima ibu dengan baik, tapi ibu tidak bisa menerima nya.


ibu memaksa untuk tidur di kamar kami, sementara ada kamar tidur tamu yang layak, ada AC, ranjang dan kamar mandi di dalam. akan tetapi ibu tetap memilih kamar kami.

__ADS_1


Akhirnya Desi pulang ke rumah orang tua Ku, setelah menaruh sisi tv di dalam kamar.


Ibu menggeledah laci meja hias ku dan mengambil uang dari Papa, untuk persiapan lahiran Desi nanti, berikut perhiasan emas yang diberikan oleh nenek.


Tadi pagi Desi ke rumah, dan mendengarkan percakapan ibu dan Rizal.


Ibu dan Rizal hendak bersekongkol untuk memperalat Desi, dan mereka berdua berencana untuk merebut harta kekayaan orang tua ku.


Papa dan mama saat ini sedang menguji kami, Rizal sudah bekerja di kantor Papa.


Belajar dari bawah agar bisa mendapatkan perhatian Papa dan kepercayaan Papa.


Akan tetapi ibu menghasut Rizal untuk bekerja di perusahaan Papa dan membantunya untuk bisa merampas harta kekayaan orang tua Ku.


Dari awal Desi sudah menyadari bahwa mas Rizal tidak punya niat yang tulus terhadap Desi.


Tapi setelah dinasehati oleh Papa dan keluarga yang lainnya, mas Rizal seperti menunjukkan perubahan yang baik.


Kerja dengan telaten dan kami berdua saling membantu di rumah, segala sesuatu kami kerjakan secara bersama-sama.


Desi sangat bahagia dan berakhir setelah kedatangan ibu ke rumah kami.


Menjadi janda ngak masalah bagiKu, sekarang ini juga Desi niatkan untuk melepaskan Rizal bersekutu dengan mama nya dan Desi angkat tangan.


Desi ngak mungkin memisahkan anak dan ibunya, tapi Desi ngak mau kalau Rizal bertemu dengan mama nya.


Bahaya.....


Sekarang ini saya tegaskan untuk Rizal, dan meminta keputusan mu.


Rizal memilih ibu atau Desi?"


Susana hening dan Rizal menatap mama nya yang terlihat kebingungan untuk membuat keputusan.


"kedua orang tua Desi sengaja membiarkan kita berdua tinggal di rumah itu mas Rizal.


Agar kita bisa belajar mandiri untuk bina rumah tangga kita."


"mas memilih mama, jika Desi ngak bisa menerima kehadiran mama ngak masalah dan silahkan tentukan pilihanmu."


Seketika air mata Desi mengalir di pipinya, dan langsung menghapus air mata itu dengan tangan kanannya.


"Desi bisa menerima ibu, tapi tidak dengan kelakuan nya.


Baik lah, Desi akan menggugat cerai, bulan depan bayi ini sudah lahir.


Secepatnya kita akan bercerai...."


"apa-apaan ini? .....


kenapa Desi memintak cerai? ngak boleh gitu nak, ingat bayi kalian belum lahir, pamali."


Ucap ayah mertua nya yang telah tiba di ruang tamu ini dan sorot matanya yang tajam langsung mengarah ke istrinya.


"biarkan aja Desi mintak cerai, emangnya ada laki-laki yang mau sama perempuan yang sedang hamil seperti itu?

__ADS_1


Jangan berlagak hebat kau Desi, mentang-mentang orang tua mu kaya raya dan kamu memperlakukan anakku semena-mena."


Kedua bola mata Desi terlihat berkaca-kaca setelah mendengarkan perkataan ibu mertua nya.


__ADS_2