
Aku mendapatkan dokumen tentang laboratorium yang bekerjasama dengan klinik permata itu dari salah satu sahabat ku yang pernah bekerja di laboratorium itu.
"sahabat saya dipecat dari laboratorium itu karena kasus sama, dimana seorang pasien meminta hasil uji laboratorium di rekayasa.
Sahabat saya itu tidak lagi untuk melakukan pekerjaan seperti itu, karena berlawanan dengan kode etik dan sumpahnya.
Ternyata bukan hanya permintaan dari ibu yang sudah dikabulkan oleh dokter Surah, jika ada pasien menginginkan rekayasa hasil uji laboratorium, maka dokter Surah akan mengabulkannya.
Tentunya dengan bayaran yang fantastis, dan ibu membayar nya dengan penurunan biaya sewa gedung.
Dokumen itu akurat mas, silahkan di uji jika memang mas Satria meragukannya."
"ada soft file nya?"
"ngak ada mas, tapi Sarah memiliki uji laboratorium yang direkayasa dari laboratorium klinik itu.
Apa mas memerlukan itu?"
Mas Satria hanya mengangguk dan memintaku untuk mengirimkan file nya, lalu mas Satria menghubungi seseorang melalui handphone miliknya.
Mas Satria meminta untuk menyelediki laboratorium yang bekerjasama dengan klinik permata itu.
Selesai menelpon lalu mas Satria menolehku dengan tatapan yang sayu.
"terimakasih atas informasinya, selanjutnya akan diselidiki oleh tim legal kita.
Apapun nanti akibat nya, mas akan meminta tim legal kita untuk mengurus nya."
"baik mas, oh iya mas kemarin ibu meneriaki Sarah perempuan mandul di rumah sakit.
Saat mas memintaku untuk ke rumah sakit untuk melihat Lyra.
Para pengunjung rumah sakitnya lain melihat kami dan lumayan banyak juga orangnya mas.
Takutnya nanti ada media yang mengangkat berita ini, berita tentang perempuan mandul yang disematkan ibu kepadaku."
"nanti mas pikirkan bersama Findon."
"kalau klik Indah, bisa saya pastikan untuk menyimpan rekam medis pasien.
Tapi tidak dengan klinik permata, di tambah lagi mas menunjukkan serta memberikan sendiri hasil uji laboratorium air mani itu mas.
Jika berandai-andai kalau klinik permata tidak menerima penurunan sewa gedung dari Lila group, apakah mas yakin kalau rekam medis tidak disebarkan di media?
karena sudah ada kasus nya mas, seorang pasien dimana uji laboratorium nya itu disebarkan di media.
Itu semua ulah dari klinik permata, sudah empat korban mas."
"nanti di pikirkan, mas mau kerja dulu. nanti kamu di jemput Findon.
__ADS_1
Karena ada hal yang ingin dipastikan, hal terkait perjanjian ibu dengan dokter Surah dari klinik permata itu."
Setelah mengatakan demikian, lalu mas Satria langsung keluar kamar dengan membawa tas kerjanya.**
Mas Satria sudah pergi kerja, dan aku memakai pakaian yang cukup layak jika ke kantornya mas Satria nantinya.
Drrrt..... drrrt...... drrrt......
Handphone milikku bergetar dan menghubungi adalah nomor baru, sepertinya itu nomor kantor deh.
'selamat pagi, dari mana ini?'
'selamat pagi juga ibu, apa benar ini dengan ibu Sarah Paraswati?'
'iya benar, ada apa ya bu?'
'baik ibu, terimakasih konfirmasinya. ibu pernah mengirimkan desain kemasan produk kepada kami atas nama PT (perseoran Terbatas) INSANI.
PT Insani, dengan produk Insan yang menjadi wanita Indonesia menjadi percaya diri.
Berdasarkan hasil seleksi tim panitia, desain kemasan produk ibu dinyatakan sebagai pemenang nya.
Jadi kami mengundang ibu untuk hadir di aula kantor kami.
Apakah ibu bisa hadir besok jam 10 pagi?'
'baiklah kalau begitu ibu Sarah, kami menunggu kehadiran ibu di aula kantor.
terimakasih atas partisipasinya dan selamat beraktifitas.'
Sambungan telepon berakhir, dan kebahagiaan yang menyelimuti ku sekarang.
Desain kemasan produk itu adalah tugas kuliah dulu, yang belum sempat aku kumpulkan.
Tersimpan dalam driver google, dan ketika PT Insani mengadakan lomba desain kemasan produk dan aku mengikutinya.
Tidak menyangka akan menang seperti ini, hadiahnya berupa uang tunai dua puluh juta dan kemungkinan akan direkrut menjadi desainer kemasan produk nya.
Teringat kembali akan laptop yang aku beli, tertunda membeli karena permasalahan yang disebabkan oleh ibu mertua.
Meraih tas dan keluar dari kamar, langkah terhenti ketika berada di ruang tamu.
Karena sudah banyak tamu disini, dan semuanya tidak ada yang aku kenal kecuali ibu tirinya mas Satria yang bermulut sadis itu.
Semua mata tertuju kepada Ku, dan tatapan aneh itu membuat sangat tidak nyaman.
"eh perempuan mandul sini kau."
Ujar ibu mertua, beberapa diantara tamu menutup mulutnya karena mendengar gelar perempuan yang disematkan oleh ibu mertua.
__ADS_1
"semua yang ada disini adalah sepupu suami mu, yang artinya ipar mu. salam dulu, jangan belagu."
Bersalaman dengan mereka yang hadir, yang berjumlah sekitar lima belas orang.
Hanya empat orang laki-laki yang sudah berumur dan sisanya adalah perempuan.
"Kenapa kamu susah banget hamil nya? minum jamu dong.
Nanti bu Dhe berikan jamu nya, supaya kamu cepat hamil."
"iya nak Sarah, sudah seharusnya kamu memberikan keturunan untuk Satria, supaya ada penerus Lila group."
Ujar seorang perempuan paru baya, yang berpakaian norak dan disahuti oleh anak perempuan yang mungkin seumuran denganku.
"ngak bagus menunda kehamilan, ingat umur Satria itu sudah hampir kepada empat.
Kamu harus lebih berusaha untuk hamil, jangan hanya menikmati harta kekayaan keluarga dan kamu melupakan kewajiban untuk memberikan keturunan kepada Satria.
Atau jangan-jangan kamu mandul, dan beralasan untuk menunda kehamilan.
Gimana ini menantu Friska? mandul atau menunda kehamilan?"
"lucu ini mak Vera lah, Sarah itu perempuan mandul, dan perempuan bermuka dua beralasan menunda kehamilan.
Itu sudah jelas mak Vera, bahkan perempuan mandul menuduh Satria yang mandul dan merekayasa hasil laboratorium.
Perempuan mandul ini sangat luar biasa mak Vera, bayangkan aja. perempuan mandul ini bisa memasak almarhumah bu Lila agar perempuan mandul ini bisa menikah dengan Satria.
Hebat kan?
Perempuan mandul ini tidak lebih dari pengemis gila, rakyat jelata yang sangat miskin dan hina yang rela berbuat kotor demi menaikkan status nya.
Itulah ajaran orang tuanya, mungkin orang tua perempuan mandul ini adalah pemeras."
Sepertinya mulut dan hidung nya yang berdarah kemarin itu belum cukup memberi pelajaran kepada ibu mertuaku ini.
Mungkin luka itu sudah sembuh, sehingga dia begitu lincah saat melancarkan fitnah itu
Mendengar fitnah dari ibu tiri suamiku ini, ingin rasanya mencakar mulut yang sadis itu, tapi aku mencoba untuk tenang.
Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan, usahakan untuk tidak menangis agar tidak terlihat lemah dihadapan perempuan bermulut sadis ini.
"kebalik kayaknya ibu mertua, atau ibu ngomongin diri sendiri?"
"apa maksud mu perempuan mandul?"
Jawabnya seolah-olah tidak mengerti apa yang aku ucapkan barusan.
Ibu mertuaku menatapku dengan tatapan tajam, dikiranya saya takut melihat matanya yang besar itu.
__ADS_1