PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Keluarga yang Lain.


__ADS_3

Tapi ibu Dewi mencegat Ku dengan cara memegang tangan ini serta menatapku dengan tatapan yang sayu.


"ibu mau bicara dengan mu, bisa kan?"


Hanya mengganguk untuk mengiyakan permintaan nya, dan kami berdua duduk lagi di sofa.


"masalah ini tolong bicarakan pelan-pelan dengan suami nanti ya, kasihan bapak ibu mertua mu harus cerai di usia seperti ini.


mbak lagi, kenapa sih tidak bisa mengontrol diri?


Lihat mbak, talak mas Diman sudah jatuh terhadap mbak.


terus ini bagaimana mbak?"


Ibu Dewi tarik napas dalam-dalam dan kemudian melirikku.


"sebenarnya kedatangan ibu kesini untuk meminta bantuan mu Sarah, tapi karena mbak Friska seperti ini, rasanya enggang untuk memintak bantuan mu lagi.


Danu masih sakit, dan sudah dipindahkan dari rumah Lila yang saat masih di rumah sakit daerah.


Fasilitas disana tidak selengkap rumah sakit Lila, tapi kami tidak mampu untuk membawa Danu ke sana.


Dulu almarhumah mbak Lila pernah menjanjikan diskon spesial rumah sakit, tapi mbak Lila jatuh sakit dan kami tidak kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.


Hanya pemilik saham mayoritas yang bisa memohonkan nya untuk orang terpilih, saat ini kamu sebagai pemilik saham mayoritasnya.


Tolong kami Sarah, ibu sudah bingung harus berbuat apalagi."


"maaf ibu, Sarah memang pemegang saham mayoritas nya, tapi berita acaranya sudah diperbaharui.


Dokumen itu bisa diberikan kepada orang terpilih dan itu adalah wewenang mas Satria.


Sarah hanya bisa memberikan persetujuannya saja, jika sudah di cetak oleh rumah sakit atas persetujuan tertulis dari mas Satria, dan telah mendapatkan tandatangan petinggi rumah sakit.


Barulah saya tandatangani dan dokumen itu bisa digunakan untuk mendapatkan diskon biaya rumah sakit sebesar tujuh puluh persen dan di tempatkan di VIP.


Wewenang yang dimiliki oleh almarhumah bu Lila, sudah berada di tangan mas Satria.


Sebaiknya ibu membujuk mas Satria dulu, dan jika mas Satria sudah mengeluarkan dokumen itu, dan pasti saya tandatangani bu.


Sarah ngak bisa melakukannya, Sarah juga butuh persetujuan dari mas Satria.


Tolong di mengerti ya bu, saya hanya sebagai istri mas Satria, dan wewenang nya sepenuhnya adalah mas Satria.


"kamu benar-benar egois Sarah, bisa-bisanya langsung menolak ibu seperti ini.


Danu itu adik ipar mu juga, kita ini keluarga loh, masa kamu tega sama Danu?"


Tarik napas dan hembuskan, itu yang bisa aku lakukan saat ini.


Entah kenapa orang-orang ini selalu menekan Ku, bingung mau jelasin apa lagi.


"mas Satria itu keponakan ibu, sementara saya itu hanya orang luar yang dijadikan mas Satria menjadi istrinya.

__ADS_1


Alangkah lebih baiknya ibu ngobrol langsung sama mas Satria.


apalah dayaku bu, Sarah berada disini hanya karena almarhumah ibu Lila.


Kuasa sepenuhnya itu ditangan mas Satria, tolonglah bu, jangan desak Sarah seperti ini."


Lalu aku berhenti bicara, karena ada tamu lagi ya datang.


"kamu Sarah ya? istinya nak Satria."


"iya ibu, apa yang bisa aku bantu bu?"


"kenalkan saya Kensa, sepupu mas Diman ayah mertua mu, dan ini mas Ilham suami ibu.


Nak Satria ada?"


"kata mas Satria ke luar negeri bu, nanti malam baru pulang ke rumah ini. ibu kabari aja ke mas Satria melalui WhatsApp bu."


Raut wajahnya langsung berubah, dari yang tadi tersenyum dan sekarang terlihat mengerut.


Tatapan wanita paru baya itu, yang bernama Kensa kepada bu Dewi agak berbeda.


Sepertinya mereka ngak akur dan itu jelas terlihat dari sorot matanya.


"saya dengar kamu yang menerima seluruh saham Lila?"


Tadi beliau masih sopan, sekarang sudah bicara saya, untuk menekankan ke dirinya sendiri.


"iya iyalah, kamu kan pendatang. masa langsung berkuasa, jangan mimpi."


Dijawab salah, ngak jawab juga salah. seperti makan buah simalakama.


Saat pernikahan ku dengan mas Satria, saya tidak melihat kehadiran mereka semua yang ada di ruang tamu ini, bahkan sampai almarhumah bu Lila ke tempat peristirahatan terakhir, dan juga mereka- mereka ini tidak terlihat.


Tapi sekarang pada bermunculan, yang membuat daftar pertanyaan yang belum terjawab semakin banyak.


"dulu Lila pernah janji akan memberikan sepuluh persen sahamnya kepada saya, tapi dia keburu meninggal.


Janji tetaplah janji, dan kamu sekarang sebagai penerima sahamnya.


Sekarang berikan hak saya, saham yang dijanjikan oleh Lila."


Ucap perempuan paru baya itu, ya ampun......


Mungkin bagi perempuan ini, saham itu ibarat emas yang bisa langsung berpindah tangan begitu saja.


"kenapa kamu diam? ngak rela memberikan saham yang sudah dijanjikan itu?"


"bukan begitu bu, hanya saja Sarah tidak mengerti cara memberikan saham itu kepada ibu, apalagi posisi saya hanya sebagai orang luar yang tidak mempunyai kuasa."


Wajah perempuan yang bernama Kensa itu langsung terlihat kesal, karena omongannya aku balikkan kepadanya.


"hadehhh......

__ADS_1


datang-datang langsung mintak saham, emangnya itu saham seperti kacang?"


Tatapannya tajam perempuan paru baya langsung mengarah ke bu Dewi, karena sindiran barusan.


"kamu diam aja, percuma kamu datang kesini. perempuan ini tidak mengabulkan apa yang kamu inginkan.


daripada kamu buang-buang waktu disini, lebih baik kamu pulang dan urus anak mu yang penyakitan itu."


Jawaban dari bu Kensa membuat babak yang baru dan suasana yang baru, kini bu Dewi yang memasang raut yang marah.


"maaf nyonya-nyonya, tolong jangan berantam disini, tolong jangan buat rumah ini menjadi kacau."


"eh mpok Surti, kamu itu babu. ngak usah ikut campur."


"maaf nyonya Kensa, sepupu nyonya sudah di usir dari rumah ini dan nak Satria memerintahkan saya untuk mengusir kalian dari rumah ini."


Jawab mpok Surti yang menunjukkan pesan WhatsApp dari mas Satria kepada bu Kensa.


"pak Imran........ pak Muklis......"


Mpok Surti berteriak memanggil pak Imran dan juga pak Muklis.


Seketika itu juga keduanya langsung berada dihadapan kami.


"iya Mpok."


"perintah nak Satria, usir mereka mereka dari rumah ini."


Ucap mpok Surti dengan setengah berteriak kepada pak Imran dan pak Muklis.


Pak Muklis yang memegang gunting tanaman yang besar dan seketika itu mengarahkan gunting itu kepada bu Dewi dan juga bu Kensa.


"keluar kalian semua.... keluar......."


Mpok Surti teriak lagi, alhasil bu Dewi bersama suaminya dan juga bu Kensa dan juga suaminya, akhirnya keluar juga.


Setelah mereka keluar barulah mpok Surti menarik napas lega dan kemudian meraih tangan Ku.


"hebat kamu ya perempuan mandul, sekarang kamu bisa mengusir oran. luar biasa kamu, dasar perempuan mandul."


"saya jelaskan sekali lagi ya, saya tidak mandul ibu.


Putri yang mandul permanen, rahim nya telah diangkat karena virus jahanam.


ingat......


Putri mu yang mandul."


Lalu mpok Surti menarik tangan Ku dan membawa ku ke arah kamar Adam.


"tolong tenangkan Adam ya non."


Pinta mpok Surti, dan aku langkahkan kaki ini ke kamar Adam.

__ADS_1


__ADS_2