
POV Satria.*
Findon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari Satria dan sepertinya usahanya sia-sia.
"mas Satria, aku peduli sama mu mas, karena itulah saya memeriksa atau uji DNA terhadap bayi malang itu.
Tiga laboratorium rumah sakit swasta ternama di kota ini dan juga laboratorium rumah tipe A milik pemerintah, dan hasilnya sama bahwa anak itu bukan anak kandung mu.
Ayah kandung dari anak itu adalah pria yang ada di video itu, karena tim kami sudah menemukan pria itu dan meminta sampel rambutnya.
Sekarang mas Satria masih belum percaya, kalau anak itu bukan anak kandung mu."
"terserah kau aja Findon, saya ingin mengetahui kenapa om Farhat meninggal."
heeee........
Findon menarik napasnya, di hembuskan dengan pelan-pelan kemudian menatap Satria dengan tatapannya yang kecewa.
"bukan hanya Farhat yang tewas, tapi juga ibu tiri mu serta kedua adik tiri mu.
buka hanya itu, semua saudara dari ibu tiri mu itu, mati terbakar di gudang kosong.
Saat polisi masih menyelediki kasus itu, sebenarnya sudah ada perkembangan akan penyelidikan itu.
Cuman Findon malas membahasnya, karena mereka itu adalah parasit dan pantas lenyap dari muka bumi ini.
Saya datang kemari bukan untuk membahas parasit itu, tapi membahas gugatan dari Indah klinik.
Gimana ini mas, mau ngak mau mintak maaf dak kemudian membuka klarifikasi."
"ngak."
haaaaa.....
Tarikan napas itu seperti sangat berat dan tatapan wajah Findon yang menggambarkan kekecewaan berat terhadap Satria.
"percuma rasanya saya memohon kepada Indah klinik, tapi tidak hargai seperti ini.
Baiklah kalau begitu, lakukan semua mu dan saya tidak perduli lagi."
Kekecewaan yang terlontar dari mulut Findon dan kemudian melangkah meninggalkan Satria.
"Findon..."
Satria memanggil adik sepupunya itu, dan disambut senyum oleh Findon.
"Sarah mana? saya mau bicara sama dia."
"anjing...."
Mungkin karena kecewa, sehingga kalimat yang tidak pantas itu keluar dari mulut Findon.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Satria, ketika mendengar ucapan yang tidak pernah di ucapkan oleh Findon terhadapnya.
"kamu kok kasar Findon?"
"manusia bodoh dan idiot seperti kau pantas di kasari, dasar bodoh."
Lagi-lagi Satria begitu terkejut mendengar ucapan dari Findon, lalu meninggalkannya sendirian di ruangan tersebut.
drrrt.... drrrt.....
Satria meraih handphone miliknya yang bergetar, lalu menjawab panggilan telepon tersebut.
Selesai menerima telepon dan langsung berlari dari ruangan tersebut.
"selamat siang pak Satria, nama saya Sutris kepala bagian fasilitas ini dan juga bertanggungjawab atas laboratorium."
"iya, saya tau itu. terus bagaimana perkembangan pengajuan Ku? apakah ada perkembangan?"
"baik pak Satria, kami juga tidak berhak manahan pasien disini.
Semua itu atas kebijakan pak Satria, dan berhubung bayi nya sudah dalam kondisi yang stabil, maka pak Satria bisa membawanya dari fasilitas ini, berikut dengan ibunya.
Tentunya itu akan mengurangi beban fasilitas ini dan juga membuka kembali tempat untuk pasien yang lain.
Berikut ini beberapa formulir dan pernyataan yang harus bapak tandatangani, agar bisa menyelesaikan administrasi nya.
kami menahan istri pak Satria dan juga bayi nya hanya karena ibu Sarah yang menginginkan yang terbaik untuk pak Satria."
Pria baya itu terheran-heran melihat sikap Satria yang langsung menandatangani dokumen-dokumen tersebut, tanpa membacanya.
"ngak di baca terlebih dahulu pak Satria."
"ngak perlu, aku hanya ingin istri dan anakku keluar dari sini, neraka yang kalian bangun untuk menghancurkan saya.
Sarah dimana? saya ingin dia bertanggungjawab atas semua ini, dia adalah perempuan yang sangat kejam.
Dimana Sarah sekarang?"
"saya tidak tau pak Satria, karena itu bukan urusan Ku.
Saya disini hanya bertugas sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan."
"bacot, cepat lepaskan istri dan anak ku."
"tenang pak Satria dan silahkan tunggu di ruang tunggu keluar, karena petugas kami akan mengeluarkan istri pak Satria dan bayinya."
Satria terlihat kesal karena ucapan pria yang bernama Sutris tersebut dan kemudian memanggil bawahannya.
"apa-apaan ini? kenapa bawahan mu memakai pakaian medis yang lengkap seperti itu?"
"ya jelas dong pak Satria, karena bawahan saya ini akan mengeluarkan pasien pengidap virus HIV AIDS dan itu berbahaya untuk diri sendiri dan keluarganya.
__ADS_1
Ngak usah banyak bacot pak Satria, silahkan bawa istri mu dan juga bayi itu dari fasilitas ini."
"kurang ajar kau ya, tunggu saja dan akan pecat kau dari sini."
"sadar pak Satria, anda tidak bisa memecat saya dari sini, karena saham saya jauh lebih besar dari saham mu yang hanya tinggal dua persen saja.
Dasar bodoh, sana pergi...."
Dengan kesalnya Satria keluar dari ruangan tersebut yang di tuntun oleh petugas yang berpakaian medis yang lengkap, seperti pakaian astronom.
Berjalan menelusuri lorong dan akhirnya tiba juga di sebuah pintu kaca yang sepertinya sangat tebal.
Lalu petugas itu membukanya, sementara Satria malah terdiam melihat petugas itu memperlakukannya dengan tidak hormat.
"mana istri dan anakku?"
"sabar....
Dasar bodoh nan idiot, gini nih manusia yang tidak punya otak.
Sudah gratisan malah mintak di nomor satukan, sana tunggu di situ aja."
Petugas itu mendorong tubuh Satria agar masuk kedalam ruang tunggu itu, terdengar Satria mengancam petugas itu.
Satria bersumpah akan memecat seluruh pegawai yang ada di fasilitas itu, karena perlakuan yang kasar terhadapnya.
Tapi semua itu tidak dipedulikan oleh petugas dan meninggal Satria si ruang tunggu itu.
Berselang beberapa menit kemudian, terlihat Neni dan bayinya sudah masuk keruangan tersebut yang di sambut senyuman oleh Satria.
"perhatian-perhatian, sebentar lagi pintu itu akan terbuka dan silahkan keluar dari ruangan itu, karena ruangan tersebut akan disterilkan."
Ujar seseorang dari pengeras suara itu dan Satria merangkul bahu istinya yang menggendong bayi itu.
Hitungan hitungan tiga dan pintu disebelahnya terbuka dan langsung mengarah ke luar.
"cepat keluar dari ruangan itu, karena ruangan itu akan segera disterilkan dan pintu akan tertutup kembali dalam hitungan tiga."
Lagi-lagi suara terdengar dari pengeras suara itu dan kemudian menghitung mundur.
Sesegera mungkin Satria mengajak istri dan bayinya keluar dari ruangan fasilitas itu.
"kita langsung menuju belakang rumah sakit ya, mereka memang keterlaluan.
mereka-mereka seolah-olah mengaggap Neni dan bayi kita seperti manusia yang paling hina mas."
"sabar ya, sesegera mungkin mas akan memecat mereka semua.
kita pulang ke rumah sekarang, karena kamu dan bayi kita sudah keluar dari fasilitas itu."
ngeossssss.......
__ADS_1
Mobil milik Satria di bawa seseorang tepat ke hadapan dan begitu keluar ternyata seseorang yang memakai pakaian medis yang lengkap dan kemudian melemparkan kunci mobil kepada Satria.