PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Penghiburan.


__ADS_3

Tidak bosan-bosannya aku memandang wajah tampan milik mas Satria dan tanpa kusadari bibir ini sudah mengecup keningnya.


"terimakasih atas kecupan mu sayang."


Bahagia bercampur malu, itulah yang kurasakan karena ketahuan mencium kening mas Satria.


"syukurlah kalau mas sudah bangun, di bagian mana yang paling sakit mas?"


Mas Satria tersenyum lalu meraba anu dengan pelan-pelan.


"perlu Sarah bantu untuk meraba nya mas?"


Lagi-lagi mas Satria tersenyum lebar dan senyuman itu sangat menenangkan hati ini.


Lumayan lama juga mas Satria meraba anu nya dan terlihat sangat menikmatinya.


"ngak sakit kok, dah enak kan nih."


Ucap mas Satria dan sedikit menggerakkan kedua kakinya.


"syukurlah kalau begitu, sekarang istrimu ini akan membersihkan barang kesukaan nya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mas Satria tertawa dan aku terus melanjutkan pekerjaan untuk membersihkan senjata mas Satria itu.


Sudah mulai bersih dan sedikit bangkit karena aku memainkannya dengan tangan nakal ini.


"sabar sayang....."


Kegiatan yang asyik itu aku hentikan karena di tegur oleh mas Satria, lalu menutupnya kembali.


"beres mas, sekarang kita tinggal menunggu kedatangan dokter Supriadi."


Mas Satria hanya tersenyum menanggapi ucapan Ku, lalu meminta ku untuk mendekatkan wajahku.


Lalu mas Satria meraih kedua pipi dan.....


ah......


ciuman mas Satria tepat di bibir ini dan aku membalasnya karena nikmat.


Tapi hanya sebentar karena ngak merasa ngak enak hati, sebab kami sedang berada di klinik.


"selamat siang pak Satria dan selama siang bu Sarah."


Sapaan dari dokter Supriadi yang terlihat tersenyum sumiringah, mungkinkah ini kabar baik?


"sudah bersih bu Sarah?"


"sudah dong dokter."


"bagus kalau begitu, saat ini juga saya akan menyampaikan berita bagus ya.


Sel spe*ma pak Satria dinyatakan sempurna dan siap untuk di satukan dengan sel telur dari ibu Sarah yang juga sempurna.

__ADS_1


Untuk kali ini adalah giliran ibu Sarah, kami akan menyuntikkan tiga kali suntikan ke tubuh ibu.


Suntikan vitamin tentunya, agar memperkuat daya tahan tubuh bu Sarah dan juga suntikan hormon pemicu perlindungan terhadap rahim.


Kami akan melakukannya saat ini juga, dan ibu Sarah harus menginap disini selama dua hari.


Sementara sel spe*ma pak Satria disatukan dengan sel telur dari ibu Sarah dan kami akan mempersiapkan ibu terlebih dahulu.


apakah ibu bersedia?"


"siap dokter."


"pertahankan semangat nya, dan untuk pak Satria, besok baru bisa pulang ya."


"dokter mengusir Ku? emangnya saya ngak bisa menemani istriku disini."


"bagus sekali pak Satria, tapi tanya dulu sama istri."


"ngak perlu tanya sama istri dok, pokoknya saya harus disini dan pulang bersama istri nantinya."


Aku hanya bisa mengganguk dan tersenyum karena bahagia dan perawat langsung mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dokter Supriadi.


"perawat akan melakukan untuk ibu Sarah, dan saya pamit dulu karena ada pekerjaan lainnya.


kalau ada sesuatu yang ingin di tanyakan, silahkan datang ke perawat atau bisa langsung datang ke ruangan saya."


"baik dokter."


Dengan kompaknya kami berdua menjawab dokter Supriadi, dan dengan kocaknya dokter Supriadi keluar dari ruangan kami.


"rileks ya bu, tenang.....ndan dan tenang..... tenang..... dan tenang......"


Alkohol itu terasa dingin di kulit dan perawat itu langsung memperbaiki celana yang aku kenakan dan memintaku untuk telentang.


"sudah selesai, terimakasih ya bu atas kerjasamanya."


"sudah selesai mbak?"


"sudah dong bu, ngak sakit kan?"


Aku hanya menggelengkan kepalaku dan perawat itu tersenyum, kemudian mempersiapkan banyak buah-buahan yang sudah di bersihkan.


"buah-buah nya dihabiskan ya bu, terserah mau di jus atau dimakan seperti biasa. jika butuh bantuan dan kami selalu siap membantu ibu dan bapak."


Ucap perawat itu lalu mempersiapkan blender, air minum dan peralatan makan.


Kemudian pamit keluar agar kami bisa istrihat di ruangan ini.


Dua ranjang kecil itu akhirnya kami satukan dan kami berdua tidur bersama.**


Tiba-tiba saja perut ini terasa lapar, dan mas Satria juga demikian.


Secara bersamaan kami berdua menekan tombol hijau di atas ranjang kami secara bersamaan.


Hanya hitungan menit, tiga orang perawat menghampiri kami berdua di ruang rawat ini.

__ADS_1


"lapar....."


Ketiga perawat itu tersenyum ketika kami berdua kompak berkata lapar.


"maaf iya bapak-ibu, untuk saat ini bapak dan ibu hanya bisa makan buah-buahan dulu. sebentar biar kami siapkan ya."


"mbak.....


saya orang Indonesia yang terbiasa makan nasi, emangnya ngak bisa kalau makan nasi?"


"kata dokter ngak boleh, besok pagi setelah insiminasi itu berkas di suntik kan ke rahim ibu Sarah, barulah ibu bisa makan nasi dengan lauk pauk yang direkomendasikan oleh dokter."


"apapun akan aku lakukan demi mendapatkan si buah hati."


"loh....loh......


ibu Sarah mau kemana?"


Ujar perawat itu kepada Sarah karena melihatnya hendak pergi dari ranjangnya.


"mengupas buah untukku dan juga suamiku."


"ibu tenang aja ya, ini merupakan tugas kami. pokoknya ibu harus istirahat total.


Bapak dan ibu sudah membayar mahal akan semuanya, mulai dari materi, waktu hingga perasaan.


Biarkan kami yang bekerja iya ibu, intinya ibu fokus untuk program ini dan harus rileks."


Pinta perawat itu dan langsung menuju meja makan dan mempersiapkan buah-buahan untuk makan Sarah dan suaminya.


Setelah selesai dan disajikan di ranjang dengan cara menarik kursi kecil itu, dimana makanan nya buah dan minum nya juga buah tanpa tambahan gula atau pemanis lainnya.


"tugas suamiku sudah selesai mbak, apakah mas Satria harus makan buah-buahan juga?"


"sebenarnya ngak sih bu, bapak sudah diperbolehkan untuk makan seperti biasa, takutnya jika bapak makan nasi serta lauk nya di ruangan ini.


maka ibu nanti mencomot makanan si bapak dan gagal deh kami menjaga pola makan ibu.


Maaf ya pak kalau kami egois."


"ngak kok mbak, tindakan kalian sudah tepat. karena istriku ini susah menahan selera.


Jika hanya tiga hari makan buah-buahan pengganti nasi, saya masih sanggup. tapi kalau masih berlanjut ntar aku sembunyi-sembunyi untuk makan."


Lagi dan lagi ketiga perawat itu hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Satria.


"mbak....


biar saya aja yang menyuapi istriku, karena istriku butuh lebih banyak cinta untuk memperjuangkan buah hati kami."


"dengan senang hati bapak, semoga dengan cinta bapak ke ibu yang melimpah dan cita-cita serta keinginan bapak dan ibu terwujud.


amin......"


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha

__ADS_1


Sarah tertawa terbahak-bahak karena melihat perawat membungkuk badan ketika bicara, seolah-olah seperti pelayan yang melayani raja dan permaisurinya.


__ADS_2