
POV Satria.*
Karena kecewa dengan keputusan dewan rapat komisaris, dan akhirnya Satria memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
"apa yang terjadi mas?"
Satria menatap Neni, wanita yang baru saja menjadi istrinya yang mengaku mengandung anaknya Satria.
"saat ini mas hanya memiliki lima persen saham di Lila group, untuk sementara kita berhemat dulu sebelum mas bisa mengembalikan keadaan.
Kamu Neni, ibu serta Lyra. harus saling membantu untuk mengurus rumah tanpa asisten rumah tangga.
Belanja bulanan saya yang atur, dan...."
"apa mas?...
kita hidup tanpa pembantu? yang benar aja mas?
Neni itu ngak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan Neni tidak bisa masak."
"ibu juga ngak setuju, sebentar lagi pembantu baru akan datang."
haaaa.....
Hembusan napas dari Satria, yang tidak menyangka akan mendapat sambutan pahit dari keluarga barunya.
"kalau kita memakai asisten rumah tangga, maka tabungan mas akan cepat habis, sementara kita yang ada disini banyak.
Tolong pengertiannya dan ini hanya bersifat sementara sebelum mas bisa bertemu dengan Sarah untuk negosiasi ulang."
"Sarah lagi Sarah lagi, apa sih hebatnya itu perempuan?"
"ibu.....
Sarah itu pemegang saham mayoritas di Lila group, posisi Satria sekarang lagi genting.
Neni....
kapan kamu melahirkan?"
Seketika Neni menjadi bengong, akan pertanyaan suaminya itu secara mendadak.
"minggu terakhir bulan ini mas, emangnya kenapa?"
Satria menatap istri barunya itu dengan tatapan yang penuh harapan, seolah-olah itu adalah harapan untuknya.
"jika anak yang kamu kandung itu benar-benar darah daging ku, maka anak kita ini akan mendapatkan saham dua puluh persen milik Sarah.
Dengan saham dua puluh persen itu, mas bisa kembali menjadi CEO dari Lila group."
"jelas ini anak kandung mu mas, tapi masa hanya dua puluh persen?
__ADS_1
lalu bagaimana dengan perempuan itu?"
"Sarah akan mengembalikan saham mas lima persen lagi, jadi totalnya saham kita akan berada di posisi tiga puluh persen dan itu sudah lebih dari cukup untuk kita.
Asal anak yang kandung itu adalah darah daging ku, dan terlepas apapun itu jenis kelaminnya."
"emangnya analisis DNA itu ngak cukup mas?"
"tidak Neni....
Rumah sakit Lila, rumah milik yang di tunjuk dan juga rumah sakit swasta.
Akan menguji ulang DNA nya, ketiga rumah sakit tersebut sebagai pembanding tes DNA yang kalian lakukan."
Mereka terdiam ketika segerombolan orang-orang yang datang ke rumah tersebut, dan mereka memakai pakaian medis yang lengkap untuk melindungi diri.
"apa-apaan ini? mereka ngapain mas?"
Ucap Neni yang terlihat ketakutan, karena segerombolan orang itu memakai alat perlengkapan khusus medis.
"kami petugas rumah sakit dan rumah sakit pemerintah yang di tunjuk, untuk mengambil sampel darah kalian semua.
Guna untuk mengecek apakah kalian semua yang ada di rumah terindikasi virus HIV AIDS, dan ini perintah.
Selama hasil belum keluar, kalian semua tidak bisa keluar dari rumah ini."
Ucap salah seorang pria dari gerombolan itu, dan mereka langsung beraksi dengan jumlah orang yang banyak dan tentunya mereka tidak bisa melawan dan hanya pasrah.
Terlihat keamanan yang berjaga-jaga di depan rumah dan jumlah mereka sangatlah banyak.
"terindikasi? maksudnya apaan mas?"
"sabar ibu, nanti kami jelaskan saat hasilnya keluar, di dalam mobil yang parkir di depan adalah laboratorium dari dua rumah sakit yang berstandar internasional.
mohon kerjasamanya agar kondusif demi kebaikan kita bersama."
Dalam kebingungan Neni, ibu tiri Satria dan kedua adik tirinya yaitu Rizal dan Lyra hanya bingung.
Satu jam lebih dan empat orang turun dari mobil yang besar, dan kemudian di susul empat orang dari mobil yang satunya.
Kemudian dua diantara mereka menghampiri laki-laki yang berbicara dengan Neni barusan.
Mereka terlihat seperti berbisik dan tidak berapa lama kemudian dikeluarkan kertas.
"hasil tes uji akan sampel darah bapak dan ibu sudah keluar.
Hanya pak Satria yang tidak terindikasi virus HIV AIDS itu, dan selebihnya terindikasi.
Baiklah dan kami memberikan pilihan bagi yang terindikasi.
Rumah sakit Lila memiliki rehabilitasi untuk orang-orang yang terindikasi virus itu, untuk itu kami menawarkan kepada saudari ibu Neni, dan yang lainnya untuk direhabilitasi di sana.
__ADS_1
Khusus untuk pak Satria, bapak akan di observasi di rumah sakit Lila di dalam ruangan khusus sampai rumah sakit Lila menyatakan bapak terbebas dari virus tersebut."
"kalau kami menolak?"
Ujar Neni yang seolah-olah menantang petugas medis itu.
Sementara Satria sudah dibawa petugas yang berpakaian medis itu, dan tinggallah Neni dan gerombolannya.
Petugas yang menjadi lawan bicaranya Neni, lantas menunjukkan foto beberapa laki-laki dan juga beberapa perempuan.
"mereka adalah pasien rumah sakit dari anak usaha Lila group yang khusus menangani rehabilitasi penyakit menular.
Foto yang barusan di tunjukkan adalah pasiennya yang kabur dari fasilitas, dan pasien itu sudah terverifikasi di beberapa rumah sakit sebagai pengidap HIV AIDS.
Video yang beredar dimana anda-anda yang ada disini berhubungan badan dengan mereka-mereka yang mengidap HIV AIDS.
Kalian sendiri yang menentukan dan silahkan pergi dari rumah ini."
Petugas langsung meminta mereka yang tinggal di rumah tersebut untuk beres-beres dan akhirnya mereka selesai juga dan sudah berkumpul di depan rumah.
Lalu petugas lainnya langsung memberikan seluruh ruangan rumah, dan terakhir seperti di fogging atau pengasapan rumah.
Sejenak rumah itu seperti terbakar karena asap yang tebal.
"saya sudah sah menjadi istrinya mas Satria, dan saya berhak mendapatkan rehabilitasi itu."
Ucap Neni yang akhirnya mengalah dan kemudian langsung dibawa petugas, kini tinggallah Friska dan anak-anaknya.
"sebentar ya, biar saya tanya dulu ayahnya anak-anak."
"ngak perlu, karena suami ibu sudah dipenjara sekarang dan tentukan pilihan ibu sekarang."
"Rizal...... Rizal.......
Lyra..... Lyra.........."
Kedua anaknya Friska melarikan diri yang terus-menerus dipanggil olehnya, akan tetapi tidak ditanggapi.
Kedua anaknya itu terus berlari hingga luput dari pandangan.
"maaf pak karena saya tidak bisa ikut, saya harus mencari anak-anak ku dulu."
"silahkan jika itu menjadi pilihan ibu, kami tidak bisa memaksa."
Friska sudah pergi yang katanya mau mencari anak-anaknya dan para petugas pun pergi di lokasi rumah mewah tersebut.
Asap di rumah itu masih mengepul yang tentunya mengundang banyak pertanyaan dari penghuni rumah lainnya.
Setelah dijelaskan oleh petugas, barulah para tetangga membubarkan diri dari kumpulan itu.
Tidak ada lagi orang di rumah mewah itu, rumah yang didesign khusus atas permintaan almarhumah Lila, ibu kandungnya Satria.
__ADS_1
Tujuannya agar nyaman ditempati keluarga, tapi sekarang rumah itu sepi.