
Ruangan yang sangat steril dan juga sangat dingin, lalu mas Satria di suruh tengkurap. dan dokter Supriadi membuat suntikan sebanyak empat.
Pertama suntikkan melalui bokong kanan mas Satria, lalu bokong kirinya untuk suntikan kedua.
Lalu mas Satria dibantu untuk telentang, kemudian dokter Supriadi meraba anu nya mas Satria dan mengoleskan alkohol disekitar buah zakarnya.
"sudah terasa dingin pak Satria?"
Mas Satria hanya mengganguk, lalu dokter Supriadi menyuntik kedua buah ***** milik suamiku.
Selesai menyuntik lalu mengelemuri buah ***** itu dengan alkohol dan menutupi dengan perban yang basah.
"mohon di tunggu ya pak sampai kering, nanti setelah kering perawat akan membersihkannya lagi."
"kalau aku membersihkannya bisa dok?"
"bisa bangeeeeeeet......
supaya tercipta keharmonisan pasangan yang serasi dan menciptakan kedamaian hati.
Kami siapkan dulu peralatannya dan tunggulah sekitar dua jam lagi ya."
"baik dok, terimakasih ya dok."
Dokter Supriadi dan perawat itu pergi dari ruangan ini setelah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Alkohol murni dan kain kasa serta kapas medis.
Lalu aku duduk di dekat mas Satria, dan mengelus kepalanya.
"terimakasih ya mas, untuk semuanya."
"sama-sama sayang, ngomong-ngomong ngak jijik membersihkan nya nanti?"
"kok nanya gitu mas? mencabut bulu ketek mas aja Sarah ngak akan jijik, sini biar Sarah bersihkan bulu ketek mas yang sudah tebal itu."
"di rumah aja ya, pasti itu sakit dan nantinya mas bisa teriak. tar disangka kita disini di kita melakukan hubungan suami-istri."
"apa salahnya mas, kita suami-istri dan itu wajar."
"ngak disini juga loh, bisa di rumah atau kita nginap di hotel. ngarap benar deh."
Ujar mas Satria seraya tersenyum nakal, dan itu membuat hati terasa tenang.
Sudah dua jam lebih menunggu, dan aku mulai membuka perban itu dengan pelan, setelah perbannya terangkat dan mulai membersihkan area buah ***** menggunakan kapas medis yang dibasahi dengan cairan alkohol murni.
"jangan dimainin dong."
"hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
iya mas iya....."
Karena gemas melihatnya yang mulai tegak, sehingga aku mainkan.
Setelah merasa cukup bersih dan memintak mas Satria untuk duduk.
"ada yang sakit mas?"
"ngak ada, cuman si Joni lagi tegak aja."
__ADS_1
"sabar ya mas, tunggu dua hari baru kita eksekusi."
Mas Satria lagi-lagi tersenyum nakal dan aku membantunya untuk memakaikan pakaiannya.
Mas Satria sudah bisa berjalan normal dan kami menuju ruangan dokter Supriadi.
Dokter Supriadi memberikan obat berupa vitamin untuk di konsumsi selama dua hari, dan hari ketiga nanti harus rawat inap disini karena akan dilakukan suntikan lagi sebelum pengambilan sel spe*ma dari mas Satria.
Pak Imran sudah menunggu kami di ruang tunggu, karena sudah aku panggil dari tadi untuk menjemput kami di klinik ini.**
Sesampainya di rumah dan langsung menuntun mas Satria ke kamar mandi serta membantunya untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Selesai mandi dan mengenakan pakaiannya, lalu menuntun lagi ke ranjang untuk istirahat dan tentunya setelah minum vitamin dari dokter Supriadi.
Vitamin itu mengandung penenang dan hanya disarankan di minum pada malam hari.
Setelah mas Satria tidur, lalu aku pergi ke kamar Adam untuk melihatnya.
"Adam....
belum tidur ya dek?"
"bentar lagi kak, karena ada tugas yang belum selesai, dikit lagi."
Jawab Adam lalu kembali mengerjakan PR nya dengan serius.
Tidak berapa Adam sudah merapikan buku-bukunya dan juga tas sekolah, kemudian mendekati Ku.
muach......
"kakak istrihat ya, lihat tuh kulit wajah kakak sudah mulai kusam karena kurang tidur.
"iya Adam, kakak tahu itu. kakak hanya melihat mu belajar."
"oh gitu.....
oh iya kak, Adam itu terpilih loh menjadi tim lomba matematika dari sekolah dan Adam ketuanya."
"kok Adam baru cerita sama kakak."
"kan baru terpilih kak, makanya Adam cerita sekarang, kemarin itu masih seleksi.
"maaf ya dek, kakak kurang perhatian sama adek."
"jangan sedih gitu dong kak, Adam merasakan kasih sayang kakak kok. pokoknya kakak tenang aja, Adam bisa melakukan sendiri.
Kan Adam anak laki-laki, anak kebanggaan mama, Papa dan kakak."
Ngak tahu lagi harus mengucapkan apa, dan terakhir aku hanya bisa memeluk Adam. lalu Adam melepaskan pelukan ku dan mencium pipiku.
"kakak istrihat ya, karena Adam juga mau istirahat."
Adam menarik tanganku dan membawaku keluar dari kamar.
Setelah keluar dari kamar Adam, lalu menuju kamar kami. terlihat mas Satria sudah tidur pulas.**
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan beraktivitas sebagaimana biasanya, selesai mengurus Adam dan sudah di jemput bus sekolah dan saatnya mengurus suami.
Menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan mas Satria dan juga sarapannya.
__ADS_1
"kok mas ngak dibangunkan?"
"kan harus istirahat total kan mas."
"ngak bisa Sarah, banyak kerjaan yang harus mas selesaikan."
"okey....
tapi Sarah ikut, karena hanya Sarah yang tahu resep vitamin itu. ada yang mengandung penenang dan ada yang ngak.
Mas Satria ke kantor, Sarah juga harus ikut. serta mas ngak boleh menyetir."
"iya bawel."
"coba mas gerakan dulu badannya, apakah masih ada sakit atau gimana."
Mas Satria melakukan hal yang aku minta, gerak sini dan gerak lagi. kemudian mas Satria meraba anu nya lagi.
"aman kok sayang, gimana dengan mu?"
"syukurlah mas, kalau Sarah sudah tenang mas, menstruasinya ngak sakit walaupun deras.
mas mandi, setelah itu sarapan dan kita berangkat ke kantor.
atau Sarah mandikan mas?"
Mas Satria hanya tersenyum lalu meraih handuknya dan ke kamar mandi.
Tidak berapa lama, mas Satria sudah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai **********.
"kok tumben memakai dalaman dari kamar mandi?"
"nanti kamu jahil."
Hanya mengenakan dalamnya, kami berdua sarapan di dalam kamar ini.
"Adam sudah berangkat sekolah?"
"sudah mas, tadi berangkatnya lebih awal dari biasanya, karena Adam dan tim Nya mau seleksi lagi untuk lomba cerdas cermat matematika."
"waouuuuu.....
kakak sama adik, sama-sama luar biasa pintarnya.
Tapi saran mas ya, terus perhatian kepada Adam dan kita dukung apa yang menjadi cita-citanya."
Muach......
Belum juga mas Satria selesai bicara, aku sudah mencium pipi kanannya.
"yang kiri juga biar adil."
Ucap mas Satria yang meminta pipi kiranya untuk aku cium.
Kami berdua tersenyum dan melanjutkan sarapan, selesai sarapan kami sama-sama bersiap-siap dan mengenakan pakaian kami masing-masing.
Terlihat dasi mas Satria agak miring, dan juga tali sepatunya tidak terikat dengan benar.
Selesai membenarkan tali sepatu itu, lalu merapikan kemeja dan juga dasinya.
__ADS_1