
Mungkin ini ada hubungannya dengan berkas yang diberikan oleh Deva dan aku segera membuka nya.
Sebelumnya laptop telah ku matikan dan mengambil kalung yang berisi flashdisk tersebut dan mengamankan Nya.
Membaca dokumen dengan seksama, ternyata itu adalah dokumen tentang hak dan kewajiban kepada menantu pilihan almarhumah bu Lila.
Begitu lengkap dengan detail produk dan sisanya ada di dalam brangkas di kantornya, password nya ada di flashdisk yang dititipkan oleh almarhumah ibu Lila kepada seseorang yang dipercayai.
Enam angka pertama dari tanggal lahir mas Satria, lalu ada dua huruf kapital nama awal mas Satria dan huruf kedua dari namanya ditambah dengan tanggal lahir mas Satria yang dibalik.
Segera aku catat password tersebut, dan kemudian mempelajari lebih lanjut dokumen dari Deva ini.
Disini tertulis bahwa orang yang mengetahui password ruangan almarhumah hanyalah menantunya, menantu yang sudah dipilihnya.
Menantu tersebut akan mewarisi seluruh isi ruangan dan semua hak-hak almarhumah ibu Lila.
Sisanya adalah tentang produk yang sebagian besar sudah aku kuasai.
Fasilitas yang didapatkan jika bisa membuka ruangan nya adalah berupa dua asisten dan mobil pribadi yang canggih.
Waouuuuu.....
Sangat menarik dan segera aku bubuhkan tandatangan persetujuan.
Malam sudah semakin larut, tapi mas Satria belum juga pulang.
Karena sudah merasa ngantuk berat, dan dokumen aku beresken kemudian ke ranjang untuk istirahat.**
Pagi-pagi sekali terbangun seperti biasa dan beraktivitas, wajah lelah mas Satria yang berbaring di sisi Ku dan aku mencium keningnya.
Selesai beraktivitas lalu mandi dan setelah itu membangunkan mas Satria untuk segera mandi.
"maaf ya mas, semalam Sarah ketiduran."
"ngak apa-apa."
"jadi kita ke klinik kan?"
"uhmmm...."
Jawab mas Satria dengan singkat, mungkin karena sedang memakai pakaiannya.
"jam berapa kita ke klinik mas?"
"habis sarapan, Adam sudah berangkat ke sekolah?"
"sudah mas."
Lalu kami sarapan dan kemudian bersiap untuk pergi ke klinik Indah.
__ADS_1
Kali ini mas Satria yang menyetir, dan dia begitu kalam dalam ketika mengemudi mobil itu.
"Sarah setuju dengan semua dokumen dari Deva, berhubung Sarah tidak perlu ke kantor secara rutin dan masih banyak waktu mas.
Boleh ya Sarah kerja di Insani?"
"iya."
Begitu singkat jawaban itu, tapi bisa membuatku bahagia.
Tidak berapa lama kami akhirnya sampai di klinik indah, dan langsung konsultasi dengan perawat.
Cek tensi, berat badan lalu tes kolesterol, serta cek suhu tubuh dan barulah kami bisa menemui dokter Supriadi.
Dokter Supriadi menyambut kami dengan begitu hangat dan ramah.
"baik pak Satria dan ibu, nanti kami melakukan ronsen terhadap anu nya bapak, untuk mengecek apakah ada penyumbatan saluran ****** atau tidak.
Agak sedikit ngilu, dan saya harapkan setelah melakukan itu, bapak jangan menyetir dulu.
Nanti akan berikan obat penghilang ngilu nya, agar bapak tidak terganggu aktifitasnya.
Seperti yang jelaskan sebelumnya, jika terjadi sumbatan, maka kami melakukan operasi kecil untuk mengambil sel ****** dari saluran yang tersumbat itu untuk diteliti.
Jika tidak penyumbatan maka kami mengambil sel ****** dari sumbernya secara langsung untuk diteliti.
Setelah itu dilakukan, nantinya pak Satria akan istrihat total selama tiga hari dan itu tergantung kesehatan bapak sendiri
apakah kita bisa memulainya?"
Mas Satria mengganguk setuju dan dokter Supriadi memberikan dokumen yang ditandatangani oleh mas Satria.
Setelah mas Satria berganti pakaian seperti kimono dan tidak boleh memakai ****** ********.
Lalu mas Satria di bawa ke ruangan dan aku hanya bisa menunggu nya didepan pintu ruang ini.
Mungkin sekitar setengah jam, dokter Satria yang di dampingi dua dokter laki-laki dan dua perawat perempuan keluar dari ruangan tersebut.
Terlihat mas Satria agak ngangkang jalan nya dan segera aku bantu.
Dengan pelan-pelan kami berjalan menuju ruangan dokter Supriadi dan kemudian duduk berhadapan dengannya.
Lalu dokter Supriadi menunjukkan video yang merupakan hasil dari proses di ruangan khusus tadi.
"di lihat dari tampilan yang di tangkap kamera digital yang di masukkan melalui lubang anu nya bapak.
Tidak ada penyumbatan dari saluran utamanya.
Itu artinya kita harus melakukan operasi pengambilan sel ****** langsung dari sumbernya yaitu dari kedua testis pak Satria.
__ADS_1
Sebelum melakukan operasi pengambilan sel ****** bapak, saya memberikan resep vitamin untuk di konsumsi oleh bapak.
Untuk tiga hari dan setelah itu bapak datang kemari untuk melakukan operasi.
Perlu saya ingatkan, selama meminum vitamin yang saya resep, bapak dan ibu jangan berhubungan suami-istri dulu ya.
Sehari sebelum operasi, pak Satria harus istrihat total.
Jika tidak memungkinkan istrihat di rumah, bapak bisa memilih di klinik ini, tentunya ibu harus mendampinginya.
apakah ada pertanyaan?"
"saya sudah paham dok, dan sehari sebelum operasi. saya memilih istrihat total di klinik ini.
Apakah boleh nantinya asisten saya datang?"
"tentunya dong pak, tapi waktu yang sudah kami tentukan. ini juga agar bapak bisa istrihat."
Mas Satria sudah mengerti kemudian dokter memberikan obat penghilang ngilu dan meminta mas Satria untuk rebahan dulu selama satu jam lebih di ranjang.
Lalu kami pergi ke suatu ruangan agar mas Satria bisa rebahan atau istlihat minimal satu jam dan belum di perkenankan memakai ****** ********.
Mas Satria sudah tidur mungkin karena efek obat penghilang ngilu itu, dan aku langsung ke optik klinik ini untuk menebus vitaminnya.
Kemudian aku kembali ke ruangan dimana mas Satria lagi istrihat.
Mungkin tiga jam mas Satria tertidur dan kemudian bangun.
"gimana mas masih ngilu?"
Mas Satria memegang anu nya dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"ngak ngilu lagi kok, sudah seperti biasa. tolong telpon pak Imran aja, suruh naik ojek kemari biar cepat."
"sudah ada disini sejak satu yang lalu mas, tadi Sarah mintak ngopi dulu di kantin. Sebentar ya Sarah telpon untuk siap-siap."
Selesai menelepon pak Imran dan memintanya untuk bersiap di depan klinik dan aku membantu mas Satria untuk berpakaian.
"Sarah....
kamu ngak ilfill melihat keadaan mas seperti ini? mas seperti ketergantungan terhadap mu dan seperti pria lemah dihadapan mu."
Pertanyaan mas Satria membuatku menatap nya, pertanyaan agak janggal menurutku.
"kok gitu ngomong nya mas, Sarah istri mu mas, dan apapun keadaan mas pasti aku terima.
Semua masalah pasti ada jalan keluarnya mas, yang penting kita sabar dan terus berusaha.
Sarah yang ketergantungan terhadap mas, sebagai istri yang mencintaimu mas dan Sarah bersedia melakukan apapun asal kita bersama."
__ADS_1
Mas Satria langsung memelukku dan tanpa terasa air mataku mengalir.