PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Mas Satria Bertindak.


__ADS_3

Menoleh ke arah mas Satria seraya menghapus air mata ini.


Lalu berdiri dan memeluknya, seketika air mataku mengalir lagi dan tangan besar itu memeluk Ku dengan erat.


Setelah agak tenang dan mas Satria membawa ku ke arah ranjang dan kami duduk di pinggir ranjang.


"Sarah menampar ibu mas, maafkan Sarah."


Lagi-lagi mas Satria memelukku dengan erat, dan saat itu juga air mata ini tumpah.


"iya sudah kita ke depan sekarang, kebetulan keluarga lagi kumpul di ruang tamu."


Ucap mas Satria lalu menarik tubuhku yang masih memelukNya.


Mengganti pakaian kimono dengan pakaian rumah, setelah itu barulah kami berdua berjalan keluar kamar dan menuju ruang tamu.


"gimana? enak berurusan sama polisi?"


Ucap mas Satria ke arah ibu tirinya, dan kami duduk didepan ibu tirinya ini.


"ini semua gara-gara istrimu itu Satria, istrimu itu tidak berguna. ibu hanya mintak dia membayar tagihan salon nya.


Tapi Sarah langsung menampar ibu, ngak punya otak kan?"


Tatapannya begitu tajam ke arahku dan perempuan kejam ini masih terus berbohong.


"Sarah memang menampar ibu di salon itu mas, tapi itu karena hati ini sudah sangat sakit.


Ibu mengatai Ku perempuan mandul di hadapan pegawai salon, dan melemparkan tagihan itu kehadapan Ku.


Apa salahnya bicara baik-baik, kenapa harus dengan cara yang menyakiti hati ini?"


"kamu jangan berbohong Sarah, kamu langsung menampar ibu, hanya karena tagihan lima juta saja kamu menampar ibu dihadapan pegawai itu."


Lagi dan lagi ibu mertua ini berbohong, lalu aku meraih handphone dan berusaha menghubungi Deva, karena kami berdua sudah bertukar nomor telepon.


'halo kak Deva, sibuk?'


'untuk mbak Deva selalu ada, ini pasti karena pelakor itu kan?'


'seperti nya begitu, apa benar tagihan salon ibu mertuaku ini hanya lima juta?


Secara penilaian kak Deva, kenapa Sarah menampar pipi mertua ini.


kak Deva ada di sana dan bisa kak Deva cerita?'


'tenang ya, Deva ada di depan rumah mu ini, bentar biar Deva ke sana?'.


Setelah selesai bertelepon dengan Deva, wajahnya ibu mertua langsung terlihat panik.

__ADS_1


Tidak berapa lama Deva sudah tiba di ruang tamu ini, lalu duduk di dekat mas Satria.


"saya berani bersumpah demi apapun, memang pelakor sedari dulu suka membuat amarah.


Satria dengar dong....."


Sedari tadi mas Satria hanya menatap tajam ke arah ibu tirinya sehingga Deva menegurnya.


"begitu perempuan ini masuk ke salon dan langsung memaki mbak Sarah dan mengatainya perempuan mandul, siap coba coba ngak geram?


Begitu juga saat memberikan tagihan salon nya, di lemparkan....


Dimaki dan dikatai perempuan mandul, dimana-mana ya kalau meminta bantuan itu dengan lembut dan juga memohon, ini malah kebalikannya.


Itu tagihan salon enam puluh juta rupiah loh, dan ingat ya Satria, anggota keluarga mu tidak boleh berhutang atau gratisan di Insani group.


Kecuali pemilik saham dan pemilik kartu VIP, jika berhutang sampai enam puluh juta rupiah, bisa-bisa nanti Insani group bisa bangkrut."


Hal tersebut sepertinya tidak bisa diterima oleh sang ibu mertua, dan beliau terlihat akan melakukan perlawanan.


"istrimu ini dan si banci ini sudah bersekongkol untuk menjebak ibu nak, mereka berdua sangat kurang ajar."


"hebat banget loh ngarang ya, apa perlu kita panggil Sinta menejer salon itu dan juga para pegawai serta satpam nya?"


Perempuan kejam itu akhirnya terdiam tak berkutik dengan ucapan dari Deva.


"sekarang Lo diam karena tidak bisa lagi mengelak.


Sekarang kamu yang menilai, gimana bini mu bisa hamil jika stres terus menghadapi perempuan gila seperti ibu tiri mu ini."


Seketika kami terdiam, lalu datang lagi Farhat bersama istrinya serta anak perempuannya yang bernama Sinta.


"mas kok percaya banget dengan omongan orang lain?


Mereka berdua ini orang lain mas, mungkin saja mbak Sarah sudah membayar pria jadi-jadian ini untuk bersekongkol menjatuhkan bu Dhe.


Kasihan bu Dhe di permalukan dihadapan umum, apa mas ngak kasihan melihat bu Dhe?"


Deva tidak langsung menanggapi ucapan dari Sinta, putri dari Farhat.


"Sinta yang aku kenal adalah perempuan yang luar biasa, tapi beda dengan Sinta yang ini, masih bau kencur sudah mencampuri urusan orang dewasa."


Ujar Deva yang akhirnya memberikan komentarnya.


"mas Satria....


Manusia jadi-jadian ini yang membuat Sinta tidak bisa menjadi model Insani, dan setan ini juga menyebabkan Sinta tidak bisa mendapatkan diskon salon."


"perempuan minim etika kyak Lo tidak pantas menjadi bagian dari Insani, Satria memang sepupu mu, tapi saya yang punya kendali akan Insani.

__ADS_1


Tidak akan saya biarkan parasit seperti kau mengogroti Insani, paham...."


Sinta terdiam dan mamanya seperti tidak terima akan ucapan Deva.


"kamu diam aja ketika sepupu mu diperlakukan oleh orang seperti ini Satria? dimana hati nurani mu?"


Mas Satria hanya menoleh istri dari Farhat itu, yang tidak lain masih keluarga nya.


"hati nurani ku sudah Satria kubur bersama almarhumah mama.


Deva adalah pimpinan insani dan produk nya, ya terserah Deva dong.


Kalau memang Sinta berbakat, pastinya akan direkrut oleh Deva.


Menjadi model bukan hanya soal cantik dan pantas, tapi butuh etika dan sopan santun, karena akan itu akan menggambarkan produk Insani.


Kalian ngapain kemari?"


Farhat dan istrinya serta Sinta putri nya terdiam mendengar penjelasan dan pertanyaan dari mas Satria.


Bahkan pertanyaan itu di ulang untuk kedua kalinya tapi tidak dijawab.


Pertanyaan itu belum terjawab, kini sudah hadir Kensa dan suaminya yang merupakan adik perempuan dari ayahnya mas Satria.


"syukurlah kamu disini Satria, Tante ingin menanyakan perihal saham yang dijanjikan oleh Lila.


Lila pernah menjanjikan sahamnya untuk Ku, tapi belum di wujudkan karena Lila sakit dan akhirnya meninggal."


"atas dasar apa Mama hendak memberikan sahamnya kepada tante?"


"karena tante sudah menolongnya untuk mengawasi ibu tiri mu ini, tapi mama mu tidak kunjung memberikannya."


"tidak akan saya berikan, saya berhak menolak nya."


"oke jika itu mau Mu, mulai hari ini putus sudah persaudaraan kita."


"sejak kapan kita saudara, tidak pernah ya. pergi sana dan jangan pernah kembali ke rumah ini.


dasar parasit..."


Dengan begitu kesalahannya, Kensa pergi bersama keluarganya dan kini masih ada Farhat dan keluarganya serta ibu tirinya yang sedang bermasalah.


"saya mengharomati ibu karena ayah, jika ini terulang lagi, saya tidak akan segan-segan melaporkan ibu ke polisi.


Untuk tagihan apapun segera bayarkan, saya dan Insani itu berbeda."


"jangan gitu Satria, ibu tidak punya uang."


"jual aja perhiasan mu, dan jika besok tagihan itu belum dibayarkan, maka akan berurusan dengan polisi, paham...."

__ADS_1


Akhirnya mas Satria bertindak, dan ibu tirinya langsung masuk ke kamarnya.


__ADS_2