
Dokter spesialis bedah urologi berhasil melakukan pembedahan di buah ***** atau testis mas Satria.
Ternyata operasi itu dikategorikan operasi kecil, karena sel spermatozoa atau sel sp**ma diambil dengan cara disedot dari sumber nya menggunakan suntikan.
Pasien dalam kondisi di bius yang dilakukan oleh dokter spesialis urologi.
Selanjutnya sel sp*rma yang di ambil dari sumber itu selanjutnya di teliti di laboratorium.
Jika sehat dan layak maka, akan dilakukan pengambilan sel telur dari ovarium di dalam rahimku.
Di kamar rawat ini, mas Satria belum siuman karena pengaruh bius.
Menjaga dan menemani mas Satria disini, sebelumnya aku sudah melakukan serangkaian tes kesehatan, mulai dari cek gula darah, tensi dan juga tinggi badan serta suhu tubuh.
Sebelum mas Satria operasi pengambilan sel spe*ma dari sumbernya langsung, terlebih dahulu dilakukan USG transvaginal terhadap Ku.
Dokter mengatakan sel telur sudah hampir siap untuk di ambil, selanjutnya di suntik hormon melalui bokong untuk mempercepat kematangan sel telur.
Kematangan sel telur untuk di ambil dan digabungkan nantinya dengan sel spe*ma mas Satria di dalam tabung.
Rasanya sakit badan ini, dan ini adalah efek dari suntikan pemicu hormon itu.
Mis V yang terasa ngilu karena USG transvaginal, serta badan yang seperti habis mengangkat beban puluhan kilogram.
Pegal dan ngilu, tapi ini semua demi perjuangan untuk momongan yang kami rindukan.
Mudah-mudahan saja tidak ada permasalahan dengan sel spe*ma dari mas Satria, agar suntik hormon ini tidak sia-sia.
"Sarah....."
Suara mas Satria yang pelan saat dia terbangun yang artinya pengaruh bius itu sudah hilang.
"mas sudah bangun? gimana mas apa ada yang sakit?"
Lalu mas Satria memegang anu nya dan meremas nya pelan-pelan dan kemudian menatap ke arahku.
"cuman ngilu dikit, bagiamana dengan mu sayang?"
"cuman ngilu aja mas, dan sudah mulai mendingan. benda itu membuat ngilu berbeda dengan mas punya, yang buat Sarah nagih terus."
Mas Satria hanya tersenyum menanggapi ucapan Ku.
Merasa sedikit iri, mas Satria hanya mengalami sedikit ngilu, sementara aku seperti baru di gebukin satu RT.
__ADS_1
Tok...tok....tok.....
Ketukan pintu itu membuat mas Satria berhenti senyum.
Dokter Supriadi bersama dua orang perawat menghampiri kami yang ada di dalam ruang rawat ini dan kedua perawat perempuan itu membawa berkas.
"syukurlah kalau pak Satria sudah siuman. saya harap bapak siap untuk mendengar apapun hasilnya."
"silahkan dok, saya sudah siap dan bersedia melakukan apapun sesuai dengan petunjuk dari dokter."
"baik pak Satria dan bu Sarah. dari hasil uji laboratorium terhadap sel spe*ma bapak, dan ahli laboratorium sudah mengeceknya berulang kali dengan teliti dan seksama.
Sel spe*ma yang di ambil dari ***** bapak secara langsung, dan sel itu tidak sempurna atau cacat.
Istilah medisnya disebut teratozoospermia, dimana sel spe*ma cacat, ada tidak memiliki kepala serta kelainan lain seperti berkepala dua dan tidak adanya ekor sel.
Kita tidak bisa menggunakan sel spe*ma itu untuk membuahi sel telur dari istri pak Satria. sebab sel spe*ma itu tidak bisa membuahi sel telur.
Hal seperti ini sudah sering kami tangani, dan langkah yang biasa kami ambil adalah menyuntikkan secara langsung beberapa vitamin dan perangsang hormon testosteron.
Berikut dengan pil obat untuk memulihkan sel spe*ma, supaya sel spe*ma tidak abnormal lagi dan bisa di ambil untuk di membuahi sel telur dari istri bapak.
Tapi akan efek sampingnya, pertama pak Satria tidak selera makan dan kedua bapak akan mudah emosi dan terkadang sulit terkontrol.
Saya pribadi melihat ibu Sarah, istri bapak. adalah istri yang berhati lembut dan tegar.
Saya yakin bu Sarah mampu menanganinya dan bisa bersabar menanggapi suami dengan perubahan sikap emosionalnya."
"dokter....
kalau Sarah siap seribu persen, saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.
Sarah menyatakan siap dengan perubahan dari suami ku ini.
Mas Satria, memperoleh momongan bukan hanya tekanan keluarga mu.
Akan tetapi murni dari kerinduanku sebagai istri mu untuk segera memiliki anak dari mu mas.
Apapun akan Sarah lakukan demi mendapatkan momongan asalkan tidak melanggar hukum agama yang kita anut dan tidak melanggar undang-undang dasar negara kita dan terlebih-lebih atas restu mu mas Satria."
Mas Satria langsung memelukku dengan begitu eratnya, badan ku yang masih terasa sakit seperti sudah sembuh total.
"mas....mas....
__ADS_1
Sarah ngak bisa napas."
Akhirnya mas Satria melepaskan pelukannya, dokter Supriadi dan perawat itu tertawa karena melihat tingkah mas Satria yang malu-malu.
"bagaimana pak Satria? apakah kita bisa melakukannya?"
"saya siap dokter....
dok, saya melihat istriku seperti kesakitan setelah mendapatkan suntikan pemicu hormon itu.
Berapa lama rasa sakit itu dok?"
Terharu rasanya, karena mas Satria menyadari apa yang aku alami saat ini, walaupun aku berbohong kepada-nya dan mengatakan kalau diriku dalam baik-baik saja, ternyata mas Satria menyadari rasa sakit yang aku alami.
"terimakasih pak Satria, terimakasih atas perhatian bapak terhadap bu Sarah istri bapak.
Pemicu hormon itu berfungsi untuk mematangkan sel telur bu Sarah, dan jika sel telur itu tidak segera dibuahi, maka akan jatuh sendiri nya. hal itu biasa disebut menstruasi dan berakhirlah rasa sakit itu.
Paling cepat empat jam dari sekarang, dan sebentar lagi efek ngilu yang dirasakan oleh bu Sarah akan segera hilang.
Karena kita belum bisa melanjutkan proses bayi tabung, nanti bu Sarah akan suntik vitamin agar bisa meredakan sakit.
Tadi kami melakukannya karena masih tahap menunggu hasil pemeriksaan sel spe*ma pak Satria."
Lalu dokter Supriadi meminta perawat untuk menyuntikkan vitamin terhadap Ku. lalu bertanya bagaimana dengan kondisi mas Satria pasca operasi pengambilan sel spe*ma.
Mas Satria menjawabnya, dan jawabannya sama seperti ketika menjawab pertanyaan ku barusan.
"baiklah, ibu Sarah sudah mendapatkan suntikan.
Berhubung pak Satria sudah jauh lebih baik sekarang, apakah kita bisa memulai prosedur nya pak?"
"Saya siap dokter."
"luar biasa semangat nya pak, suntikan ini akan memiliki efek samping, sedikit pegal dan terasa ngilu pada tulang persendian.
apakah bapak siap?"
"siap dokter."
Jawab mas Satria dengan begitu semangatnya, seketika seluruh sakit dalam tubuh ini hilang karena aura semangat dari mas Satria.
Kami berdua di tuntun oleh perawat untuk keluar dari ruang rawat ini untuk menuju suatu ruangan.
__ADS_1