PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Kecewa.


__ADS_3

POV Friska.*


"Mpok Surti....mpok........"


"apa sih ma teriak-teriak? disini ngak ada mpok Surti."


"oh.....


Mama lupa, mana sarapan mama?"


"meja makan, tadi Rizal beli nasi lemak di depan komplek."


"nasi lemak dari warung depan komplek itu? warung yang jorok dan sarang tikus.


Mama ngak mau, pesan aja makanan enak dari cafe atau restoran terdekat sini."


"uang Rizal sudah habis untuk biaya klinik mama tadi malam dan juga Rizal belum gajian.


Kalau ngak, mama masak aja. di kulkas banyak bahan makanan."


"kok nyuruh mama masak? kemana istrimu? atau istrimu itu ngak bisa masak?"


"Istriku jago masak, tapi istiku lagi rumah orangtuanya karena mama tidur di kamar kami."


"ini ngak bisa dibiarkan Rizal, istri itu harus nurut kata suami.


mertua mu itu pun keterlaluan, bisa-bisa kamu hanya menjadi karyawan rendahan dengan gaji yang ala kadarnya.


Jangan bodoh Rizal, kamu berhak atas segalanya.


Lagipula istri mu anak tunggal dan tentunya semua harta orang tua nya akan jatuh ke tangan istrimu.


Kamu memperdaya Istrimu, buat dia bertekuk lutut dihadapan mu.


Jangan mau dikuasai oleh istri, kamu itu laki-laki dan harus lebih tegas.


Mama akan membantumu untuk mewujudkan semua keinginan mu, asal Rizal nurut semua perintah mama."


Rizal mengganguk dan kemudian menatap wajah mama nya.


"gitu dong baru anak mama.....


Sekarang telpon istrimu, dan ajak dia untuk ikut melabrak si Sarah."


Rizal mengganguk pertanda mengabulkan permintaan mama nya.


Kemudian meraih handphonenya dan menghubungi istri.


Hanya sebentar saja panggilan itu, dan Rizal tersenyum ke arah mama nya.


"Desi sudah dijalan ma, sebentar lagi nyampe ke sini."


"bagus...


itu pertanda kalau Desi tidak bisa kehilangan kamu dan pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin.


Mama mau siap-siap dulu, Rizal ikut dengan kami kan?"


"ngak bisa ma....


Rizal harus kerja, ntar dipecat lagi. terus Rizal menafkahi Desi pakai apa?"


"ngak usah takut Rizal, istrimu itu anak orang kaya. pasti menyimpan banyak uang, jadi kamu tenang aja.

__ADS_1


pokoknya nurut sama mama, gunakan semua uang istrimu, ngapain kerja rendahan seperti itu?"


Rizal berhasil di provokasi oleh mamanya, dan hanya nurut dengan semua permintaan mama nya.


Rizal keluar dari kamar yang ditempati mama nya, yang seharusnya itu adalah ruang pribadinya bersama Desi istrinya.


Tidak berapa lama Desi sudah datang dan duduk di sofa ruang tamu.


"Mas ngak kerja?"


"ngak Desi, kita harus menemani mama untuk melabrak si Sarah."


"jangan gitu mas, biarkan ibu mengurus urusannya dan mas kerja.


Ingat mas, sebentar lagi aku melahirkan. terus kita pakai apa buat melahirkan nanti?"


"gampang itu sayang, mintak aja sama ibu dan bapak.


kamu kan anak tunggal, pastinya dong akan diberikan semuanya."


"kok ngomong gitu mas, mabuk ya mas?"


tak...tak....tak... tak.... tak... tak.....


Bunyi sepatu dari sang mertua membuat Desi berhenti bicara.


"apaan sih? berisik benar."


"mas Rizal ngak berangkat kerja bu, malah ngelantur bicara nya."


"Desi tuh yang ngelantur, orang tua mu kan kaya raya, jadi buat apa suami mu kerja rendahan seperti itu."


"tapi bu...."


jangan berdebat lagi, sekarang kita ke rumah Satria, tapi sebelum itu kita sarapan di restoran hotel, karena menu sarapan disana enak-enak dan tentunya higenis dan bervitamin."


"lah...


kok restoran hotel? keuangan kami terbatas bu, dan mas Rizal belum gajian.


adapun simpanan Desi, itu untuk persiapan lahiran nanti."


"bohong kamu, tuh pakaian bayi sangat banyak, itu artinya kamu banyak uang.


ngak usah protes, sekarang kita perlu dan pesan taksi online.


Pilih hotel Tamara, karena menu sarapan di restoran hotel enak.


c...e...p....a....t........"


Rizal membujuk istrinya untuk memenuhi semua keinginan mama nya dan Desi melakukan perintah suaminya.


Hanya menunggu beberapa menit, taksi online yang dipesan oleh Desi sudah tiba di depan rumah, segera mereka naik mobil itu untuk menuju hotel Tamara.


Berhubung masih pagi hari dan tentunya jalanan padat, dan butuh waktu dua puluh menit lebih agar tiba di hotel Tamara.


Rizal dan istrinya mengikuti Friska dari belakangnya dan langsung menuju restoran.


"saya pesan ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini, minuman nya teh hijau hangat aja."


"baik bu, mohon di tunggu ya."


Desi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ibu mertua memesan banyak makanan.

__ADS_1


"ngak kebanyakan bu?"


"Diam aja deh, itu aja komplain, aneh...."


Desi terdiam dan mengelus perutnya yang sudah membesar.


"mas....


Desi sudah mintak izin ke Papa, agar mas Rizal tidak masuk kerja hari ini.


Dengan alasan untuk menemaniku medical cek up, mas telah mengajarkan Desi untuk berbohong.


Desi harap hal seperti ini tidak terulang lagi ya, besok mas harus kerja, agar mas Rizal bisa mendapatkan kepercayaan Papa."


"hebat benar Papa mu itu, dengar ya Desi. suami mu ini bukan pencuri atau perampok.


Sampaikan sama Papa mu, supaya jangan sok mendikte Rizal.


Apa kamu tega melihat suami mu kerja rendahan?"


"mau gimana lagi bu, mas Rizal harus belajar dari bawah dulu.


ngak ada yang instan dan semua...."


"bacot....diam dulu ya, ibu mau makan."


Ujar Friska kepada menantunya, karena pesanannya sudah terhidang diatas meja.


Hanya Rizal dan mama nya yang makan dengan lahap, sementara Desi tidak ikut makan.


Alasannya sudah makan terlebih dahulu di rumah orangtuanya.


Selesai sarapan dan Friska meminta bill nya dan langsung menyerahkan bill itu kepada Desi.


"tujuh juta mbak? ngak salah hitung ini?"


"ngak usah banyak nanya Desi, gesek aja pakai kartu kredit mu."


Desi menghela napas panjang, dan meminta mesin edisi kepada pelayan itu.


"limit harian kartu kredit ini hanya lima juta, nanti bayar tiga juta dari kartu kredit dan sisanya dari kartu debit ya mbak."


"baik ibu."


Jawab pelayan itu dan mulai transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit.


"maaf bu, kartu kreditnya sudah over limit. bisa kah memakai kartu debit nya aja?"


Desi langsung meraih handphone Rizal dan mengecek akun platform online shopping.


"mas....


kartu kredit khusus untuk keperluan bayi kita, masih ada beberapa lagi yang harus kita beli. mas Rizal kok langsung memakai kartu kredit ini?


beli pakaian perempuan lagi, untuk siapa mas?"


"untuk mama lah, kasian mama ngak bawa pakaian ke rumah."


"mas kan bisa ngomong sama Desi, biar kita beli sama-sama atau kita ambil pakaian ibu dari rumah mbak Sarah."


Desi meneteskan air matanya lalu memberikan kartu debit nya ke pelayanan itu.


Setelah transaksi berhasil mereka langsung pergi, tujuan adalah melabrak Sarah.

__ADS_1


__ADS_2