PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Mengungkap Uneg-uneg.


__ADS_3

Suara-suara sumbang itu berakhir dan mas Satria sudah masuk ke kamar ini, akan tetapi wajahnya begitu murung.


"mas mempercayai Neni."


"maksudnya gimana mas?"


Tatapan itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa mas Satria mengakui anak yang di kandung mantan istrinya adalah anak kandungnya.


"anak yang kandung Neni adalah anakku, dan mas akan segera menikahi nya, mas tidak ingin anak itu tidak memiliki ayah, padahal ayah nya masih hidup.


Neni sedang mengandung anakku, dan anak itu adalah laki-laki yang menjadi penerus mas kelak nanti.


Sementara embrio yang tertanam di rahim mu belum tentu berhasil, mas butuh anak Sarah."


"apa yang membuat mas begitu yakin kalau anak yang dikandung oleh Neni adalah anak kandung mas sendiri?"


"ibu dan Neni sudah melakukan tes DNA terhadap janin itu dan fix bahwa janin itu adalah calon anak ku."


"Sarah memang pernah mendengar bahwa janin dalam kandungan bisa dilakukan pengujian tes DNA.


Amniosentesis atau CVS (Chorionic Villous Sampling), yaitu pengambilan sampel air ketuban serta cairan dari plasenta untuk menguji DNA.


Tapi itu berisiko tinggi, biasanya harus persetujuan kedua belah pihak, yaitu pihak yang mengandung anak dan ayah yang dipercayai sebagai ayah kandungnya.


amniosentesis atau CVS (Chorionic Villous Sampling) dilakukan di rumah sakit tipe A, dan rumah sakit Lila termasuk salah satunya.


Apakah mas melihat di rumah sakit mana Neni dan ibu melakukan uji DNA itu?"


"cukup Sarah, itu artinya kamu meragukan Ku?"


Dengan air mata yang berlinang, aku menatap tajam ke arah mas Satria.


"jelas Sarah meragukannya, yang pertama. bahwa semua keturunan laki-laki dari pihak ayah mu itu mengalami Spermatozoa dan juga Teratozoospermia termasuk mas sendiri.


Spe*ma kalian cacat sehingga gagal membuahi sel telur.


Mas tahu ngak kenapa si Neni selingkuh dengan laki-laki lain?


Karena mas tidak sanggup memuaskannya, mas itu lemah dan burung mu susah bangun mas.


Baru saja masuk sudah lemas, hanya membuat geli saja.


Mas Satria merasa hebat? ngak mas....


kamu itu letoy, barang mu lemas dan tak berdaya.

__ADS_1


Jika Sarah merasa geli, itu hanya karena jamu yang saya berikan kepada mu.


Jika mas bertahan selama beberapa menit, itu karena jamu yang aku buat dengan dua dosis.


Walaupun sudah dua dosis, dan itu hanya mampu mengantar anu mu sampai ke dalam dan langsung muntah lalu lemas.


Om kamu di Farhat juga demikian, kedua anaknya itu bukan anak kandungnya. karena om kamu itu sama seperti ayah mu dan mas sendiri.


Jangan merasa gagah, sebab mas tidak sanggup memenuhi hasrat istri sendiri.


Saya menahannya mas karena saya mencintai mu, cinta yang tidak hanya memandang se*s sebagai kebutuhan.


Kamu itu bisa lahir ke dunia ini berkat bantuan medis, bayi tabung mas.


Tiga percobaan barulah kamu lahir ke dunia, sadar mas, sadar."


Akhirnya keluar semua uneg-uneg yang sudah terpendam di hati.


Mas Satria hendak menampar Ku, tapi niat itu urung, dan raut wajahnya yang menggambarkan kemarahan.


"terserah kamu ngomong apa, yang jelas saya akan menikahi Neni secara resmi dan nanti nya dia akan ditinggal disini dan juga ibu.


Agar ibu bisa memastikan kesehatan calon anak ku itu, saya harap kamu bisa akur dengan Neni. karena mulai besok pagi, Neni dan ibu akan tinggal di rumah ini."


"kalau begitu biar Sarah yang mengalah, saya dan Adam akan pindah ke rumah peninggalan orang tua kami.


Tunggu sampai anak lahir, dan sesegera mungkin Sarah akan gugat cerai.


Mas tenang aja, mengenai perjanjian itu. aku pura-pura tidak pernah menandatanganinya agar kamu bisa melepaskan Ku.


Saya tidak akan melayani mu di ranjang lagi, karena saya takut ketularan virus jahanam itu."


"apa maksud dengan menyebut virus jahanam?"


"anak haram ayah mu, yaitu Lyra sudah mengidap HIV-AIDS karena pergaulan bebasnya, dan terakhir Neni melakukan hubungan seksual dengan pasangan Lyra yang mengidap virus jahanam itu.


Kamu dan keluargamu aja yang akan tinggal disini dengan manusia pembawa virus jahanam itu.


Saya harap kita tidak pernah bertemu, selain di pengadilan jika anak sudah lahir.


mpok..... mbak.....pak Imran......"


Aku tahu mereka bertiga menguping pembicaraan kami, itulah sebabnya aku memanggilnya.


Benar saja, mereka bertiga langsung masuk ke kamar ini.

__ADS_1


"mpok.....


apakah ketiga perempuan itu makan atau minum di rumah ini?"


"iya neng, makanya kami ngak ada yang membersihkannya.


kemarin itu ya, neng Desi datang kemari dan berkata kalau Lyra dan juga perempuan itu itu tuh mengidap HIV.


Si Rizal pasti akan mengidap virus itu, karena anak itu teh sudah berhubungan suami istri dengan kawanan si Lyra."


"mpok...


emangnya kenapa kalau kita bergabung atau satu rumah dengan orang-orang pengidap virus itu?"


"parah atu Tika, menurut kata neng Desi ya, virus itu adalah pembawa penyakit haram yang belum ada obatnya.


Bisa menular ke yang lainnya, bagiamana kalau kita menularkan ke anak cucu kita?


berabe urusannya, dan lagi pula ya. apa yang dikatakan oleh neng Desi sama seperti yang dikatakan anak gadis mpok yang sekarang sudah dokter umum.


Waktu itu ya, anak gadis mpok itu pernah di tempatkan di rehabilitasi orang-orang yang mengidap virus jahanam itu.


Anak gadis mpok itu stres, karena setiap si neng kerja harus serba hati-hati agar tertular virus itu dan memakai perlengkapan medis yang membuatnya susah bergerak.


Pokoknya bahaya....."


Penjelasan dari mpok Surti membuat mereka semakin ketakutan.


"neng Sarah....


maaf ya tadi kami ngak sengaja menguping, itu mengenai kejantanan nak Satria.


Dulu juga mendiang ibu Lila mengeluh hal yang sama, makanya mpok meracik jamu kejantanan.


Akan tetapi si ibu teh melebihkan dosis nya, alhasil membuat si bapak beringas dan akhirnya selingkuh.


Mengenai Sinta dan Danu anak nya si Farhat itu, memang benar kalau kedua anak itu bukan anak kandungnya Farhat.


Kalau Sinta itu anak dari sepupu Dewi, kalau si Danu ngak jelas siapa ayahnya tapi Danu dilahirkan oleh Dewi.


Si Farhat itu teh sama seperti si bapak, ayah mertua mu neng, istilahnya mandul.


Dulu pernah di Farhat mintak dana ke mendiang untuk bayi tabung, tapi di tolak.


Mpok juga yang menemani mendiang di klinik waktu proses bayi tabung itu, dan akhirnya lahirlah nak Satria."

__ADS_1


Wajah mas Satria terlihat semakin merah, mungkin karena malu karena masalah kejantanan yang di bahas.


__ADS_2