
POV Friska.*
Kini Rizal terduduk di kursi, pikiran melayang dan bingung harus berbuat apa, sementara istrinya pulang ke rumah orangtuanya.
"Mama mau istrihat, keluar lah nak."
Pinta mamanya, dengan berjalan sempoyongan Rizal meninggalkan mama nya di kamar pribadinya bersama istrinya.
"hanya satu juta rupanya, gayanya selangit. sok kaya aja si belagu itu.
Mungkin Desi menyimpan uang cash di kamar ini, coba dulu aku periksa."
Friska bicara dengan dirinya sendiri dan mulai menggeledah laci meja rias menantunya.
"ah....
dapat juga uang segepok, mungkin adalah sepuluh juta ini, dasar menantu pelit."
Ucapannya lagi dan kemudian menggeledah laci yang lain tapi tidak menemukan apapun.
Tiga lemari yang lumayan besar dan Friska mulai membuka lemari yang pertama.
"banyak juga pakaian Rizal, tapi ngak ada apa-apa, dasar miskin.
lemari yang di tengah dulu....
apa?....
hanya pakaian bayi? belum juga anak nya lahir tapi pakaiannya sudah banyak gini, pemborosan.
Uang membeli pakaian bayi ini bisa untuk ku, dasar menantu sampah.
Mungkin lemari yang tempat pakaian Desi sekaligus tempat menyimpan uang nya."
Friska mengarah ke lemari yang terakhir, lemari itu jauh lebih besar dari lemari sebelumnya dan bercat warna pink.
"sok cantik pake warna pink segala, tapi......
kok tertutup ya, kuncinya kemana nih....."
Friska kemudian menggeledah laci meja perhiasan menantunya dan tidak menemukan yang dicarinya.
"ah..... buku nikah, ini aja ku ambil dan nanti mintak tebus ke Desi.
ah.... kok kaki ini tiba-tiba perih ya....."
Ternyata dengkulnya yang terluka masih mengeluarkan darah.
"Rizal...... Rizal...... Rizal......."
Friska berteriak memanggil anaknya, dengan napasnya yang ngos-ngosan dan akhirnya Rizal tiba di kamar pribadinya bersama istrinya yang di tempati oleh mama nya.
"kenapa kaki mama berdarah? kita ke klinik aja, kebetulan di dekat komplek ini ada klinik yang buka dua puluh empat jam."
"kok klinik? rumah sakit aja."
"Mama ngak usah bawel, yang penting sekarang mama mendapatkan perawatan medis."
__ADS_1
"Rizal..... Rizal....."
Friska berteriak karena digendong oleh anaknya, yang memaksanya untuk segera ke klinik.
"rumah sakit ya Rizal, jangan ke klinik. Mama ngak sudi ke klinik."
Rizal hanya terdiam tanpa menanggapi perkataan mama nya dan terus berlari dengan menggendong mama nya.
"kok klinik?"
Tanpa menanggapi ocehan mama nya, Rizal terus membawa mama nya ke dalam klinik kemudian langsung dibantu oleh perawat.
Rizal langsung menaikkan mama nya ke ranjang kecil itu, dan perawat yang membantunya meneken bel di dekat ranjang tersebut.
Kemudian menyiapkan alat-alat medis, tidak berapa lama dokter laki-laki datang menghampiri mereka.
"Semua peralatan sudah lengkap ya Dok, sepertinya pasien terluka di area dengkul kanannya."
"terimakasih ya Nana, gunting...."
Mamanya Rizal hanya terdiam, dan dokter itu bereaksi lalu menggunting celana berbahan katun tersebut mulai dari area paha.
"tahan ya bu, saya mencabut pecahan kaca di belakang dengkul ibu ini, tahan ya bu.....
satu....dua.... ti.....ga......"
"a......a.......a...... ah......ah......"
Teriakan itu semakin kuat, ketika dokter selesai mencabut pecahan beling itu dan membersihkan area luka.
Rizal bertanya karena dokter itu berhenti membersihkan area lukanya, lalu menatap Rizal dengan tatapan yang curiga.
"bapak siapa nya pasien?"
"anak kandungnya dok, emangnya kenapa dokter?"
"banyak memar di tubuh pasien, lihat kaki kirinya dan juga pundak. itu seperti bekas darah.
Jidat pasien kelihatan bendol, dan kedua tangannya seperti ada goresan beda tajam serta memar.
Kenapa ibu anda seperti ini?"
"kurang tahu pasti dok, yang jelas mama dan papa ku berantam."
"kita periksa secara menyeluruh ya? jika nantinya saya akan rujuk ke rumah sakit terdekat atau rumah sakit pilihan bapak."
"silahkan dokter, yang penting mama mendapatkan perawatan medis."
"terimakasih pak....
Nana.... tolong ganti pakaian pasien ya, kalau sudah selesai panggil saya."
"baik dok...."
Tirai di tutup, dokter bersama Rizal menunggu di balik tirai tersebut.
"sudah siap dok."
__ADS_1
Ujar perawat itu dan membuka kembali tirai tersebut.
"silahkan berbaring ibu, klinik ini sudah dilengkapi dengan scanner body. tapi saya memeriksa keadaan ibu terlebih dahulu ya."
Friska hanya mengganguk dan dokter bersama perawat itu melakukan tugasnya, mulai dari kaki hingga kepala.
Lumayan lama juga dokter dan perawat itu memeriksanya, lalu meminta Friska untuk tengkurap.
"haaaaa......"
Dokter menghela napasnya, mungkin karena melihat punggung pasiennya yang dipenuhi dengan luka dan lebam.
"sesuai dugaan, punggung, bokong dan betis ibu penuh luka dan memar, tahan sedikit ya bu, karena ini akan perih."
Satu jam lebih, dan akhirnya dokter dan juga perawat bernapas lega, kemudian memasang infus, dan juga menyuntikkan sesuatu hingga dua kali suntikan ke tubuh Friska melakukan bokong nya.
"saya sudah menyuntikkan anti tetanus dan vitamin ke tubuh ibu, setelah infus ini habis baru ibu bisa pulang."
"terimakasih dokter, apakah ada tindakan lainnya dok?"
"tidak perlu pak, lukanya sudah bersih dan luka di bagian betis itu sudah di jahit empat saja.
Selebihnya sudah bersih dan di balut, besok datang lagi untuk membuka pembalut luka nya, tapi jika bapak bisa dan bersedia membuka dan membersihkan luka nya ngak apa-apa."
"ke sini aja lah Dok, saya kurang paham dan sekaligus belajar nantinya.
lalu bagaimana dengan luka jahitan kaki mama Ku Dok?"
"akan menyatu dengan daging nantinya, hanya perlu di bersihkan setelah pembalut nya di ganti."
Sepertinya Rizal sudah paham akan penjelasan dokter, dan setelah infus terpasang, Rizal langsung di arahkan ke administrasi.
Selesai membayar biaya administrasi nya, Rizal menemui mama nya yang masih berbaring di ranjang.
"apa yang sebenarnya terjadi ma? kenapa tubuh mama bisa memar dan terluka gitu?"
"karena si Sarah mengusir kami dari rumah dan juga set perhiasan yang di ambil paksa oleh Sarah dari mama."
"diambil paksa? "
"iya Rizal, kamu ngak percaya sama mama lagi?
Sarah juga mengatai Lyra sebagai perempuan mandul permanen, memang perempuan itu sudah keterlaluan."
Antara percaya dan tidak percaya, itulah yang di alami oleh Rizal dan tentunya membuatnya menjadi dilema.
"selama ini, Papa mu ngak pernah memukul mama, tapi setelah mas mu menikahi Sarah dan semuanya berubah.
Papa mu selalu membela Sarah, hanya karena Sarah berhasil menyogok Papa mu dengan uang nya.
Sarah sengaja mengoyak dokumen agar Lyra mendapatkan diskon biaya rumah sakit dan Papa mu saat itu menampar mama.
Wajah licik itu terlihat jelas ketika papa mu menampar mama dihadapan nya dan Sarah juga berhasil memperdaya Satria agar nurut kepadanya.
Perempuan itu benar-benar iblis dan sangat berbahaya."
Sepertinya emosi Rizal sudah mulai tersulut dan itu jelas terpancar dari sorot matanya.
__ADS_1